Feature & Figur

Candra Malik: Sosok, Karya dan Kehidupan Sang Begawan

Candra Malik, Budayawan, Seniman serba bisa, sang begawan multi talent dengan banyak karya ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi PBNU) untuk periode 2015-sekarang. Siapa sosok Candra Malik? Bagaimana kiprahnya di jagat kebudayaaan, seni, sastra dan publikasi nya?

Sosok dan Kiprah Candra Malik

Dia dilahirkan di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Maret 1978; Disamping pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namanya akrab dikenal khalayak sebagai sastrawan, wartawan, penyanyi lagu reliji, pemeran film, penulis sejumlah kolom di berbagai media massa, dan pencipta lagu reliji.

Sejumlah karya sastra Candra Malik pernah dipublikasikan di berbagai media massa antara lain Kompas, Majalah Sastra Horison, Koran Tempo Minggu, Suara Merdeka, Suara Karya, Majalah Femina, dan lain-lain. Lagunya, Syahadat Cinta menjadi original sound track (OST) Cinta Tapi Beda, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo (2013).

Sosok dan Kiprah Candra Malik

Sejak usia muda, Candra Malik sudah mengakrabi dunia spiritual utamanya ritual-ritual tasawuf. Dia belajar agama dari Abdullah Ali. Ia juga mengaji kepada Habib Ja’far bin Badar bin Thalib bin Umar bin Ja’far, guru dari kakeknya, di Surakarta, Jawa Tengah. Pada 1993, Candra lebih mendalami lagi ilmu tasawuf dengan belajar kepada Kiai Muhammad Muna’am Jember, Jawa Timur.

Sambil bekerja sebagai wartawan di surat kabar Jawa Pos pada akhir 1999 di Yogyakarta, Candra menimba kearifan sufisme dengan belajar kepada Syekh Ahmad Sirullah Zainuddin, wakil talqin dari Tarekat Qadiriyyah Naqsabandiyah, sebelum akhirnya pada 2001 belajar langsung kepada mursyid tarekat tersebut, yaitu K.H. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya Jawa Barat.

Sejak berhenti dari Jawa Pos dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Liputan Indo Pos, Jawa Pos di Jakarta, Candra Malik bekerja sebagai kontributor di sejumlah media cetak antara lain, Tabloid Nyata, Majalah ART Indonesia, Majalah Travel Lounge, The Jakarta Globe, dan mengasuh sebuah kolom tentang sufisme di Solo Pos, sebuah koran lokal di Jawa Tengah, bertajuk Matahati, di rubrik Khazanah.

Baca Juga : Radhar Panca Dahana (Budayawan Sastrawan) Tutup Usia

Sembari terus menulis, Candra Malik juga mengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah, di Desa Segoro Gunung, di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kedekatannya dengan kalangan agamawan-budayawan memudahkan langkah Candra untuk melibatkan Wakil Rais Syuriah PBNU K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam produksi album religi. Cak Nun menulis khusus sajak Mukaddimah Cinta untuk album Candra ini dan membacakannya dalam track pembuka, sedangkan Gus Mus membacakan sajak Pesona dalam track penutup. Dalam album ini, Candra juga memasukkan rekaman vokal K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam lagu Syahadat Cinta.

Candra Malik Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah Karanganyar

Dukungan lain datang dari Bondan Winarno, wartawan senior kini berkiprah dalam dunia kuliner. Berkat Bondan, Candra menembus sejumlah nama besar dalam belantika musik Indonesia, di antaranya, violis Idris Sardi dan komponis Addie MS. Dalam album ini, Idris Sardi mengaransemen dan bermain biola dalam orkestrasi lagu Kidung Sufi, bersama Gus Mus. Addie mengaransemen lagu Shiratal Mustaqim dan memimpin Twilite Orchestra memainkan lagu tersebut, didukung oleh Tohpati.

Baca Juga : Diskusi Sastra, Bincang Buku “Baju Baju Yang Tertinggal”

Nama-nama besar lainnya adalah Dewa Budjana yang mengaransemen dan bermain gitar dalam lagu Jiwa yang Tenang, Trie Utami ikut bernyanyi dalam dua lagu, Fatwa Rindu dan Fana Selamanya. Sedangkan Sujiwo Tejo berkolaborasi dengan rapper Marzuki Mohamad Kill The DJ (Jogjakarta Hip Hop Foundation) dan penyanyi reggae Heru Shaggydog dalam lagu Samudera Debu.

Walau tak lagi bersama Almarhum Almagfurlah Prie GS, Candra Malik tetap istiqomah mengisi dan menghiasi acara “Humor Sufi” di kanal YouTube COKLAT TV dan mengundang sejumlah tokoh nasional.

Karya Candra Malik

Kekaryaan Album Vidio Musik terdiri dari : Kidung Sufi Samudera Cinta (2012); Kidung Sufi Doa-Doa (2013)
Rindu Cinta (2014)

Single Musik Religinya antara lain, Kekasih (2013); Kebahagiaan Cinta (2013); Orang Indonesia (2013); Kalah Oleh Waktu (2013); Bangsa Indonesia (2013); Kidung Hidayat Jati (2013); Akulah Penguasa (2013); Main Sepeda (Arane Langit Manikmaya) (2013); Umat Manusia (2013); Ternyata Tak Merindu (2013); Tuhan Kita Semua (2013)

Jingle Lebaran Metro TV; Matahati (2012); Senandung Kemenangan (2013); Mari Bersalaman (2014)

Video musik karya Candra Malik antara lain; Seluruh Nafas (Jojo, Replace)(2013), Fatwa Rindu (Triyanto Hapsoro, Sanggit Citra Films)(2013), Samudera Debu (Syams Rezki) (2013); Syahadat Cinta (Hestu Saputra, Dapur Film) (2013); Shirathal Mustaqim (Gatra Yudha) (2014); Akulah Penguasa (Triyanto Hapsoro, Sanggit Citra Films) (2014)

Video pertunjukan: Orang Indonesia feat Iwan Fals (Muhammad Revaldi, 2013); Umat Manusia feat Slank (Muhammad Revaldi, 2014).

Original sound track; Syahadat Cinta—Cinta tetapi Beda (Hestu Saputra & Hanung Bramantyo, MVP Pictures & Dapur Film, 2012); Luntang-Lantung—Luntang-Lantung (Fajar Nugros, Maxima Pictures, 2014); Berlari Jauh—Sepatu Dahlan (Benny Setiawan, Mizan Production, 2014)

Kolaborasi

  1. Kidung Sufi Samudera Debu (Album dan Konser, Jakarta, 2012)
  2. Humor Sahur (Talkshow Metro TV)
  3. Ngabuburit Ramadhan (Konser 11 Titik, Jakarta & Jawa Barat, 2013)
  4. Kidung Hidayat Jati (Single, Brisbane, 2014)
  5. Tuhan Kita Semua (Single, 2014)
  6. Asia Tri Japan Festival 2014 (Katsuragawa, Japan, 2014)Energy for Life feat ade ishs (EP, 2015)

Pertunjukan; Sabda Cinta Management Awanbiru Production Reza Al Faruq

Scoring & casting film

  1. Pelantun Al Qur’an—Film Hari Ini Pasti Menang (Andi Bachtiar, Bogalakon Pictures, 2012)
  2. Pemeran Pembantu—Film Soekarno (Hanung Bramantyo, MPV Pictures, Dapur Film, 2013)
  3. Pemeran Pembantu—FTV Garis Finish (Hestu Saputra, Kompas TV, Serambi Set, 2013)
  4. Penata Musik Terbaik Piala Vidia FFI 2014 untuk FTV Garis Finish (Hestu Saputra, Kompas TV, Serambi Set, 2013)

Program televisi dan radio

  1. Host talkshow Humor Sahur 30 Episode, Metro TV, Jakarta (2012)
  2. Host talkshow Rumah Hati TV 9 Nusantara, Surabaya (2014)
  3. Tausiah Filosufi 30 Seri Serentak 35 Radio se-Indonesia (2014)
  4. Santri Bernyanyi, Forum Komunikasi Alumni Pondok Pesantren (2013 – sekarang)
  5. Kelas Sufi (2012 – sekarang) Pesantren Asy Syahadah, Surakarta, Jawa Tengah (2005 – sekarang)
  6. Kuliah Umum Islam, Musik, dan Spiritualitas di Monash University dan Victoria University, Melbourne; dua universitas di Brisbane, serta dua universitas di Perth, Australia (2014)

Bibliografi Karya Sastra Candra Malik

Bibliografi Karya Sastra Candra Malik

  1. Makrifat Cinta (Noura Books, Mizan, (2013)
  2. Menyambut Kematian (Noura Books, Mizan, (2013))
  3. Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu (Muara, Kepustakaan Populer Gramedia, 2014)
  4. Komik Gus Sufi (Muara, Kepustakaan Populer Gramedia, 2014)
  5. Ikhlaskanlah Allah (Muara, Kepustakaan Populer Gramedia, 2014)
  6. Kolom Tetap (Koran Solopos dan Majalah Onlie MALE)
  7. Makrifat Cinta
  8. Menyambut Kematian
  9. Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu Ikhlaskanlah Allah

Sang Begawan Candra Malik

Adalah Gus Can, sapaan akrab Candra Malik oleh Sastrawan sekaligus Profesor Budi Darma, ditahbiskan sebagai Sastrawan Sufi, sejak menerbitkan sebuah buku sastra berjudul Sekumpulan Cerita Pendek Mawar Hitam pada 2015. Buku berjudul Surat Cinta dari Rindu ini merupakan kumpulan puisinya yang kedua setelah Sekumpulan Puisi Asal Muasal Pelukan pada 2016, dan buku kesepuluh yang telah ditulisnya.

Gus Can adalah seorang sufi yang bergiat di bidang ke susastraan, kesenian, kebudayaan, dan kespiritualan. Pengalaman jurnalistik di sejumlah media cetak nasional, berbahasa Indonesia dan Inggris selama satu dasawarsa mendorongnya kreatif dan produktif menulis.

Selain puisi dan cerita pendek, Gus Can juga telah menerbitkan kumpulan haiku bertajuk Fatwa Rindu, Cinta 1001 Rindu, dua novel, yaitu Mustika Naga dan Layla, dan sebuah buku kumpulan esai berjudul Republik Ken Arok. Dalam berkesenian, Gus Can mulai hadir dengan melahirkan sebuah album religi berjudul Kidung Sufi Samudera Cinta yang langsung menunjukkan keberagamannya dengan melibatkan belasan maestro dalam karya pada tahun 2012.

Sang Begawan Candra Malik

Disusul kemudian dengan album Kidung Sufi Doa-Doa yang dia garap di sela-sela tur konser dengan legenda hidup musik Indonesia, Iwan Fals, pada 2013. Setahun kemudian, Gus Can merilis Extended Play berjudul Energy for Life yang diproduksi di Melbourne, Australia. Di penghujung tahun yang sama, dia dianugerahi Piala Vidia untuk kategori Penata Musik Terbaik pada Festival Film Indonesia 2014. Pada 2017, Gus Can kembali hadir dengan album terbaru, yaitu Cintakustik.

Karya-karyanya dalam bermusik juga dapat dinikmati di sejumlah video musik. Gemar berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada siapa pun, Gus Can berkeliling ke pesantren-pesantren menyelenggarakan program Santri Bernyanyi. Dia pun tak segan untuk belajar kepada siapa pun, salah satunya dengan berkolaborasi dengan seniman dari berbagai genre di berbagai daerah.

Dia juga memanfaatkan tayangan televisi untuk menebarkan Cinta dan Kasih Sayang. Sejak 2017, Gus Can merintis majelis ngaji budaya bertajuk Suluk Badran di lingkungan kampung halamannya. Dia juga turut mendirikan organisasi profesi untuk penulis di tanah air, yaitu Satupena—akronim dari Persatuan Penulis Indonesia.

Kehidupan Gus Can memang lekat dengan spiritualitas tasawuf yang telah dia pelajari sejak kecil. Mulai mengenal dunia kebatinan Islam dari keluarganya, dia hingga kini masih terus belajar dari belasan mursyid. Sangat menyukai sowan kepada kiai dan ziarah kepada waliullah, Gus Can percaya kepada doa dan keberkahan manusia-manusia pilihan yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya itu. Makrifat Cinta, Menyambut Kematian, Ikhlaskanlah Allah, dan Meditasi, Mengenal Diri Kita Sendiri, adalah empat buku yang telah ditulisnya untuk mengabadikan pengetahuan, perenungan, dan pengalamannya di dunia spiritual.

Buku berikutnya, sebuah kumpulan catatan yang berjudul Mengislamikan Islam sebagai penanda usianya yang ke-40. Kini usianya menginjak 43 tahun, semoga diberikan kesehatan, kebugaran, kewarasan untuk meniti jalan istiqomah dan melanjutkan jalan sufinya. Dengan doa dan Salam.

Penulis : Imam Hamidi Antassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

14 − seven =

Back to top button