Arahan Ketum PBNU: Pesantren Harus Mandiri dan Melek Digital

NUCOM – Suasana khidmat sekaligus dinamis mewarnai gelaran Konsolidasi Organisasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Semingkir, Kecamatan Kroya, Sabtu (25/4/2026). Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, disambut antusias oleh jajaran pengurus NU se-Barlingmascakeb.
Di sela-sela acara, tim media Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Cilacap mendapat kesempatan istimewa untuk mewawancarai langsung Ketum PBNU. Fokus pembicaraan mengerucut pada satu tema besar: bagaimana masa depan pengembangan pesantren di bawah naungan Jam’iyah NU.
Dalam wawancara yang berlangsung hangat tersebut, Gus Yahya, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa penguatan pesantren bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari agenda besar transformasi organisasi. “Kita membangun sistem agar seluruh kegiatan NU, termasuk pesantren, bisa dikelola secara sistemik dan komprehensif,” ujarnya dengan tegas.
Salah satu terobosan yang tengah digodok PBNU adalah platform digital bernama Digdaya. Melalui program Digdaya Pesantren, PBNU menargetkan terbangunnya konektivitas antar pesantren dalam satu sistem nasional. Saat ini, sekitar 32 ribu pesantren yang berafiliasi dengan NU akan menjadi bagian dari ekosistem ini.
“Selama ini pesantren belum terhubung secara optimal. Maka kita bangun platform untuk menyambungkan semuanya dalam satu sistem,” jelas Gus Yahya. Platform ini diharapkan memudahkan masyarakat mengakses informasi pesantren sekaligus menjadi basis kebijakan berbasis data.
Tak hanya digitalisasi, PBNU juga mendorong peningkatan kapasitas SDM pesantren melalui literasi teknologi hingga kecerdasan artifisial (AI) yang kini menjangkau puluhan ribu santri dan guru di berbagai daerah.
Yang menarik, pesantren juga dilibatkan aktif dalam program nasional 1.000 Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini sudah 260 titik dapur beroperasi, 300 titik lain dalam pembangunan, dan lebih dari 1.000 titik sedang dalam proses verifikasi. “Ini menunjukkan antusiasme besar. Pesantren menjadi bagian penting dalam mendukung program strategis nasional,” imbuh Gus Yahya.
Baca Juga: Ketum PBNU Targetkan Manajemen Organisasi Berbasis Digital
Di sektor ekonomi, PBNU terus mengkampanyekan kemandirian pesantren berbasis ekonomi syariah. Pelatihan, penguatan jejaring usaha, hingga peluang kerja sama global tengah dirintis agar pesantren tidak hanya bergantung pada donasi, tetapi memiliki model usaha berkelanjutan.
Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan agar modernisasi tidak meninggalkan akhlak. “Tujuan pesantren bukan hanya mencetak orang pintar, tetapi membentuk kapasitas ilmu sekaligus akhlak santri,” tegasnya.
RMI PCNU Cilacap Sambut Arahan PBNU
Menanggapi paparan tersebut, Ketua RMI PCNU Cilacap, KH Ahmad Ashif, menyatakan rasa syukur dan optimismenya. Menurutnya, program digitalisasi, dapur MBG, dan ekonomi pesantren adalah peluang strategis bagi pesantren-pesantren di daerah.
“Momentum konsolidasi ini penting untuk memastikan pesantren di Cilacap tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan terhubung dalam sistem nasional PBNU,” ujar KH Ahmad Ashif.
Ia menegaskan, RMI PCNU Cilacap siap mengawal pendataan pesantren, penguatan kapasitas kelembagaan, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. “Kita jaga keseimbangan antara penguatan kapasitas modern dengan pelestarian nilai-nilai tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jamaah,” pungkasnya.
Kegiatan konsolidasi ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak pernah berhenti bergerak. Dari Cilacap, denyut nadi kebangkitan pesantren Indonesia terus berdetak. (RFK)





