Bagaimana Sih Cara Islam Membentuk Anak agar Baik Akhlaknya; Beradab, Beriman, dan Bertanggung Jawab

NUCOM — Menjadi orang tua bukan cuma soal menyuapi, memberi makan, dan menyekolahkan. Cara Islam memandang bahwa anak adalah amanah, titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Lantas bagaimana cara Islam Membentuk anak agar Baik akhlaknya; Beradab, Beriman dan Bertanggung Jawab.
Cara Islam dengan penuh teguh berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits, banyak nasihat yang sejalan dengan tauladan Nabi SAW dan sebagaimana prinsip psikologi modern: anak butuh rasa aman, teladan, komunikasi sehat, dan batasan yang jelas.
Psikologi Islam menggabungkan 2 hal: ilmu jiwa dan wahyu. Hasilnya? Pola asuh yang menenangkan hati orang tua dan menumbuhkan karakter anak.
Berikut 9 langkah praktis yang bisa langsung dipraktikkan:
1. Tanamkan Tauhid Sejak Dini.
Tauhid adalah fondasi. Sebelum diajarkan matematika dan ilmu pengetahuan lainnya, ajarkanlah dulu “Allah Maha Esa, Allah Maha Kuasa, Allah Melihat, Allah Mencipta.”
- Maha Pencipta (Al-Khaliq): Allah yang menciptakan manusia, langit, bumi, dan seluruh isinya dari ketiadaan.
- Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim): Allah yang memberikan rezeki dan rahmat kepada seluruh makhluk-Nya.
- Maha Mengetahui (Al-‘Alim): Allah mengetahui segala yang terlihat maupun yang tidak terlihat, bahkan apa yang ada di dalam hati manusia.
Caranya: Sisipkan kalimat sederhana saat momen harian. Lihat langit: “Siapa yang buat terang dan gelap nak? Allah.” Lihat Hujan: “Hujan deras, terdengar geledek dan petir, siapa yang mengatur nak? Allah.”
Anak yang kenal Allah sejak kecil akan punya “rem internal”. Saat dewasa, dia nggak gampang goyah karena dasarnya kuat.
2. Jadilah Teladan, Bukan Cuma Penceramah.
Anak itu peniru ulung. Ngomel, “jangan main HP” tapi ortu 24 jam scroll TikTok, WA-an, ya nggak nyambung.
Rasulullah SAW diutus untuk “menyempurnakan akhlak”. Mulai dari hal kecil: jujur saat transaksi, sabar saat macet, shalat tepat waktu.
Ingat: anak lebih percaya “apa yang kamu lakukan dan perbuat” daripada “apa yang kamu katakan”.
3. Komunikasi dengan Lembut dan Sabar, Bukan Bentakan.
QS. An-Nahl: 125: “Berserulah dengan hikmah dan nasihat yang baik”.
Psikolog anak bilang, otak anak saat dimarahi akan “freeze”. Dia nggak sampai dapat belajar, dia jadinya cuma takut.
Maka peluklah dan pegang bahunya, bilang pelan: “Nak, ibu/bapak tahu kamu kesal sampai-sampai kamu memukul. Tapi mukul itu nggak boleh. Yuk kita selesaikan baik-baik.” Lembut beda dengan memanjakan. Berkata lembut dan tegas dengan kasih.
4. Ajarkan Adab Sebelum Ilmu.
Ilmu tanpa adab sama dengan pisau tanpa sarung. Mulai dari adab sehari-hari: ucap salam, bilang “tolong” atau “maaf”, nggak nyela orang bicara, hormat ke yang lebih tua.
Adab ini fondasi akhlak mulia. Anak beradab akan disayang guru, dipercaya teman, dan kelak disegani masyarakat. Itu bekal hidup yang lebih mahal dari ranking 1.
5. Ajak Ibadah dengan Cara Menyenangkan.
Shalat, ngaji, puasa jangan langsung dipaksa “wajib!”. Ajak pelan-pelan. Shalat bareng, jadiin “jeda main”. Ngaji 1 ayat tapi dipuji habis-habisan. Puasa setengah hari dulu, buka bareng jadi “pesta kecil”.
Tujuannya: anak merasakan “ibadah itu tenang, bukan beban”. Kalau cinta ke Allah tumbuh, kewajiban akan dijalankan sendiri.
6. Kenalkan Konsep Halal-Haram Sejak Dini.
Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk melatih kesadaran. “Nak, ini halal jadi berkah buat tubuh. Itu haram, nanti badan jadi sakit-sakitan, dan Allah nggak suka.”
Anak yang paham batas halal-haram sejak kecil akan lebih kebal hoaks, narkoba, konten negatif, dan pergaulan bebas saat remaja. Itu bentuk “benteng iman” paling nyata.
7. Jangan Pelit Pujian dan Apresiasi.
Rasulullah SAW selalu memuji sahabat atas kebaikan sekecil apa pun. Anak juga begitu.
Jatuh bangun sendiri? “Masya Allah, kamu hebat!” Beresin mainan? “Ibu bangga kamu tanggung jawab.”
Pujian tulus bikin anak merasa dilihat, diperhatikan dan itu berharga. Anak yang merasa berharga nggak akan cari validasi ke tempat yang salah.
8. Seimbangkan Kasih Sayang + Kedisiplinan.
Kasih sayang tanpa batas bikin anak manja. Disiplin tanpa kasih jadi anak trauma.
Rasulullah tegas tapi tetap memeluk, mencium, dan bercanda dengan cucu. Terapkan “rule with reason”: ada aturan jelas, ada konsekuensi logis, tapi disampaikan dengan pelukan.
Contoh: “HP boleh 1 jam. Kalau lebih, besok nggak boleh. Ibu sayang kamu, makanya ibu jaga kamu.”
9. Jangan Lupa Senjata Terakhir: Doa.
Ikhtiar kita terbatas. Setelah mendidik, serahkan ke Allah. Doa orang tua, terutama ibu untuk anak itu mustajab, nggak ada hijabnya.
Rutinkan doa QS. Al-Furqan: 74: “Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun…”
Doakan anak jadi penyejuk hati, bukan sumber air mata. Doa ini yang akan “mengawal” anak saat kita nggak lagi di sampingnya.
Mengasuh anak model cara Islam intinya satu: “Didik hati dulu, baru akal dan raga”. Nggak ada orang tua sempurna. Tapi ada orang tua yang terus belajar dan bersungguh-sungguh.
Mulai dari 1 poin dulu yang paling mudah. Konsisten. Allah lihat prosesnya, bukan hasilnya.
Semoga anak-anak kita jadi generasi Qurrota A’yun — penyejuk mata orang tua di dunia, pemberat timbangan amal di akhirat. Aamiin. (IHA)





