Tambakberas, Dari Muktamar Kebudayaan Ke Muktamar PBNU: Kembali ke Akar Atau Tarikan Kekuasaan

NUCOM — Muktamar NU ke 35 di Pesantren Tambakberas, Jombang bukan sekadar hajatan 5 tahunan untuk reorganisasi, dan/atau memilih Ketua Umum, tapi Muktamar di Tambakberas, Jombang ini akan menjadi panggung pertarungan makna. Tentang siapa NU, mau ke mana NU, dan milik siapa NU. Dari Muktamar Kebudayaan ke Muktamar PBNU, Antara Kembali ke Akar dan Tarikan Kekuasaan.

Tambakberas, Simbol NU Asli

Simbol Tambakberas, “NU Asli” yang diperebutkan. Karena Tambakberas bukanlah lokasi netral. Ini tanah Pejuang, Penggerak, salah satu Pahlawan Nasional dan pendiri NU, Simbah KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Posisi Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bersebelahan dengan Pesantren Tebuireng dan Denanyar. Maka Tambakberas, Jombang adalah “ruang suci” genealogis NU.

Maka menaruh Muktamar NU di sini secara otomatis menghidupkan narasi “kembali ke akar” bukan “pulang” ke Akar.

Dan siapa pun yang menang nantinya akan merasa paling berhak mengklaim, paling mewarisi. Pertarungannya bukan hanya kursi, tapi legitimasi sejarah.

Baca juga: Simbah Kiai Wahab, Sepanjang Hayat Semangatnya Tak Pernah Luntur

Peta Politik, Tujuh Aktor yang Akan Bermain

Peta politik siapa saja yang akan masuk arena:

  1. PBNU Petahana: Membawa narasi stabilitas, NU mendunia, dan tata kelola modern. Kekuatannya ada di struktur PWNU-PCNU.
  2. Jaringan Kiai Sepuh dan Pesantren Besar: Pemilik legitimasi kultural. Suara mereka menentukan “iklim batin” muktamar.
  3. Syuriyah dan Rais Aam: Penjaga marwah keulamaan. Pertarungan halusnya adalah relasi Syuriyah vs Tanfidziyah.
  4. Jaringan PKB dan Politisi Nahdliyin: Sumbu paling sensitif. Isunya: setelah renggang, apakah NU dan PKB akan rujuk atau bercerai?
  5. Negara dan Birokrasi: Tidak tampil di panggung, tapi hadir lewat program, anggaran, bansos, dan jabatan.
  6. Jaringan Ekonomi dan Filantropi: Pemilik logistik. Yang bayar panggung, yang mengendalikan mobilisasi.
  7. Banom dan Generasi Muda: Tidak punya suara formal banyak, tapi punya suara moral paling keras soal transparansi, digitalisasi, dan kaderisasi.

Baca juga: Muktamar Beruntun: Lesbumi Membuka Jalan, PBNU Melanjutkan Perjalanan

Empat Poros Politik NU Masa Depan

Dari 7 aktor itu, akan lahir 4 poros besar:

  1. Poros Status Quo-Konsolidatif: Melanjutkan garis PBNU sekarang. NU harus kuat secara kelembagaan dan global;
  2. Poros Pesantren-Kultural: Kritik terhadap NU yang terlalu elitis dan terlalu dekat ke negara. Menuntut NU kembali ke Khittah 1926, Pesantren dan kiai. Poros ini konon paling untung karena Muktamar di Tambakberas;
  3. Poros Politik Elektoral/PKB: Pertanyaannya, “kalau NU tidak bersama PKB, lalu warga NU menyalurkan aspirasi politiknya lewat mana?”
  4. Poros Teknokratik-Birokratis: Bicara data, ekonomi, rumah sakit, kampus, koperasi. Sayangnya sering kalah oleh politik simbol.

Medan Pertarungan Isu

Ada 5 isu besar yang akan diuji:

  1. NU dan Negara: Mitra kritis atau bagian dari mesin kekuasaan?;
  2. NU dan PKB: Rujuk, pisah, atau definisi ulang;
  3. Distribusi Sumber Daya: Muktamar akan jadi ajang berebut akses ke kementerian, BUMN, pemda;
  4. Masa Depan Pesantren: Apakah hanya jadi backdrop foto, atau benar-benar jadi basis agenda ekonomi dan pendidikan?;
  5. Etika Organisasi: Mampukah NU menahan politik uang dan oligarki?.

Baca juga: Simbah KH Abdul Wahab Hasbullah: Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia Sejati

Dua Dampak

Dampak, Rekulturalisasi atau Oligarkisasi? Di sinilah letak krusialnya.

Pertama, dampak terbaiknya. Muktamar Tambakberas jadi momentum rekulturalisasi. NU kembali ke pesantren, menguatkan kopontren, kaderisasi, dan perlindungan warga miskin. NU tampil sebagai civil society yang kuat dan kritis.

Kedua, Dampak terburuknya. NU makin terbelah dan berubah menjadi arena perebutan akses kekuasaan, jabatan, dan legitimasi politik semata. Kepercayaan jamaah pada NU sebagai “rumah bersama” bisa luntur.

Tambakberas, Muktamar Ujian

Maka Muktamar di Tambakberas adalah ujian.
Ujian apakah NU masih bisa menjadikan pesantren sebagai pusat moral, bukan sekadar panggung simbolik bagi elite.

Jika NU gagal menjaga “akar paripurna” di tanah keramat Simbah KH. Wahab Hasbullah, sang pendiri, pejuang, dan juga pahlawan Nasional, maka bukannya tidak mungkin, atau mustahil, di masa depan NU besar secara struktur, tapi kosong secara ruh.

Tapi jika berhasil, maka dari Tambakberas inilah peradaban mulia NU akan tumbuh kembali.
Bukan karena siapa yang menang, tapi karena nilai apa yang dimenangkan.

Tambakberas, Jombang. Dari Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU, Menuju Muktamar PBNU. Di sinilah NU dituntut: Kembali ke Akar, tanpa menyerah pada Tarikan Kekuasaan. (IHA).

Baca juga: Tambakberas Jombang Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button