Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA: Kiai Wahab, Sepanjang Hayat Semangatnya Tak Pernah Luntur

NUCOM, JOMBANG – Salah satu putri KH Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., saat memberi sambutan, suaranya menggetarkan dada seluruh tamu dan peserta Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026. ‘Kiai Wahab, Sepanjang Hayat Semangatnya Tak Pernah Luntur!’

Jumat malam, 12/6/2026, halaman Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang dipenuhi tamu Muktamar Kebudayaan yang berdatangan dari berbagai daerah.

Hajat akbar yang dihelat Lesbumi PBNU, di tempat yang sederhana, dan di bawah cahaya remang, akhir bulan Zulhijjah 1447 H, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., Sesepuh PP Bahrul Ulum yang merupakan Salahsatu putri KH Abdul Wahab Hasbullah, justru memberi terang dan menggetarkan. Kiai Wahab, Sepanjang Hayat Semangatnya Tak Pernah Luntur.

Nyai Hizbiyah membuka sambutan dengan doa dan salam, lalu menyapa satu-satu: para kiai, Ibu Nyai, Gubernur Jatim yang diwakili Asisten 3 Dr. H. Ahmad Jazuli, Rais Syuriyah PCNU Jombang, Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula, Bupati Jombang, Forkopimda, budayawan, akademisi, seniman, civitas Unwaha, hingga seluruh dzuriyah Pondok Bahrul Ulum serta peserta muktamar dari berbagai daerah.

“Tempat Ini Tepat untuk Kembali ke Akar, Pendiri Lesbumi”

Nyai Hizbiyah menyebut Muktamar pertama Lesbumi di Unwaha adalah pilihan yang sangat tepat. Alasannya jelas: almarhum KH. A. Wahab Hasbullah adalah inisiator berdirinya Lembaga Seniaman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

“Tema ‘Kembali ke Akar’ mudah-mudahan membuat Lesbumi mengikuti jejak perjuangan Kiai Wahab. Ke depan Lesbumi akan besar, akan jaya, ikut mensukseskan organisasi Nahdlatul Ulama,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Kisah Tawasul Kiai Wahab ke Sunan Ampel dan Mbah Hasyim

Nyai Hizbiyah lalu bercerita. Kiai Wahab adalah salah satu penggagas dan pendiri NU bersama para kiai sepuh. Sebelum NU berdiri, beliau tawasul ke Sunan Ampel. Setelah itu sowan ke Kiai Hasyim Asy’ari.

“Matur kepada Kiai Hasyim: Pak Kiai, ingin mendirikan Nahdlatul Ulama. Jawab Mbah Hasyim: ‘Engko sik, aku tak istikharah sik’,” kisah Nyai Hizbiyah dalam logat Jawa yang akrab.

Istikharah itu tidak sendiri. Mbah Hasyim minta bantuan Kiai Khalil Bangkalan. Prosesnya lama. Tapi di masa menunggu itu, Kiai Wahab sudah bergerak: mendirikan cabang-cabang NU di Mojokerto, Jombang, Nganjuk, dan daerah lain.

Ketika NU resmi berdiri, Mbah Hasyim jadi Rais Akbar. Kiai Wahab jadi Sekretaris Umum pertama. “Kerja keras ke bawah, mendirikan cabang, itu Kiai Wahab dan tim,” tegas Nyai.

Semangat Sepanjang Hayat

Pesan inti Nyai Hizbiyah: semangat Kiai Wahab tidak pernah luntur. Mulai muda sampai beliau wafat saat mengikuti Muktamar NU di Surabaya, pengabdiannya untuk agama, bangsa, dan negara jalan terus.

“Kiai Wahab ngendikan: sopo wae nek kepingin berjuang iku gak ndelok usia, gak ndelok umur. Wis umure 60, umur sampai kapan pun, berjuang terus,” ucap Nyai, lalu menoleh ke Muslimat: “Semangat ojo kalah karo pengurus cabang. Semangat terus dari segi meningkatkan seni budaya NU ke masyarakat. Ikut mensejahterakan, ikut mencerdaskan.”

Tantangan Zaman: Judi Online dan Tugas NU

Nyai Hizbiyah mengingatkan data yang sedang ramai di TV: 20 ribu anak SD-SMP sudah ikut judi online. “Ini pemerintah sedang mikir cara menghentikan. Kami minta Lesbumi NU punya program. Lewat seni budaya kita ubah pola pikir mereka. Perkuat Aswaja, perkuat imtaq, ibadah dengan nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyah,” pintanya.

Beliau juga menghidupkan lagi jejak seni Kiai Wahab: mendirikan Seni Hadrah, pencak silat, dan kesenian lain. “Lesbumi harus hidup di mana-mana,” tegasnya.

Shalawat Burdah, Doa untuk Indonesia Emas

Nyai Hizbiyah mengaku baru tahu ada Muktamar setelah diundang. “Kalau tahu dari awal, tak sulap kun fayakun, tempat Muktamar ini, biar tambah semangat,” katanya sambil tertawa. Tapi beliau yakin, walau sederhana, Muktamar ini akan melahirkan program yang membawa berkah dan kemajuan NU.

Beliau menutup dengan mengajak semua membaca Burdah. “Setiap perjuangan Kiai Wahab tidak pernah lepas dari baca Burdah,” katanya. Ratusan suara pun kompak: Sholli wa sallim daiman abada ‘ala habibika khoiri kholqi kullihi…

“Kiai Wahab dari muda sampai wafat semangatnya tidak pernah luntur. Kita harus ikuti. Walaupun tidak 100%, semangatnya tidak boleh luntur. Ini bekal kita menghadapi Indonesia Emas 2035 dan 2040. Siapkan generasi penerus yang kuat iman-taqwanya, menjalankan syariat Islam Aswaja,” pungkas Nyai Hizbiyah.

Malam itu, di bawah lampu remeng-remeng, semangat Kiai Wahab kembali menyala lewat suara dzuriyahnya.

Dzuriyah Mbah Wahab

Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab), memiliki beberapa putra-putri dari pernikahannya dengan istri-istrinya (Maimunah, Alwiyah, Aslihah, dan Sa’diyah).

Adapun anak-anak beliau yang paling dikenal: KH M. Wahib Wahab (Mantan Menteri Agama Republik Indonesia), Nyai Hj. Choiriyah (Khadijah), Muhammad Najib, Djumiyatin, Muktamarah, Nyai Hj. Machfudhah (Tokoh Muslimat NU), Nyai Hj. Hizbiyah, Nyai Hj. Mundjidah Wahab (Mantan Bupati Jombang), KH M. Hasib Wahab (Ketua Majelis Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas), dan Muhammad Roqib. (IHA)

Baca juga: KH M. Jadul Maula: Pembacaan Teks Pembukaan UUD 1945 itu Suci, Kembali Ke Akar NKRI

Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026, Bantingan, Bantengan, dan Semangat Trilogi

Muktamar Kebudayaan “Kembali ke Akar”: Teguh Jaga Khittah 1926 untuk Maslahat Umat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button