Mantan Ketua KNPI Cilacap Bicara Masa Depan Pemuda

NUCOM – Sejumlah mantan Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Cilacap membagikan gagasan dan pengalaman mereka tentang masa depan organisasi kepemudaan dalam Workshop Organisasi Kepemudaan yang digelar di Gedung DPRD Kabupaten Cilacap, Minggu (9/8/2026).

Workshop yang mengangkat tema “Peningkatan Kapasitas dan Tata Kelola Organisasi yang Profesional, Adaptif dan Berdampak bagi Masyarakat” tersebut mempertemukan pengurus KNPI dan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) untuk membahas tantangan sekaligus peluang gerakan kepemudaan di tengah perubahan zaman.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disparpora) Kabupaten Cilacap, H. Budi Narimo, S.Sos., M.Si., yang menjadi salah satu narasumber, mengatakan bahwa pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk membina, mengarahkan, dan mempersiapkan pemuda menuju kegiatan-kegiatan yang positif.

Menurutnya, pembangunan di bidang kepemudaan perlu diarahkan pada empat hal utama, yakni penguatan karakter, identitas, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan pemuda.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan di antara pemuda maupun organisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, persatuan dan kesatuan harus tetap menjadi kepentingan yang lebih utama.

“Perbedaan pasti ada, namun persatuan dan kesatuan adalah di atas segala-galanya,” ujarnya.

Budi juga mendorong KNPI untuk menghadirkan kegiatan yang dapat mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang. Kegiatan seperti jambore dinilai dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian dan kebersamaan.

“Seorang pemimpin besar tidak lahir dari menara gading,” katanya.

Organisasi Harus Profesional dan Adaptif

Mantan Ketua DPD KNPI Cilacap periode 2003–2008, H. Imam Tobroni, S.Ag., M.M., menekankan pentingnya dukungan anggaran bagi keberlangsungan organisasi.

Menurutnya, organisasi tidak mungkin berjalan tanpa anggaran. Namun, keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Ia mencontohkan sejumlah kegiatan yang pernah dilakukan KNPI, seperti pembangunan taman bermain KNPI dan event festival wayang-wayang. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa KNPI dapat bertahan dan berkembang meskipun pada awalnya belum mendapatkan dukungan anggaran.

“Organisasi tidak mungkin hadir tanpa anggaran,” ungkapnya.

Imam juga mengingatkan agar organisasi kepemudaan hadir dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Menurutnya, terdapat tiga pilar yang menjadi tanda keberhasilan organisasi pemuda, yakni profesional, akuntabel, dan terstruktur.

Selain itu, pemimpin harus menjalani proses dari bawah agar memahami persoalan sekaligus mengetahui arah perubahan yang diharapkan.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan organisasi beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Organisasi harus adaptif, terutama harus menggunakan teknologi untuk mendukung perubahan yang berdampak,” pesannya.

Menyambungkan Idealisme dan Konseptualisasi

Sementara itu, mantan Ketua DPD KNPI Cilacap periode 2008–2010, Muniriyanto, M.M., M.Pd., melihat adanya perbedaan karakter antara KNPI masa lalu dengan KNPI saat ini.

Menurutnya, setiap generasi memiliki peran masing-masing sesuai dengan tantangan zamannya. Ia mengakui bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang besar dibandingkan masa ketika dirinya memimpin KNPI.

Muniriyanto menyebut terdapat dua hal penting yang perlu disambungkan dalam perjalanan organisasi kepemudaan, yakni idealisme dan konseptualisasi.

Pertemuan lintas generasi seperti workshop tersebut, menurutnya, menjadi penting sebagai ruang untuk menyambungkan idealisme dengan gagasan dan kemampuan intelektual.

“Pertemuan ini adalah penyambungan idealisme, maka itu menjadi penting,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan kader pemuda dapat membawa seseorang ke berbagai bidang pengabdian, baik birokrasi, politik maupun profesi.

KNPI Didorong Menjadi Rumah Bersama

Mantan Ketua DPD KNPI Cilacap periode 2010–2013, KH Khazam Bisri, menyoroti tantangan kepemudaan yang semakin kompleks, terutama di tengah revolusi industri dan perubahan kehidupan masyarakat menuju era digital.

Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu dipikirkan bersama adalah persoalan pengangguran. Perkembangan teknologi dan otomatisasi berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan manusia sehingga diperlukan kesiapan pemuda untuk menghadapi perubahan tersebut.

Ia juga menyinggung sejumlah persoalan sosial yang ada di Cilacap, termasuk kemiskinan dan persoalan keamanan yang menurutnya tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau satu organisasi.

Perubahan kehidupan masyarakat, kata Khazam, berlangsung semakin cepat sejak pandemi Covid-19. Pola pikir, gaya hidup, hingga cara masyarakat berinteraksi mengalami perubahan yang signifikan.

Karena itu, pertanyaan bagi KNPI bukan sekadar bagaimana organisasi dapat berkontribusi, tetapi bagaimana membangun cita-cita dan kehendak bersama agar keberadaan organisasi benar-benar memberikan dampak bagi OKP maupun masyarakat.

“KNPI ini adalah rumah bersama, bagaimana KNPI bisa dirasakan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.

Khazam juga menekankan pentingnya kaderisasi dalam melahirkan pemimpin. Menurutnya, pemimpin tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi lahir melalui proses dan dapat dibentuk melalui jalur kaderisasi.

“Membangun keinginan atau kehendak itu penting. Berawal dari situlah manusia dapat bergerak atau berubah,” katanya.

KNPI Masih Penting Menghadapi Tantangan Masyarakat

Mantan Ketua DPD KNPI Cilacap periode 2019–2022, Abdullah Akhmad Mukhtarizain, S.H.I., M.H., menyoroti pentingnya keberadaan organisasi kepemudaan dalam konteks kehidupan bernegara.

Menurutnya, keberadaan organisasi kepemudaan juga mendapatkan pengakuan melalui dukungan negara, termasuk anggaran. Ia menyebut terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang kepemudaan sebagai salah satu dasar penting dalam pengembangan organisasi kepemudaan.

Abdullah juga mendorong organisasi kepemudaan untuk lebih kreatif dalam mencari sumber pendanaan. Salah satunya melalui pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung keberlangsungan organisasi sekaligus menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat.

Menurutnya, KNPI masih memiliki posisi penting bagi Cilacap dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.

Ia menegaskan bahwa gerakan kebaikan juga membutuhkan organisasi dan pengelolaan yang baik agar dapat memberikan dampak yang lebih luas.

“Kebaikan yang tidak diorganisir, akan dikalahkan oleh kezaliman yang terorganisir,” tegasnya.

Menjadi Ruang Belajar Lintas Generasi

Sementara itu, Sekretaris DPRD Kabupaten Cilacap, Basuki Priyo Nugroho, mewakili Ketua DPRD Kabupaten Cilacap mendukung kegiatan kepemudaan.

Ia menegaskan bahwa DPRD merupakan bagian dari rakyat dan siap membantu dalam ruang-ruang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Workshop tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan tata kelola organisasi. Pertemuan itu juga menjadi ruang bertemunya pengalaman lintas generasi, antara para mantan pengurus KNPI dengan generasi pemuda yang kini memegang estafet organisasi.

Berbagai gagasan yang disampaikan para narasumber bermuara pada kebutuhan yang sama: organisasi kepemudaan harus mampu beradaptasi dengan perubahan, memperkuat kaderisasi, membangun kolaborasi, serta menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dengan demikian, KNPI dan berbagai OKP di Kabupaten Cilacap diharapkan tidak berhenti sebagai organisasi administratif, tetapi mampu menjadi ruang tumbuh bagi pemuda sekaligus kekuatan sosial yang hadir menjawab persoalan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button