Ketika Nama Para Kiai Dicaplok Tanpa Izin: Luka di Balik Buku “Islam Ala Prabowo”

JAKARTA, NUCOM — Ada luka yang tak terlihat di atas kertas. Luka itu muncul ketika nama-nama yang selama ini kita muliakan, kita hormati, dan kita jadikan rujukan, tiba-tiba dicantumkan di sebuah buku tanpa pamit. Tanpa izin. Tanpa restu. Inilah Luka di Balik Buku “Islam Ala Prabowo”

Buku itu berjudul “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam”. Sampulnya biru, gagah. Di dalamnya tertulis nama-nama besar: ulama, kiai, tokoh bangsa. Seolah buku ini lahir dari rahim para guru bangsa.

Namun beberapa hari setelah peluncurannya, badai datang.

Klarifikasi yang Menusuk Hati

Melalui M. Sofwan Erce sekretaris pribadinya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan penyesalan yang dalam.

Beliau menyayangkan nama beliau dicantumkan dalam buku tersebut. Lebih dari itu, beliau menegaskan:

“Kiai Said tidak pernah menulis, menyusun, maupun memberikan tulisan untuk buku yang dimaksud.” terangnya

Nama beliau tercantum dalam bab “BERISLAM NUSANTARA ALA PRABOWO SUBIANTO”. Tapi tidak ada sepatah kata pun yang beliau tulis. Tidak ada satu huruf pun yang beliau beri izin.

Kyai Said pun meminta agar namanya segera di-take down dan peredaran buku dihentikan sementara, sampai dilakukan revisi.

Bukan Hanya Satu Nama

Rupanya, ini bukan kisah tunggal.

KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) namanya muncul dalam artikel “Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto”. Istrinya, Ning Jazilah Annahdliyah, membantah keras. Gus Kautsar tidak pernah menulis, tidak pernah memberi izin.

TGB Dr. K.H. Muhammad Zainul Majdi juga tercantum sebagai penulis “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan”. Beliau pun membantah. Tidak pernah mengirimkan tulisan itu.

Satu per satu, nama-nama mulia itu berdiri dan berkata: “Kami tidak ada di sana.”

Antara Adab dan Tanggung Jawab

Buku tentang Islam seharusnya menjadi cermin adab. Seharusnya menjadi ruang untuk menebar kemuliaan, bukan keraguan. Seharusnya menjadi jalan dakwah, bukan jalan salah paham.

Mencatut nama seorang ulama tanpa izin, adalah seperti meminjam sorban tanpa bertanya. Meminjam wibawa tanpa menanggung amanah.

Ini bukan soal politik. Ini soal adab. Soal bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang seumur hidupnya menghabiskan tenaga untuk menjaga umat.

Melalui M. Sofwan Erce selaku Sespri KH. Said Aqil Siroj, klarifikasi ini disampaikan agar masyarakat tidak salah paham. Agar tidak muncul anggapan bahwa para kyai terlibat dalam penyusunan buku tersebut.

“Kami berharap penjelasan dan permohonan ini dapat diterima, serta ditindaklanjuti dengan baik oleh pihak terkait, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secara bijaksana,” tulisnya.

Di akhir, kita hanya bisa berharap. Berharap agar kesalahan ini segera diperbaiki. Agar nama-nama suci itu tidak lagi dijadikan jembatan tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Karena dalam Islam, meminta izin adalah adab. Menjaga nama baik orang lain adalah ibadah. Dan kejujuran, adalah pangkal dari segala keberkahan.***(IHA)

Baca juga: Muktamar NU Ke 35 dan Kesaksian Seorang Katib Syuriyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button