KH Abdul Wahab; Jejak Teladan Sang Pemerhati Pendidikan

Oleh Alfi Hidayati, M.Pd.

NU Cilacap Online – Dia adalah sosok figur lurah atau kepala desa yang dekat dengan rakyat kecil dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sebagai pemimpin, beliau adalah sosok teladan yang peduli soal pendidikan. Dialah KH Abdul Wahab; sosok teladan dan pemerhati pendidikan yang juga merintis berdirinya Desa Karangjengkol Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap.

Nagasari, Cikal Bakal Desa Karangjengkol

Berbicara tentang asal muasal Desa Karangjengko maka tak lepas dari Nagasari, sebuah desa kecil yang menjadi cikal bakal berdirinya Desa Karangjengkol

Nagasari, sebuah desa kecil di lembah yang subur dan dikelilingi oleh barisan bukit  Bukakan yang cukup tinggi. Aliran sungai yang berbatuan dengan airnya yang jernih menambah pesona desa tersebut.

Desa Nagasari memang punya banyak keistimewaan, selain Tuhan memberikan anugerah keindahan alam semesta, konon menurut cerita nenek moyang adalah desa yang ditakuti para musuh pada zaman kolonial Belanda.

Desa Nagasari dahulu adalah tempat persembunyian para prajurit Mataram yang melarikan diri dari kejaran musuh (tentara Belanda).

Pada saat itu musuh akhirnya menemukan tempat persembunyian para prajurit di desa Nagasari. Musuh pun langsung menyerang para prajurit namun dihadang oleh beberapa ular naga yang sangat besar.

Naga-naga tersebut melindungi para prajurit dari serangan musuh (tentara Belanda), maka sejak saat itu desa ini dikenal dengan desa Nagasari.

Naga artinya ular besar berkaki dan Sari artinya perasaaan. Jadi Nagasari bisa diartikan Ular Naga yang mempunyai perasaan melindungi penduduk desa tersebut termasuk para Prajurit.

Baca juga Makesta, Ajang Kaderisasi IPNU IPPNU Karangjengkol

Susur Galur Desa Karangjengkol

Perkembangn Desa Nagasari semakin lama semakin pesat banyak dengan pendatang yang datang dan akhirnya menetap disitu, hingga pada suatu hari salah satu tokoh masyarakat mulai berfikir untuk mengembangkan desa Nagasari menjadi sebuah desa yang besar dan dapat memanfaaatkan sumber daya alamnya dengan baik.

Tokoh masyarakat tersebut bernama mbah Abdul Wahab. Pada Saat itu beliau adalah sosok pemuda yang giat bekerja, seorang pemuda yang masih ada keturunan darah anak prajurit sehingga sudah terbiasa terdidik dengan kedisplinan dan kegigihan dalam berjuang.

Mbah Abdul Wahab sejak masih muda beliau sudah mengabdikan dirinya untuk kerajaan Mataram Islam hingga beliau pernah di beri mandat sebagai intelegen Mataram. Singkat Waktu mbah Abdul Wahab pernah mengajak para penduduk desa Nagasari untuk trukah (memulai dari nol ) untuk menimbun daerah rawa-rawa yang berada di bawah desa Nagasari, rawa-rawa tersebut yang nantinya akan menjadi awal mula berdirinya desa Karangjengkol.

Berawal dari keuletan dan motivasi beliau akhirnya dengan dibantu oleh seluruh penduduk desa Nagasari secara bergotong royong membentuk sebuah desa baru yang berawal dari menimbun tanah sedikit demi sedikit hingga tanah rawa menjadi daratan yang padat dan luas. Inilah yang menjadi awal mulanya para penduduk desa Nagasari turun gunung dan memilih menetap di desa baru yang sekarang dinamakan desa Karangjengkol.

Masa Pemerintahan Mbah Abdul Wahab

Pada tahun 1908 setelah desa Karangjengkol sudah terbentuk lama, beliau mbah Abdul Wahab memegang tampuk pemerintahan di desa Karangjengkol (menjadi kepala desa ke – 3) mulai tahun 1908 hingga 1913 pada zaman Bupati Raden Mas Adipati Cakrawedaya (1882-1927).

Walaupun sebelumnya kabupaten Cilacap masuk kerajaan Pajang dan kemudian diganti kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh panembahan Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal kekuasan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada keajaan Mataram.

Pada zaman Bupati Raden Mas Adipati Cakrawedaya yang mengalami tiga zaman, yakni zaman penjajahan Belanda, zaman Jepang dan zaman orde baru. Masa Pemerintahan mbah Abdul Wahab saat itu beliau berdomisili di dusun Bantarsari.

Dusun Bantarsari adalah dusun yang berada di wilayah utara desa Karangjengkol di mana didusun ini menjadi pusat pemerintahan desa Karangjengkol. Desa Karangjengkol terbagi wilayahnya menjadi beberapa dusun antara lain: dusun Karangmangu (bagian paling Timur Utara), dusun Bantarsari wetan (bagian utara), dusun Bantarsari kulon (bagian utara dan paling Barat, dusun Parakan kulon (Bagian Barat tengah), dusun Parakan Wetan (bagian timur tengah) dusun Jambean (bagian timur/selatan parakan wetan), dusun Banjarsari (bagian selatan barat), dan dusun Tegal Sari (bagian timur selatan).

Mbah Abdul Wahab adalah sosok figur lurah atau kepala desa yang dekat dengan rakyat kecil dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Menurut cerita Subhan Wahyudi satu cicit Mbah Abdul Wahab, pada saat musim paceklik rakyat kecil yang sudah kehabisan cadangan pangan (padi) mereka disuruh pinjam padi kepada beliau, serta mengembalikannya pada masa panen tiba tanpa mengambil jasa.

Mbah Abdul Wahab mempunyai padi yang disimpan di lumbung (tempat penyimpanan padi). Setiap warganya yang sedang kesulitan dalam masalah pangan, Mbah Abdul Wahab langsung meminjamkan padinya kepada warganya.

Dalam kesehariannya mbah Abdul Wahab saat blusukan ke warga desanya suka sekali mengenakan pakaian Lurik khas Jawa memakai ikat kepala atau kadang-kadang blangkon.

Alasan Beliau suka menggunakan baju Lurik karena memiliki makna yang cukup tinggi. Secara etimologi lurik berasal dari kata lorek yang berarti garis-garis. Lurik berpolakan lurus yang mengandung makna kesederhanaan, berprilaku lurus/baik, kerendahan hati, dan berpengharapan kebaikan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari makna itulah beliau sangat menjiwai filosofi baju Lurik khas Suku Jawa dan di aplikasikan dalam kehidupan nyata.

Jejak Teladan Sang Pemerhati Pendidikan

Selain sebagai kepala desa yang dekat dengan rakyatnya, sosok mbah Abdul Wahab juga sangat memperhatikan kepada dunia pendidikan dan juga agama.

Di Dusun Bantarsari selain menjadi Lurah atau kepala desa beliau juga sebagai kiai atau imam masjid. Saat itu mbah Abdul Wahab merintis untuk membuat sebuah masjid pertama yang berada di dusun Bantarsari sebagai sarana pendidikan agama yang diberi nama masjid At Taqwa.

Pada zaman itu mbah Abdul Wahab menyisihkan waktunya dari dunia kepemerintahan untuk memperhatikan warga dan anak cucunya untuk belajar agama di masjid.

Masjid At Taqwa yang dibangun dengan nuansa serba kayu (pada saat itu masih berbentuk panggung). Mbah Abdul wahab mengajak para warga atau para pemuda untuk tinggal di masjid belajar mengaji.

Setiap malam kegiatan mengaji selalu dilaksanakan dan langsung di bawah pengasuhan dan bimbingan mbah Abdul Wahab.

Karena seringnya kegiatan mengaji yang dilakukan di dalam masjid hingga para pemuda banyak yang bermalam di dalam masjid sekaligus menjaga masjid dan merawat kebersihan masjid.

Perhatian mbah Abdul Wahab terhadap pendidikan terutama pendidikan agama, ini tercermin dari anak cucunya yang diberi motivasi untuk belajar dan juga mengaji hingga dimasukan ke beberapa pondok pesantren.

Dalam memajukan dunia pendidikan khususnya mengaji Al Qur’an, mbah Abdul Wahab kepada anak-anaknya secara kompentitif. Kepada anak-anaknya yang masih kecil atau yang sedang mengaji Al qur’an dengan kata-kata seperti ini

“Barangsiapa yang khatam Alqur’an lebih dahulu saya belikan sepeda,“ kata beliau dan hal itu konsekuen.

Salah satu anak cucu mbah Abdul Wahab yang menempuh dunia pesantren antara lain KH Ahmad Buraedah (Alumni Ponpes Darul’ Ulumudinniyah , Cirebon) yang pernah menjabat sebagai kepala desa Karangjengkol yang ke 11, serta menjadi ulama/ kiai di dusun Bantasari.

Kemudian pada tahun 1992 Ahmad Buraedah diberi Amanah oleh Kementrian Agama untuk menjadi imam masjid/ kiai di Masjid AL Munawaroh Slarang.

Semua keturunan Mbah Abdul Wahab hampir 50 % menjadi orang yang menekuni bidang Pendidikan dan Hukum. Ada yang menjadi Penghulu, Kepala KUA, Guru, Dosen, TNI, Pegawai Kementrian Agama . dan sisanya menjadi petani, wiraswasta dan pengusaha.

Menurut keterangan Subhan Wahyudin, Mbah Abdul Wahab menyuruh anak cucunya yang sudah dewasa untuk beribadah haji dan dibiayai oleh beliau. Beberapa anak dan cucu beliau yang dibiayai haji antara lain : H. Abu Bakar (anak ), H. Afandi, H. Abdul Ghoni (cucu) dan H. Zaeni (anak mantu).

Pada zaman itu mereka naik haji pergi ke tanah suci dengan naik kapal laut sampai berbulan-bulan. Mereka hanya membawa bekal beras dan ikan asin untuk persediaan makan sehari-hari selama dalam perjalanan laut menuju ke tanah suci.

Maka dari sinilah banyak keturunan Mbah Abdul Wahab yang masih muda sudah bergelar Haji. Semenjak beliau naik haji bersama anak cucunya mbah Abdul Wahab menjadi punya ciri khas sendiri yakni kesehariannya beliau suka sekali mengenakan pakaian jubah dan bersorban.

Baca juga IPNU IPPNU Karangjengkol Dilantik, Wujud Pengabdian di NU

Mbah Abdul Wahab selama menjadi Lurah, beliau memiliki empat orang istri, dari istri pertama hingga istri ke-4, semuanya dibuatkan rumah, dan pada saat itu rumahnya adalah bentuk rumah Joglo, kecuali istri yang ke- 4 sudah mulai dibuatkan rumah gedung.

Maka dari itu istri ke-4 dari Mbah Abdul Wahab terkenal dengan julukan Mbah Mar gedung. Dari hasil perkawinan dengan keempat istrinya ada salah satu anak dari istri yang ke – 3 yang menurunkan anak-anak yang melanjutkan tampuk pemerintahan yakni anak sulungnya (laki- laki ) yang bernama Ranuwisastro.

Ranuwisastro menjabat kepala desa atau lurah di desa Karangjengkol menggantikan ayahnya dari tahun 1913 sampai tahun 1945. Anak dari Mbah Abdul Wahab yang bernama Ranuwisastro adalah figur yang keras dan disiplin sehingga beliau dapat membawa desa Karangjengkol lebih maju diantara desa-desa di wilayah kecamatan Kesugihan. Sehingga beliau diangkat jabatannya sebagai penatus . Penatus jabatannya lebih tinggi dari kepala desa, lebih rendah dari Camat. Tugasnya menbawahi para lurah. Maka sejak itu anak sulung dari Mbah Abdul Wahab terkenal dengan panggilan sehari-hari Penatus.

Nama Ranuwisastro mantan Kepala desa Karangjengkol yang ke-4 sekarang diabadikan menjadi nama sebuah Jalan Raya desa Karangjengkol yakni sepanjang jalan di wilayah Bantarsari Kulon hingga Bantarsari wetan.

Baca juga Kepengurusan Ranting NU Karangjengkol 2023-2028 Dilantik

Pesarean Mbah Abdul Wahab

Dikenal selain sebagai kiai atau ulama di dusun Bantarsari mbah Abdul Wahab dalam pemerintahanya sebagai kepala desa , beliau juga memperhatikan sarana transportasi dan juga sarana pengairan (irigasi).

Hal ini dapat dibuktikan pada saat itu tidak ada jalan yang becek. Semua dapat dilalui kendaraan seperti delman dengan nyaman. Pengairan juga terawat dengan baik, tidak ada saluran air/ sier yang tersumbat. sehingga para petani dapat memanfaatkanya untuk menggarap sawah dengan gembira.

Makam KH Abdul Wahab

Hamparan sawah yang hijau dan subur bak permadani yang begitu sejuk sejauh mata memandang. Sehingga kebutuhan pangan didesa Karangjengkol tercukupi. Mbah Abdul Wahab memegang tampuk pemerintahan hanya sekitar lima tahun dan setelah pensiun beliau lebih menghabiskan masa sisa hidupnya untuk berdedikasi dengan kegiatan pendidikan agama.

Tidak diketahui pasti kapan beliau wafat, namun tempat pesareannya sampai sekarang masih terjaga. Pesarean mbah Abdul Wahab berada di TPU dusun Bantarsari wetan. Sebuah pemakaman umum yang berada di daerah perbukitan.

Untuk sampai ke tempat Pesarean mbah Abdul Wahab harus jalan kaki naik sedikit ke atas bukit. Sekarang ini tempat Pesarean mbah Abdul Wahab sudah dapat diakses dengan kendaraan roda dua, atau roda 4.

Bahkan pemerintah desa Karangjengkol sekarang ini merencanakan membuat jalan raya tembus dari jalan TPU ke arah utara daerah kabupaten Banyumas.

Pesarean mbah Abdul Wahab memang belum bernisan sejak dahulu. Hanya bernisan batu cadas tak bernama, namun para keturunannya masih menjaganya dengan baik di dalam sebuah cungkup (rumah-rumahan di makam). Demikian sekilas laku lampah Mbah Abdul Wahab, seorang ulama sekaligus lurah desa Karangjengkol serta pendiri Masjid At Taqwa. (Alfi/Naeli)

Alfi Hidayati, penulis biografi KH Abdul Wahab

Penulis : Alfi Hidayati, M.Pd
Editor: Naeli Rokhmah

Artikel berjudul KH Abdul Wahab; Jejak Teladan Sang Pemerhati Pendidikan adalah karya juara 2 sayembara menulis tokoh alim  ulama Cilacap Alfi Hidayati, M.Pd. Keseharian penulis adalah guru MI YAPPI Planjan. Ia jugadan anggota aktif Fatayat NU Ranting Karangjengkol Kesugihan Cilacap. Selain itu, penulis juga aktif menulis bersama komunitas Gumalis Cilacap.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button