Bagi Lesbumi, Seni dan Agama Tidak dapat Dipisahkan, Inilah Peranan LESBUMI Dalam REVOLUSI NASIONAL

NUCOM — Harian DUTA MASJARAKAT 9 Nopember 1964 memuat Pidato Sambutan Ketua Umum PBNU dan Menko Dr. KH. Idham Chalid (1921-2010) pada Resepsi Pembukaan Musyawarah Kerja (Muskernas) Lesbumi Se-Indonesia di Semarang, pada tanggal 21 November 1964. Bagi Lesbumi, Seni dan Agama Tidak dapat Dipisahkan, Inilah Peranan LESBUMI Dalam REVOLUSI NASIONAL.

NUCOM mengetengahkan kembali permata yang hilang itu, menggali lagi perbendaharaan yang terpendam, selami lautan yang penuh dengan fatwa, tauladan, sebagai mutiara-mutiara bermutu tinggi.

Naskah asli pidato Ketua Umum PBNU terlama sepanjang Sejarah, selama 28 tahun (1956 hingga 1984). Dan Pahlawan Nasional (2011) ini diterbitkan oleh koran Harian DUTA MASJARAKAT pada 9 Nopember 1964, halaman 11.

Sebagaimana narasi waktu itu masih menggunakan kalimat dalam Ejaan lama, maka Redaksi NUCOM meyesuaikan dengan ejaan baru. Isi naskah pidato tersebut. sebagai berikut;

“Saudara-saudara para seniman dan budayawan muslimin Indonesia, Pada saat ini benar-benar saya terumbang-ambing antara rasa haru dan bangga. Saya terharu dan sedih karena tidak dapat langsung menyampaikan sambutan ini di hadapan sidang musyawarah yang berbahagia ini. Namun bilamana melihat kenyataan bahwa saudara-saudara dapat menyelenggarakan musyawarah ini, saya menjadi bangga dan gembira.

Justru inilah yang merupakan kenyataan bahwa Lesbumi, walaupun mempunyai usia yang
termuda di antara lembaga-lembaga sejenis yang merupakan porosnya Nasakom, tetapi telah
jauh mengembangkan aktivitasnya di persada kebudayaan.

Kegiatan saudara-saudara cukup menonjol di masyarakat. Akan tetapi kegiatan-kegiatan
tersebut tidaklah berarti sudah cukup, sebab demikian luas dan dalam samudra yang harus
direnangi, yang harus diselami. Berarti tugas saudara-saudara masih banyak dan masih ada.
Saya tidak akan menyinggung bagaimana ceritanya proses kelahiran lembaga ini, bagaimana prosesnya sewaktu masih dalam kandungan induknya hingga menjelang hari-hari kelahirannya.

Tetapi saya yakin saudara-saudara sependapat bahwa tidak ada suatu kelahiran yang tidak
mengalami cobaan-cobaan yang kritis.

Namun bilamana saatnya sudah tiba dan takdir sudah menentukan, suatu kelahiran tidak dapat
ditunda, apalagi dibendung, dihalang-halangi, atau dicegah. Ia mesti lahir, karena kelahiran
organisasi ini memiliki peranan mutlak bagi kepentingan umat Islam dan revolusi.

Saudara-saudara lahir pada saat revolusi menghadapi ujian-ujian, pada saat Revolusi
Indonesia menghadapi tantangan-tantangan dari dalam dan dari luar. Dua, saudara-saudara
sekaligus merupakan pemikul tanggung jawab sebagaimana halnya potensi-potensi atau
alat-alat revolusi lainnya.

Ada dua pegangan yang harus saudara-saudara yakini, yaitu:
1. Saudara-saudara adalah seniman dan budayawan muslimin Indonesia.
2. Saudara-saudara adalah seniman dan budayawan revolusioner.

Saudara-saudara adalah seniman dan budayawan muslimin, alat agama Islam. Pada kedudukan ini saudara-saudara telah memikul tanggung jawab yang sangat berat. Tanggungjawab terhadap agama dan terhadap Tuhan. Ini tidak dapat dianggap ringan atau sepele.

Tugas saudara-saudara sangat subtil. Selaku seniman yang berjiwa bebas, berjiwa lepas, yang
tidak mau terkungkung, yang tidak mau terikat, selaku seniman merdeka, dan saudara-saudara selaku muslim yang patuh, selaku muslim yang menjunjung tinggi hukum-hukum Ilahi, selaku muslim yang memegang teguh ajaran-ajaran Islam.

Bagi anggota Lesbumi, seni dan agama tidak dapat dipisahkan, tidak boleh merupakan perpecahan. Tetapi merupakan suatu kesatuan mutlak yang melambangkan suatu kehidupan kebudayaan, sebagaimana tidak mungkinnya dipisahkan antara roh dan tubuh.

Kalau terpisah, kalau bercerai kedua unsur kesatuan ini, itu tubuh bukan tubuh yang hidup, tetapi bangkai yang mati, yang tidak memegang peranan apa-apa, yang pasif, yang tidak dapa memikul tanggung jawab selaku alat revolusi umat manusia beragama.

Saya berani mengatakan bahwa seni dan budaya bagi Lesbumi adalah seni bermoral, seni yang hidup dengan napas agama. Karena seni tanpa moral atau budaya tanpa moral tidak patut disebut seni, tidak pantas mengenakan pakaian seni.

Di sini jelas dan nyata tugas saudara-saudara, jelas dan nyata tanggung jawab saudara-saudara.

Barangkali masih ada beberapa orang yang tidak mengerti apa sesungguhnya tugas dan peranan Lesbumi di tengah-tengah lingkungan Nahdlatul Ulama. Mungkin masih ada yang sinis dengan pertanyaan begini:

“Lho, apa sih yang dapat dikerjakan oleh Lesbumi yang bermanfaat bagi kepentingan umat kecuali mengatur-atur menyanyi, menari, bikin sandiwara, orkes-orkesan yang tidak kenal malam Jumat?”
Apakah ini bukan perbuatan yang dapat menyesatkan umat?

Ya, kalau orkes-orkesan malam Jumat, walaupun tidak terlarang. Tetapi bagi umat Islam
Indonesia malam Jumat adalah malam suci, malam yang tepat untuk mengaji, ibadat, dan
berkhalwat.

Tetapi pertanyaan ini harus dihadapi dengan tantangan yang konkret, bahwa tugas Lesbumi
bukan semata-mata merenangi selokan atau parit yang butek. Dan juga tugas Lesbumi bukannya untuk menutup parit atau menimbun selokan itu.

Lebih tepat adalah bahwa Lesbumi mempunyai tugas membersihkan kekotoran-kekotoran yang
ada pada parit dan selokan itu, serta berenang dan menyelami samudra kebudayaan yang luas dan dalam.

Kalau begitu, ulama telah bervivere pericoloso, telah melangkah terlalu jauh.
Memang kami bervivere pericoloso dalam melahirkan lembaga ini karena kami yakin urgensinya bagi masyarakat Islam, bagi kita semua, bagi mencapai tujuan-tujuan Revolusi Nasional kita.

Ia memikul tanggung jawab dan tugas yang vital, yang pasti tidak dapat dipikul oleh orang-orang iseng.

Namun ada baiknya juga pernyataan-pernyataan tersebut, karena berarti Lesbumi mau tidak mau harus waspada. Harus hati-hati, harus dengan perhitungan bilamana ingin melangkah ke depan.

Saudara-saudara para seniman dan budayawan serta hadirin yang terhormat, Ada saja pertanyaan yang muncul, apakah sesungguhnya tugas dan peranan Lesbumi di tengah-tengah lingkungan Nahdlatul Ulama? Kenapa ada Lesbumi dalam NU?

Nah, saudara-saudara, saya yakin saudara-saudara tidak akan keburu membolak-balik arsip mencari-cari jawaban yang tepat.
Jelasnya begini.

Dalam Surat Keputusan Pengesahan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atas berdirinya lembaga ini, tertera poin pertama dan kedua yang berbunyi sebagai berikut:
1. Bahwa bidang dan lapangan perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di tanah air Indonesia dewasa ini sudah sedemikian luasnya, sehingga perlu segera dibentuk suatu organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya, di samping organisasi-organisasi lain di lingkungan Partai Nahdlatul Ulama yang bergerak di berbagai bidang dan lapangan.
2. Hasrat golongan seniman dan budayawan dari warga Partai Nahdlatul Ulama untuk dapat menyalurkan bakatnya bagi keagungan agama Islam di tanah air Indonesia.
Dengan demikian otomatis bertanggung jawab terhadap agama, otomatis bertempat pada front
terdepan dalam perjuangan menegakkan syariat Islam sebagaimana tugas eksponen-eksponen
lainnya.

Lesbumi bukan berbeda dengan organisasi-organisasi lainnya di lingkungan Partai Nahdlatul Ulama. Cuma ia mempunyai cara dan manifestasi keluar yang berbeda, tetapi jiwanya satu, yaitu jiwa Islam.

Justru perbedaan-perbedaan cara inilah yang membuktikan betapa luas dan dalamnya agama
Islam yang kita junjung tinggi itu.

Selaku seniman atau budayawan muslimin, ada pegangan penting lagi yang jangan saudara-saudara tinggalkan, yakni ayat Ilahi yang berbunyi sebagai berikut:
“Artinya: Sesungguhnya Kami jadikan segala benda yang ada di muka bumi sebagai perhiasan
supaya Kami menguji mereka, manakah di antara mereka yang lebih baik amalnya.” (Al-Kahfi ayat 7) 

Saya harap tidak ada kiai yang membantah bahwa ayat tersebut tetap merupakan pegangan spiritual bagi saudara-saudara seniman dan budayawan muslimin.

Saya percaya bahwa golongan saudara-saudara paling doyan membaca, paling doyan menelaah arsip pengetahuan dan kebudayaan.

Di samping suatu keyakinan agama bahwa Islam itu penuh dengan mutiara-mutiara kebudayaan. Malahan peradaban Islamlah yang membuka pintu penjara kegelapan Eropa pada abad pertengahan.

Karena peradaban Islamiah maka Eropa mengenal renaissance, mengenal alam pikiran kemajuan, hingga akhirnya karena kealpaannya umat Islam sendiri, perbendaharaan yang berlimpah-limpah itu lenyap dengan cuma meninggalkan bekas-bekas yang tragis dalam sejarah.

Saudara-saudara sudah tahu semua itu.
Nah, di sinilah kita punya tugas.
Cari kembali permata yang hilang itu, gali lagi perbendaharaan yang terpendam, selami lautan
yang penuh dengan mutiara-mutiara bermutu tinggi itu.

Namun jangan sampai lupa bahwa semua itu demi mengagungkan kalimat Allah SWT.
Di samping sebagai seniman atau budayawan muslimin, saudara-saudara adalah seniman atau
budayawan revolusioner, alat revolusi.
Saudara-saudara lahir dalam kancah pergolakan Revolusi Nasional yang simultan dan
multikompleks.

Selaku seniman atau budayawan revolusioner, saudara-saudara harus memahami betul
pedoman pokok-pokok revolusi kita. Dus, saudara-saudara harus menjadi seniman Manipol sejati, Manipolis sejati.

Maka segenap potensi harus memiliki kesadaran politik yang satu dalam cita-cita, satu dalam
kemauan, satu dalam perbuatan, dan satu dalam konsepsi perjuangan, yaitu menyukseskan
Revolusi 17 Agustus 1945.

Sebagaimana telah menjadi common sense daripada seluruh rakyat Indonesia, revolusi kita
yang simultan, multikompleks, dan beraneka wajah bertujuan untuk menyelenggarakan
pembangunan semesta.

Penulis : Dr. K.H. Idham Chalid adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan tokoh Nahdlatul Ulama yang lahir di Satui, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921. Beliau meninggal dunia pada 11 Juli 2010 di Cipete, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Qur’an, Bogor, Jawa Barat.
Penyelaras Bahasa: Imam Hamidi Antassalam.

Catatan: Narasi Pidato ini masih Bersambung ke halaman 30, Harian Duta Masjarakat, 9 November 1964. 

Baca juga: Jejak Muskernas II Lesbumi 1964, Peta Jalan Kebudayaan Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button