Pegiat Film Cilacap Nobar dan Diskusi Ekosistem Seni dan Film

NU CILACAP ONLINE – Puluhan pegiat seni dan perfilman Cilacap berkumpul dalam suasana santai di Aula Gedung Pusdiklat PCNU Cilacap, Jumat (24/10/2024). Acara bertajuk “Menciptakan Ekosistem Seni dan Film Cilacap” ini diisi dengan pemutaran film pendek dan diskusi seputar pengembangan perfilman di Kabupaten Cilacap.

Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi antar pegiat seni, komunitas film, dan pemangku kebijakan daerah untuk merumuskan langkah konkret dalam membangun ekosistem seni yang sehat dan berkelanjutan di Cilacap.

Ada 4 film pendek diputar pada kesempatan ini. Film ‘Nyantri’, satu  film pendek dengan setting latar kehidupan di pesantren membuka aksi nonton bareng. Penonton disuguhi kisah.

Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul ‘Bait Terakhir Alfiyah. Mengisahkan dinamika  santri dalam menghapal nadzam Alfiyah yang syarat dengan tantangan dan godaan.

Film ketiga berjudul pulsa listrik. Berkisah tentang kehidupan satu keluarga di mana sosok ibu harus bekerja keras menghidupi putri sematanya karena ketiadaan sosok suami.

Film keempat berjudul ‘Moderasi Beragama’ yang mengisahkan indahnya perbedaan dalam sebuah keluarga. Film ini mengirim pesan kepada penonton, bahwa perbedaan itu bukan alasan untuk berpecah belah. Saling menghormati dan menghargai adalah kunci agar kerukunan tetap terjaga. Baca juga Digdaya NU, Digitalisasi Data dan Layanan Nahdlatul Ulama

Wujudkan Kabupaten Kreatif

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap H Paiman Sahlan dalam sambutannya menegaskan pentingnya membangun ekosistem film sebagai bagian dari upaya mewujudkan Cilacap sebagai kabupaten kreatif.

“Ekosistem film ini obsesi saya. Ketika dilakukan asesmen di kementerian, dari tiga sektor unggulan—film, kuliner, dan wisata yang paling menonjol justru film,” ungkapnya.

“Kita ingin membangun sistem yang saling terkait antara pemerintah, komunitas, dan pendana. Pemerintah menjadi payung, komunitas yang melaksanakan, pendana yang mendukung, dan akhirnya penonton yang menikmati,” tambahnya.

Dia juga menekankan pentingnya pembentukan karakter khas Cilacap dalam karya film sebagai bagian dari identitas daerah. Baca juga Apa Itu Peta Jalan Kemandirian Pesantren (PJKP)?

Kolaborasi Ekonomi Kreatif dan Seni

Ketua Dewan Kesenian Cilacap Ahmad Nurlaeli yang turut hadir menyampaikan perlunya sinergi antara pelaku ekonomi kreatif dan lembaga kesenian. Baca juga Lesbumi Cilacap-PP Mifathul Huda Garap Film Santri

“Kita perlu menyatukan tim ekonomi kreatif dengan dewan kesenian agar bisa saling mengisi. Harapannya, tahun depan ada dukungan dana dari pemerintah untuk kegiatan perfilman,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis DLH) Cilacap ini. Baca juga Dakwah Bil Film Dan Revolusi Kebudayaan : Lesbumi 1962

“Film bisa menjadi media penyadaran, misalnya tentang pentingnya kebersihan atau nilai-nilai sosial lainnya. Yang penting karya dulu, urusan komersial nanti,” tambahnya.

Sementara, Sekretaris Lesbumi, Nasrudin Mudaf, juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam mendukung eksplorasi sisi pesantren dan kearifan lokal melalui film.

“Dengan identitas masing-masing, kita semua pemilik wilayah Cilacap. Film bisa menjadi sarana untuk mengeksplorasi nilai-nilai itu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button