Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 2026: Dalang Muda Tunjukkan Wayang Masih Hidup dan Menginspirasi

NUCOM, JOMBANG —- Di tengah derasnya arus modernisasi, gempuran teknologi digital, AI, panggung Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 2026 di Unwaha Tambakberas Jombang menghadirkan pemandangan yang meneguhkan harapan. Wayang masih hidup. Dan yang menghidupkannya adalah tangan generasi muda.

Tradisi Tidak Hanya Bertahan. Tapi tumbuh.

Koordinator acara pagelaran ‘Wayang Sekaten’ Lesbumi PBNU yang juga dalang senior asal Malang, Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd,  mengenalkan masing-masing dalang yang akan tabuh saat itu.

Wayang sebagai media dakwah Wali Songo menjadi tradisi yang tidak hanya bertahan. Tapi tumbuh.

Layar putih pun terbentang, lampu blencong menyala, gamelan ditabuh. Lalu muncul dua sosok dalang berblangkon.

Ki Mas Dhalang Riko Kandha Nur Buwana dari Tulungagung, Jawa Timur, dan Ki Sayyid Hamzah dari Mesuji, Lampung. Dua dalang muda 20-an tahun, mereka dari ujung Nusantara, satu panggung.

Dari panggung itulah masa depan budaya terlihat: tradisi tidak hanya bertahan. Dia tumbuh.

Regenerasi yang Terhormat

Ki Riko anggota Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (PAKUDHATU), sekaligus pengurus Lesbumi PCNU Tulungagung.

Ki Sayyid Hamzah pengurus Lesbumi PCNU Mesuji, Lampung. Keduanya tampil di forum nasional atas rekomendasi dalang senior Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd dari Malang.

Itu penanda penting bahwa estafet ppedalangan Nusantara masih jalan. Guru ke murid. Senior ke yunior. Ruang kebudayaan Indonesia masih memberi tempat terhormat bagi anak muda yang mau belajar sungguh-sungguh.

Pelajaran untuk guru seni budaya: regenerasi tidak lahir sendiri. Ia butuh ruang, kepercayaan, dan tepuk tangan.

Lakon “Wahyu Topeng Waja”: Pelajaran keteguhan Karakter

Malam itu mereka membawakan lakon “Wahyu Topeng Waja”. Cerita berat tapi relevan: tentang moral, spiritual, dan keteguhan karakter manusia menghadapi tantangan hidup.

Lewat vokal matang, sabetan luwes, dan catur komunikatif, mereka tidak sekadar menghibur. Tapi mengajak anak muda, guru, warga merenung lewat bahasa simbol pewayangan. Wayang jadi ruang dialog. Nilai leluhur bicara pakai bahasa hari ini. Tanpa ceramah. Cukup sabetan dan suara.

Estafet Tosan Aji: Tombak Karacan Luk 7 dan Keris Pendowo Carito Luk 5

Penampilan Ki Riko dan Ki Sayyid mendapat apresiasi khusus dari Ki Ardhi. Usai pentas, sang senior menyerahkan dua pusaka.

Ki Riko menerima tombak Karacan berluk tujuh. Dalam tradisi Jawa, luk 7 atau pitu simbol perjalanan manusia menuju selaras lahir-batin yakni Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Getih, Puser, Pancer, Nyawa, Sukma.

Tujuh penyangga hidup yang harus seimbang. Pitu juga berarti pitulungan, pertolongan Tuhan. Pesan darinya menyiratkan bahwa sehebat apa pun manusia, tetap butuh petunjuk Sang Pencipta.

Ki Sayyid menerima Keris Luk Lima Pandowo Carito, luk lima. Lima bisa dimaknai lima rukun Islam. Bisa juga anasir Pancasila.

Lima kekuatan di tangan manusia yang dikuasakan Allah: Sedulur papat limo pancer, Kiblat papat limo pancer. Karena lima juga lambang tangan dan kekuasaan yang diamanahkan.

Momen sakral. Dari tangan senior ke yunior. Dari masa lalu ke masa depan. Estafet kebudayaan berlangsung alami, tanpa konferensi pers.

Inisiasi Baru: Perkumpulan Dalang Nahdlatul Ulama

Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi ini melahirkan inisiasi penting. Lesbumi menggagas “Perkumpulan Dalang-Dalang Nahdlatul Ulama”.

“Kenapa harus ada? Untuk menjawab tantangan zaman,” jelas inisiator sekaligus anggota Lesbumi PBNU Ki Ardhi Poerboantono, Senin 15/6/2026.

“Ketika dalang dikritik, dihukumi tontonan bidah, khurafat, menyesatkan, dalang Lesbumi harus bisa jawab tegas. Pakai data. Jelaskan kenapa para Wali pakai wayang. Dalang kudu dijangkepi sinaune. Cakrawala keilmuannya diperluas supaya tidak ketinggalan zaman,” tegas dalang kondang asal Malang itu.

Perkumpulan ini tidak untuk memisah diri dari dalang non-NU. Justru untuk memperkuat eksistensi dalang se-Nusantara. Karena wayang, gamelan, macapat, kidungan adalah gerakan kebudayaan yang diciptakan Wali Songo sebagai alat dakwah: menemani, menghibur, agar Islam diterima baik oleh masyarakat.

Pesan untuk Anak Muda dan Guru Seni Budaya

Muktamar 2026 membuktikan: pelestarian budaya bukan hanya tugas sepuh. Di tangan Ki Riko dan Ki Sayyid, wayang lepas dari cap “kesenian jadul”. Ia jadi ruang kritis, ruang rasa, ruang identitas. Tosan aji pun bukan pusaka mistis, tapi simbol kearifan dan perjalanan spiritual.

Pesan untuk anak muda; “kamu tidak harus pilih modern atau tradisi. Kamu bisa jadi keduanya. Buka HP boleh, buka cengkok juga boleh.

Pesan untuk guru seni budaya; “Ajarkan murid bukan cuma notasi dan gerak. Ajarkan maknanya. Ajarkan kenapa wayang masih perlu. Karena budaya hidup kalau diwariskan, dipelajari, dimaknai ulang, lalu diteruskan.”

Malam itu layar wayang ditutup menjelang subuh. Ki Riko menunduk menerima tombak. Ki Sayyid menggenggam keris. Warga bertepuk tangan.

Muktamar Lesbumi NU memberi proyeksi bahwa jembatan antara warisan leluhur dan tantangan masa depan itu nyata. Namanya anak muda yang mau belajar, guru yang mau mengajar, panggung yang mau memberi ruang, dan organisasi yang mau membentengi.

Budaya akan tetap hidup selama ada yang siap melanjutkan estafet peradaban bangsa. Dan malam itu, estafet itu ada di tangan Ki Mas Dhalang Riko Kandha Nur Buwana asal Tulungagung dan Ki Sayyid Hamzah asal Mesuji, Lampung. (IHA)

Baca juga: Muktamar Kebudayaan 2026, Lesbumi Gelar Wayang Semalam Suntuk: Tiga Dalang, Tiga Pelajaran Agama, Ilmu & Seni

Gus Yusuf: Gus Dur hingga Buya Said, Lesbumi Jadi Rumah Kultur, Budaya Muslim Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button