Seni Budaya

Dakwah Bil Film Dan Revolusi Kebudayaan : Lesbumi 1962

Dakwah Bil Film atau Dakwah dengan sarana media tayang film sangat efektif, begitulah model pengembangan dakwah yang dilakukan NU kala itu melalui Lesbumi; Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia yang didirikan oleh tiga serangkai filmaker Indonesia, H Djamaluddin Malik, Asrul Sani dan Usmar Ismail. Pada Tahun 1962 di Bandung. Allah Yarham..

Menurut Sejarawan KH Abdul Mun’im DZ, awal Lesbumi didirikan bertujuan dalam rangka dakwah dengan jalur kesenian maupun kebudayaan (adat istiadat masyarakat). Di awal kepemimpinan Lesbumi PBNU dipimpin oleh seniman bidang film. Maka media Film menjadi model pengembangan dakwah Islamiyah An-Nahdliyah yang diamini lebih efektif, mengena dan strategis. Itu tercermin dalam pidato tokoh Lesbumi, Asrul Sani.

“Asrul Sani mengatakan, ‘Betapa efektifnya media film untuk berdakwah. Juga media lainnya seperti sastra yakni cerpen, drama, untuk mendidik masyarakat terutama Warga Nahdliyin’,” kata Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Mun’im dalam acara Live Jurnal 9 Pagi Akhir pekan bertajuk ‘Usmar Ismail dan Anugerah Pahlawan Di Jalur Kebudayaan (Perfilman)’ yang disiarkan langsung oleh TV9, Sabtu, (13/11)

Ketua Pengurus Pusat (PP) Lesbumi NU KH M Jadul Maula juga mengemukakan dengan hadirnya Lesbumi sebagai Badan Otonom bidang kebudayaan NU di masa awal berdiri (1962) Lesbumi NU mengetengahkan cara baru dengan sarana seni film sebagai model dakwah yang dikembangkannya, hal revolusioner saat itu, maka dakwah bil Film lebih Revolusioner dari dakwah model lainnya.

“Para Ulama, kiai, tokoh NU secara konsisten dan istiqomah biasa menggunakan media sastra (buku maupun kitab), anggitan syiiran, maupun tembang sebagai media dakwahnya, tapi apa yang dilakukan Lesbumi NU yakni dakwah bil film sungguh Revolusioner!.

“Mengapa? Misal melalui Darah Dan Doa, Film Almagfurlah H Usmar Ismail (Pendiri Lesbumi NU dan Ketua PBNU 1964) dalam perkembangannya disambut baik, kemudian diputar di cabang-cabang dan wilayah-wilayah. Melalui ‘Layar tanjleb’ film yang di distribusikan dan putar di daerah-daerah, itu menyedot perhatian banyak orang, semua kalangan. Lalu lebih luar biasanya lagi, berkat dakwah bil film itu di lingkungan NU bahkan pesantren. Tiap cabang, wilayah, terutama di madrasah-madrasah, di Banom-Banom NU seperti Ansor, PMII, IPNU-IPPNU membuat komunitas drama, teater hingga komunitas cinema,” katanya.

Ketua Dewan Penasehat Kebudayaan Lesbumi NU KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus mengemukakan film Darah dan Doa mengantarkan Usmar Ismail menjadi Pahlawan Nasional. Dikatakan model dakwah Almagfurlah Haji Usmar Ismail dengan sarana film atau dakwah “bil film” mengadopsi konsep dakwah bil hal, yang mengetengahkan dakwah lewat tayangan maupun perbuatan baik yang dilakukan secara terus menerus. Demikian juga merupakan anjuran agama. Di samping tontonan juga sebagai tuntunan.

Dijelaskan bahwa dakwah Bil Film itu tanpa harus berpidato, menggurui dengan banyak omong, tidak melulu dakwah bil lisan. Dakwah lewat media tayangan film tersebut diilhami oleh cara mengajak yang dilakukan para pendahulu, yakni sikap budaya para wali sanga dalam upaya amar ma’ruf nahi mungkar, seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Pada masanya, Para Wali Sanga seperti Sunan Bonang berdakwah dengan sarana alat musik bonang, sedangkan Sunan Kalijaga menggunakan media wayang. Gus Mus, Budayawan sekaligus Ulama yang kini berusia 76 tahun itu meyampaikan, gagasan-gagasan, maupun pola dakwah yang dilakukan oleh Muassis Lesbumi NU Almagfurlah KH Usmar Ismail perlu dikembangkan agar lebih maju. Mengingat saat ini, eranya digital, sehingga jika film digarap secara profesional, maka akan bisa diterima umat. Apalagi konten dakwah yang disiarkan ialah hal otentik, ihwal kemaslahatan umat, dalam gelora revolusi kebudayaan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Hal otentik berarti tanpa campur tangan, bukan film propaganda, bukan film pesanan, tapi film original yang mengalami sensor dan berdasarkan rasio pengetahuan yakni telaah proses kajian ilmu yang diajarkan guru. Guru dari guru. Guru dari kiai. Kiai dari kiai. Kiai dari wali. Wali dari wali, dan bersambung terus sampai Sahabat, Rasulullah (Muhammad SAW), Malaikat Jibril, hingga sampai Yang Maha Ilmu yakni Allah SWT. Sanadnya musalsal, sanad ilmunya jelas, jadi bisa dipertanggungjawabkan.

Melalui Film Darah dan Doa itu mengingatkan kita semua betapa luhur dan dalam nilai spritualitas yang terkandung dan sampaikan, Inilah sikap budaya dan ciri khas orang Nahdlatul Ulama yang penuh kasih sayang dan meneduhkan, sehingga mengantarkan sang muassis, Bapak Pendiri Lesbumi NU, Alkarim KH Usmar Ismail menjadi Pahlawan Nasional 2021.

Ketua Dewan Penasihat Kebudayaan Lesbumi PBNU, KH Mustofa Bisri, menilai bahwa Lesbumi NU kini telah memasuki masa kebangkitan, setelah lama mati suri sebab gerakannya dimungkinkan ‘berbahaya’ dan dibekukan selama era Orde Baru. Maka setelah di hidupkan kembali oleh Presiden KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), Lesbumi NU sebagai lembaga pergerakan bidang kesenian dan kebudayaan Nahdlatul Ulama diharapkan bisa kembali menampilkan ciri Nahdlatul Ulama yang penuh kasih sayang, meneduhkan, dengan kesenian dan kebudayaan yang luhur seperti pernah dicontohkan oleh pendahulu-pendahulunya, ungkap Gus Mus, sapaan akrab mantan Rais Aam PBNU ini.

Konser Musik Lesbumi Ansambel Orkestra

Pada Jumat Pon (29/10), Malam 22 Mulud 1443 H, di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta Lesbumi NU menggelar Konser musik Lesbumi Ansambel Orkestra, disiarkan langsung melalui channel youtube kaliopak.com dan NahnuTV.

Konser dihelat sebagai persembahan Lesbumi NU pada para muassis dan keluarga Lesbumi NU seperti H. Djamaludin Malik, asrul Sani, Usmar Ismail dan lainnya. Karena Muassis, dan kepada merekalah merujuk dan melanjutkan khidmah perjuangannya, Namun demikian pun restu para kiai-ulama-alim ‘alamah NU yakni dengan penuh harap dapat restunya, Lesbumi kembali ke Khittoh 1962 sebagai Lembaga Kebudayaan Nahdlatul Ulama, yang merupakan Badan Otonom NU.

Konser demikian pun dipersembahkan sebagai cendramata, apresiasi Lesbumi NU kepada pemerintah atas anugerah yang diberikan kepada Muassis Lesbumi NU, Usmar Ismail melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109 Tahun 2021, Usmal Ismail diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Malam itu, pertunjukan konser semakin khidmat setelah diketuk dengan nyanyian kebangsaan dan yalal wathon oleh grup musik Lesbumi Ansambel Pesantren Budaya Kaliopak, demikian pun setelah dibuka dengan mukadimah kata sambutan ketua PP Lesbumi NU KH Muhammad Jadul Maula.

Pembacaan Empat Poin Utama Hasil Musyawarah Rakornas IV Lesbumi NU oleh Sekretaris PP Lesbumi NU KH Abdullah Wong. Dan malam pun makin gayeng setelah Dalang Wolak Walik Ki Jumali (Lesbumi Malang) Tampil, Makin syahdu setelah irama ‘Senandung Saptawikrama’ dibawakan oleh musisi Sastro Adi Wiyono yang adalah seorang rocker awak power metal.

Pertunjukan pun makin dalam dan menjadi, saat Budayawan KH Abdullah Wong merisalahkan Santri, Kiai, Islam, Nusantara dan Indonesia dalam puisi, dalam bait sajak-sajak sunyi, dan semakin kontemplatif saat ketika puisi itu berpadu dengan alunan musik sang musisi Sastro Adi. Dan Pertunjukan pun ditutup oleh Ki Dalang Ardi (Malang) dengan suaranya yang merdu dan menyentuh kalbu. Tiba-tiba malam pun menjadi pagi, Betapa mengenang, begitu Syahdu…

Baca Juga >> Film “Kecele” Fatayat NU: Pernikahan dan Paradoks “Sudah Pantas”

Imam Hamidi Antassalam, Penggiat Budaya, Ketua Lesbumi NU Majenang, Sekretaris PC Lesbumi NU Cilacap.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button