Dokumentasi

Lesbumi Jadi Banom NU Ditolak, Ini Tanggapan Lesbumi PBNU

Usulan Lesbumi menjadi Badan Otonom NU (Banom) ditolak dalam Munas dan Konbes NU yang baru lalu, bagaimana tanggapan pengurus Lesbumi PBNU?

Peralihan status Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) menjadi Badan Otonom NU (Banom) ditolak, tidak mendapat dukungan dari mayoritas Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), alasannya, kontrol yang sulit jika ada perubahan status ke Badan Otonom menjadi satu di antara beberapa alasan para pengurus PWNU.

Keputusan penolakan Lesbumi menjadi Banom NU dikukuhkan melalui Sidang Pleno Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2021 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Ahad (26/9).

“Usulan perubahan status Lesbumi menjadi badan semi otonom tidak disetujui oleh sidang dengan voting, dengan perincian empat suara setuju dan delapan suara tidak setuju,” kata Imam Pituduh, Ketua Komisi Organisasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2021 di Sidang Pleno.

Sebelumnya, pada Sidang Komisi, Sabtu (25/9) malam, Ketua Lesbumi KH M Jadul Maula menjelaskan bahwa tidak lebih dari 10 Lesbumi yang hadir pada Muktamar Ke-32 NU Tahun 2010 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lesbumi Tahun 2019 di Pasuruan, Jawa Timur, hadir ratusan perwakilan Lesbumi dari PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Hal tersebut menunjukkan bahwa animo perkembangan yang cukup pesat di tubuh Lesbumi.

Kiai Jadul menegaskan 95 persen peserta Rakornas menyepakati perubahan status Lesbumi menjadi badan otonom. Hal demikian, lanjutnya, untuk meningkatkan koordinasi dan perkembangannya. Selain itu, ia menjelaskan bahwa Lesbumi saat pertama kali didirikan juga merupakan badan otonom. Perkembangannya mandeg semenjak peralihan kepemimpinan nasional dari Orde Lama ke Orde Baru.

“Kalau tidak dikembalikan ke asal usulnya yakni banom lagi akan sulit berkembang,” katanya.

Melalui badan otonom, menurutnya, pelaksanaan tujuh strategi kebudayaan atau Saptawikrama yang telah dirumuskan sebagai penerjemahan atas Islam Nusantara diyakini akan lebih cepat terakomodir dan terkordinir.

Baca Artikel Terkait

Disampaikan Kiai Jadul kepada beberapa pengurus PBNU yang tanya perasaannya, terkait usulannya yang tidak disetujui.

“Saya sampaikan, saya tetap bersyukur, karena yang utama bagi Lesbumi itu bukan Badan Otonom, tetapi JIWA OTONOM” Kelakarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Margaret tidak mempermasalahkan perubahan status Lesbumi menjadi badan otonom. Namun, lanjutnya, perlu penambahan nama NU di dalamnya mengingat seluruh badan otonom menyematkan nama NU, seperti Fatayat NU, Muslimat NU, Ikatan Pelajar NU, Ikatan Pelajar Putri NU, dan sebagainya. Konon, usulan demikian tidak disetujui perwakilan PWNU. Pasalnya, nama Lesbumi sudah mendunia dan bersejarah.

Sekretaris Lesbumi PBNU, Sastro Adi menaggapi ihwal keputusan dalih voting, dia mengemukakan beberapa hal terkait pertanyaan besarnya sebenarnya adalah Apa alasan Lesbumi menjadi banom? bukan masalah Match soal namanya apa nantinya? ini yang harus diketahui oleh pengurus NU disemua tingkatan dan di mana pun berada.

Dijelaskan perkembangan Lesbumi di setiap daerah hingga di tingkat ranting ini perlu diapresiasi, dan diperhatikan.

Di lain sisi, menurut Gus Sastro Adi, musisi Power Metal, diterangkan bahwa tantangan pengurus Lesbumi di setiap daerah, di semua tingkatan sebagian besar adalah sama yaitu perlunya penyederhanaan birokrasi Lesbumi sebagai lembaga yang menginduk kepada NU, anggaran anggaran kebudayaan, CSR, program seni budaya yang menuntut kelengkapan dan tata kelola organisasi yang baik sering kali menjadi kendala.

“Saya mencatat setiap kesulitan yang terjadi ketika kita mau mengusahakan gerakan dan terbatas dana, akses segala macam masih harus muter ke pengurus NU, masih harus tanya SK KEMENKUMHAM, NPWP, Tanda tangan ini itu, bla bla bla, lha kita ini seniman budayawan ngurus birokrasi begitu2 bisa hilang moodnya, tapi kalo kita bisa mengurus otonomi agenda kita sendiri, ya tentunya akan meringkas itu semua,” akunya

Maka perlu bersama perhatikan betul, dia mengingatkan, kenapa pendekatan Kiai Agus menggunakan Wirid Saptawikrama, Kiai Jadul dengan Haul Sunan Kalijaga, ini tidak sekedar mengadakan event sekali lagi event, ini gerakan nyata mengingatkan lagi bahwa budaya kita musyawarah, tahlilan, manaqiban, marhabanan, sudah semakin mengarah ditinggalkan.

“coba ingat lagi…..selalu menghubungkan dengan teori global, tidak hanya sekedar bicara konspirasi ala ala..,” terangnya.

Dijelaskan gagasan ASRAMA SAPTAWIKRAMA untuk pengurus Lesbumi dan PRAMISTARA untuk Pondok Pesantren yang dimotori sejak awal kepengurusan Almagfurllah KH Agus Sunyoto sangat efektif sebagai kelas sosialisasi Kebijakan kebudayaan LESBUMI yaitu SAPTAWIKRAMA.

“Terbukti seperti yang saya katakan di atas, Lesbumi berjamur dengan pesat pendiriannya, dari cabang hingga ranting di daerah daerah, dan Kiai Agus sendiri yang langsung turun tangan hingga ke daerah. Faktanya memang terjadi demikian.” Tuturnya

Mendengar pengambilan keputusan Munas-Konbes NU 2021 kemarin usulan Lesbumi jadi Banom tidak diserujui dan kalah berdasarkan voting, hal tersebut sangat disayangkan, ketergesaan dengan minimnya pertimbangan-pertimbangan sebagaimna diharapkan. Namun demikian hal inilah yang perlu semua tahu.

“Namun karena voting, kita kalah dan barangkali sudah di drop diagenda muktamar, maka sangat berat untuk menaikkan ke dalam materi komisi-komisi di Muktamar NU ke 34 Desember nanti, dan ini akan menjadi PR di Muktamar 35 mendatang lagi.” keluhnya

Baca Artikel Terkait

Dia menceritakan satu bulan sebelum Almagfurllah KH Agus Sunyoto wafat, menurut penuturan Bu Nyai, Kiai Agus turun sendiri mengecek Lesbumi ke PC-PC dan beliau sangat bangga karena ternyata Lesbumi hingga ranting-ranting, ketersediaan Lesbumi di PW-PC-hingga ranting sangat pesat dan tersedia merata di seluruh indonesia bahkan ke PCI NU.

Dijelaskan dan apabila menengok data Kiai (Almagfurllah KH Agus Sunyoto-red) Lesbumi dari masa ke masa sangat mendetail dan lengkap, beliau tahu betul apa yang menjadi tantangan, apa yang menjadi sandungan, apa yang menjadi halangan dan berapa besar potensinya.

“Jadi sangat wajar saja jika beliau move…. move…..kita semua untuk menjadi lebih solid lagi ke arah Banom. Sekaligus beliau juga menantang kita WIS SIAP TA LEK DADI BANOM.” Kenangnya

Wakil Ketua Lesbumi PBNU Candra Malik menyatakan jika Lesbumi menjadi Banom, Lesbumi bisa tetap bernama Lesbumi.

“Singkatan kata Lembaga bisa diubah menjadi peLestari atau peLestarian,” tambahnya.

“Saudara semua di sini (Lesbumi-red) sangat keren dan memang manusia-manusia keren, mau, bersedia, sudi mewakafkan jiwa seninya, sikap budayanya untuk ummat, dimasukkan oleh Allah di organisasi yang telah terbukti dari jaman ke zaman, mengawal kepribadian bangsa, apalagi kita ini pengurus NU yang sudah jelas-jelas organisasi keagamaan, keummatan, sosial, yang berarti kita punya tugas ganda, yo dadi Kiai, yo dadi seniman, ini memang sangat berat, jadi sangat wajar jika tantangan kita juga sangat berat.” Pesan tertulisnya via grup whatsaap yang memuat para aktivis Lesbumi di semua tingkatan dari PB-PW-PC-hingga Ranting.

Mugi-mugi kinabulaken saget kasembadan. Semoga terkabul bisa terwujud. Lesbumi menjadi Banom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

sixteen − fifteen =

Back to top button