Khutbah Jumat: Dzulhijjah Meneguhkan Ketakwaan, Menguatkan Persaudaraan, dan Merawat Cinta Pancasila

NU Cilacap Online – Para pendiri bangsa dahulu mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa agar Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang merdeka dan bersatu. Karena itu, mencintai Pancasila bukan sekadar menghafal lima silanya, tetapi mengamalkan nilai-nilainya.
Khutbah Jum’at pada kesempatan ini mengangkat judul: “Meneguhkan Ketakwaan, Menguatkan Persaudaraan, dan Merawat Cinta Pancasila”. Naskah Khutbah Jum’at ini di susun oleh Kiai Muhammad Mas’ud Ketua LD PCNU Kota Salatiga.
Khutbah Jumat tersedia dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Download Khutbah Jum’at bahasa Jawa
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah
Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat, hidayah, serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita masih bisa mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Shalawat dan salam mari kita sampaikan ke pangkuan beliau nabi agung Muhammad SAW. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin…
Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengajak pada diri dan para jama’ah untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu menjalankan apa yang di perintahkanNya dan menjauhi segala larangan-larangaNya, karena dengan iman dan takwa inilah Allah akan menjadikan hidup kita lebih terang.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hadid ayat 28.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Hadid ayat 28)
Jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah
Hari ini kita masih berada di bulan dzulhijjah/besar dan empat hari yang lalu kita sebagai warga negara Indonesia juga turut memperingati hari lahir/kesaktian Pancasila sebagaimana pemerintah juga memperingatinya dengan menandakan tanggal merah untuk melaksanakan perenungan dan upacara
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika Nabi Ibrahim a.s. saat menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya berkata, “Ya Allah, bolehkah saya menunda?” Atau Nabi Ismail berkata, “Ayah, saya belum siap?”
Namun sejarah mencatat hal yang berbeda. Ketika perintah Allah datang, keduanya memilih taat tanpa syarat. Dari peristiwa itulah lahir pelajaran besar tentang iman, pengorbanan, dan kepentingan bersama yang diletakkan di atas kepentingan pribadi.
Hari ini ketika kita berada dalam bulan Dzulhijjah, kita selalu diingatkan tentang keteladanan Nabi Ibrahim as, Ismail As, dan Siti Hajar, sebenarnya Allah mengajak kita bukan hanya menjadi hamba yang rajin beribadah, tetapi juga menjadi warga bangsa yang mampu mengorbankan ego demi persatuan, mengutamakan kepentingan bersama, serta menjaga keutuhan Indonesia sebagai rumah besar yang diwariskan para pendiri bangsa.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah
Sebagaimana Allah berfirman tentang Keteladanan Nabi Ibrahim dan Makna Pengorbanan dalam QS Ash-Shaffat: 103-105
فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥
Artinya: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggillah dia: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS. Ash-Shaffat: 103-105)
Kisah ini mengajarkan bahwa keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa besar ketaatan dan kesediaan kita berkorban demi nilai-nilai yang benar. Pengorbanan itulah yang menjadi inti ibadah kurban.
Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Jamaah Jumat rahimakumullah
Nilai terbesar yang diajarkan Dzulhijjah adalah pengorbanan demi kemaslahatan yang lebih besar. Nilai ini sangat relevan dengan semangat Pancasila.
Para pendiri bangsa dahulu mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa agar Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang merdeka dan bersatu.
Karena itu, mencintai Pancasila bukan sekadar menghafal lima silanya, tetapi mengamalkan nilai-nilainya.
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Keteladanan Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kehidupan harus berlandaskan tauhid dan ketaatan kepada Allah.
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ibadah kurban mengajarkan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada yang membutuhkan tanpa memandang suku, golongan, ataupun status sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Ibadah haji memperlihatkan jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul dengan pakaian yang sama, tujuan yang sama, dan kiblat yang sama.
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini sejalan dengan semangat menjaga persatuan bangsa Indonesia yang beragam suku, bahasa, budaya, dan agama.
Sila Keempat dan Kelima
Musyawarah, keadilan, gotong royong, dan kepedulian sosial merupakan nilai yang hidup dalam ajaran Islam dan menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Oleh karena itu, menjadi muslim yang taat dan menjadi warga negara yang mencintai Pancasila bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari jadikan bulan Dzulhijjah sebagai momentum memperkuat ketakwaan, memperbanyak amal saleh, menghidupkan semangat berbagi, menjaga persatuan, menebarkan kedamaian, serta merawat cinta kepada Indonesia sebagai amanah Allah yang harus dijaga bersama.
.أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْأنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ ذِكْرِالحَكِيْمِ
وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ فِي الْعِبَادَةِ، وَمِنَ الْمُتَّقِيْنَ فِي الْقُرْبَانِ، وَارْزُقْنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً وَأَعْمَالًا صَالِحَةً .
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَا مَّةً˛ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Download Khutbah Jumat bahasa Indonesia
Editor bahasa: Khayaturrohman




