Dokumentasi

Mengapa Lesbumi Harus Kembali Menjadi Badan Otonom?

Mengapa Lesbumi Harus Kembali Menjadi Badan Otonom? Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) saat pertama kali didirikan juga merupakan badan otonom. Berikut ini alasan utamanya. Sebuah ulasan, gambaran yang disampaikan oleh Ketua Lesbumi PBNU Almagfurllah KH Agus Sunyoto yang dikenal sebagai Bapak kebangkitan Lesbumi.

Sejak Kapitalisme Global menggurita dengan skenario yang dirancang, yaitu Program Globalisasi yang bertujuan ”Memusnahkan identitas etnis, bahasa, budaya, agama, negara nasional menjadi trans nasional”.

Sementara itu, gencar sekali gerakan internasionalisasi pada dekade 1990-an dengan akibat buruk tersingkirnya unsur lokal dari seni, tradisi, budaya, agama, ekonomi, negara. Semua tergantikan unsur global trans nasional.

Mereka memberantas lokalitas lewat jaringan Islam trans nasional seperti Hizbut Tahrir, lkhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Jamaah lslamiyyah, dan kadrun Wahabi; dengan tudingan bid’ah, musyrik, sesat, kafir, dan lain-lain, tentu dengan dana yang sangat besar.

Selanjutnya, Globalisasi berhasil mempengaruhi bangsa-bangsa yang diam-diam berubah dalam nilai, konsep, ide-ide, gagasan, pandangan sesuai targetnya. Fakta menunjuk NU menjadi hambatan besar karena masih bertahan dengan identitas lokal, termasuk melalui gagasan lslam Nusantara.

Di tengah gencarnya pengaruh global yang menggelombang, NU tetap konsisten bertahan dengan paradigma, dogma, doktrin, dan mitos tradisi budayanya. Ini semua jadi masalah krusial yang menghadang keberhasilan program globalisasi.

Dan di tengah keberadaan NU sebagai penghalang bagi keberhasilan program globalisasi. Hal ini tidak kalah berat menjadi penghalang adalah Lesbumi sebagai organ NU.

Fakta menunjukan, sejak dua tiga tahun belakangan ini, Lesbumi di daerah-daerah membangunkan seni, tradisi, budaya lokal secara massif dan terstruktur, dengan strategi kebudayaan Saptawikrama.

Tidak butuh kecerdasan tinggi untuk bisa menduga bahwa Lesbumi akan jadi target utama untuk program penghancuran karena kedudukannya yang vital dan strategis dalam melestarikan dan mengembangkan bahkan menghidupkan seni, tradisi, budaya lokal, musuh utama globalisasi.

Baca Artikel Terkait

Kebulatan Tekad

Secara geopol, geostra dan world system menjadi keharusan bagi NU dan khusus Lesbumi untuk melakukan konsolidasi, memperkuat pertahanan organisasi untuk melakukan resistensi terhadap globalisasi.

Memang Lesbumi berusaha untuk kembali menjadi Banom, sebagaimana Lesbumi semula, sebelum “dibubarkan” selama Orde Baru. Dewasa ini Lesbumi telah terbukti mampu membentengi perfilman, musik, seni pertunjukan nasional dari pengaruh Barat.

Usaha Lesbumi memperkuat diri dengan menjadi Banom, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Begitulah, menjelang Muktamar NU ke-34 sudah tampak usaha-usaha menghalangi Lesbumi menjadi Banom.

Lebih lanjut, untuk mempengaruhi pandangan Lesbumi di cabang-cabang mereka menggulirkan isu bahwa menjadi Banom adalah sama dengan memisahkan diri dari NU. Ini aneh. Memang Lesbumi daerah bodoh tidak faham perbedaan Banom dan Lembaga.

Kita semua membutuhkan kesamaan visi dan misi, dengan memahami masalah substansial NU, Lesbumi khususnya,  Juga kebulatan tekad untuk seia-sekata menjadikan kembali Lesbumi sebagai Banom. Agar bisa efektif dalam konsolidasi dan kordinasi menghadapi terjangan gelombang globalisasi di era Millenial.

Semoga Allah menolong kita dari marabahaya yang terang maupun yang samar.

Kotributor: Isfandiari Djunaidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

9 + sixteen =

Back to top button