Gus Yusuf: Gus Dur hingga Buya Said, Lesbumi Jadi Rumah Kultur, Budaya Muslim Indonesia

NUCOM, JOMBANG – Pada hari ketiga,
Ahad, (14/6/2026) Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU, jadi Rumah Kultur, Rumah Budaya Muslim Indonesia. Aula kampus Unwaha Tambakberas Jombang penuh. Kalangan tokoh, seniman, akademisi, budayawan, santri, kiai dari seluruh Indonesia duduk melingkar. Giliran Gus Yusuf (KH Yusuf Chudlori) bicara. Ia membuka dengan satu cerita yang “sudah puluhan kali” didengarnya dari Gus Dur.

Fatwa Kiai Chudlori: “Sing Penting Rukun”

Gus Yusuf mengawali dengan kisah, Cerita itu terjadi di Tegalarjo, saat Gus Dur masih umur 15-16 tahun. Kiai Chudlori, ayah Gus Yusuf, didatangi dua rombongan dari Desa Tepus, 7 kilo dari pesantren.

Kelompok pertama pegiat seni. Ngot: bondo desa buat beli gamelan second murah, mumpung ada.
Kelompok kedua aktivis masjid. Ngotot juga: bondo desa buat rehab masjid, Ramadan sebentar lagi masjid pasti penuh.

Bawa ke kiai. Karena di Madura-Jawa, persoalan kultural biasanya diselesaikan kiai. Aktivis masjid yakin menang. Masa kiai milih gamelan?

Ternyata Kiai Chudlori dawuh: “Pun, damel tumbas gamelan mawon.” Beli gamelan saja.
Rombongan seni sorak dalam hati. Rombongan masjid kecewa, protes: “Maksudnya apa Kiai?”

Jawab Kiai Chudlori tenang: “Sing penting rukun. Mengko nek wis rukun desamu, masjid jedul kabeh dewe. Masjid akan muncul dengan sendirinya. Apa artine duwe masjid megah, ning masyarakatmu pecah. Masjidmu kosong, belondang ora ono sing ngisi.”

Gus Yusuf baru sadar kenapa Gus Dur selalu mengulang cerita itu. “Gus Dur ingin netepi jalan dakwah Walisongo. Islam itu rahmat, bunga untuk warga masyarakat,” ujarnya.

“PCNU Jombang Bak Lebanon”: Amanah Harmoni

Gus Yusuf menyambung cerita sowan ke Gus Fahmi, Ketua PCNU Jombang. Gus Fahmi bilang: “Jombang kuwi PC-ne koyok Lebanon. Siap-siap katone konflik terus.” Gus Dur memang pernah nyabda begitu. Sampai-sampai konflik PCNU Jombang satu-satunya yang sampai PTUN.

Dari situ Gus Yusuf menarik benang merah: tugas Lesbumi hari ini adalah mengharmonisasi konflik. “Ketika masih bisa membungkus semuanya dengan seni budaya, konflik itu masih berbudaya, beretika, dan santun,” katanya.

Budaya punya 3 unsur: etik, artistik, logika. Adapun Politik, ekonomi, di sini konflik pun kalau masih pakai sopan santun, masih indah, masih masuk nalar, itu berbudaya.

“Tapi konflik kita sekarang sudah _los_. Etik hilang. Pengurus ranting berani kritik Rais Aam terbuka di medsos. Artistik hilang. Isinya klarifikasi demi klarifikasi, barbelas, tidak nyeni. Logika juga hilang. Dulu konflik ulama bermutu. Sekarang konfliknya ‘gagah soal gawe ulah’,” tegasnya.

NU Kering Gagasan, Lesbumi Harus Hidupkan Kultur

Gus Yusuf prihatin. “NU hari ini kering, Mas. Kering gagasan. Lakpesdam tidak produktif lagi sejak ketuanya naturalisasi. Civil society NU hilang.”

Buktinya: waktu Andri disiram air keras, 20 penggiat demokrasi respon. “Satu pun tidak ada yang NU di belakangnya. Kita absen terus,” ucapnya. Zaman Gus Dur, 600 mahasiswa dipenjara, NU hadir. Sekarang NU terlalu asyik urus MBG, urus “lambe”, lupa rumah besar untuk aktivis.

Ia mengapresiasi Lesbumi jadi Banom. Struktur kuat itu bagus. Tapi jangan terjebak struktural. “Kekuatan NU itu di kultural. Bahasa NU: _self defense system_. Kreatif, inovatif, berkreasi. Itu pagar kita dari infiltrasi kekuatan luar,” ujarnya.

Ia mencontoh Buya Syafii Maarif. Dia bilang: “Beruntung sampean di NU. Di Muhammadiyah tidak ada kekuatan kultur seperti ini. PKU Jogja sekarang dikuasai kanan. Kampus Muhammadiyah diinfiltrasi. Kalau di NU, orang kanan mau masuk, wis gegeran. Harus tahlilan dulu, harus manakiban dulu.”

“5 Tahun ke Depan, Budaya Jadi Panglima”

Gus Yusuf lalu bicara pendidikan. Anak sekarang pintar, cerdas, tapi kering soft skill. Tidak luwes bergaul, tidak punya jiwa petarung. “Di pesantren NU kita dilatih cangkruan, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Itu budaya networking. Melatih wani. Gus Dur itu pintar kok wani. Itu angel.”

Ia mengutip Kiai Said Aqil Siraj: “Ini titik terendah kita. Bareng-bareng bangkitkan lagi.” Konflik sudah merambat dari PB sampai bawah. Kiai-kiai juga “pendil-pendile barbar”.

Tapi garis pokoknya satu: seni budaya adalah roh perjuangan NU.

“Maka tidak berlebihan. Kalau kemarin politik jadi panglima di NU, kemarin ekonomi jadi panglima, maka 5 tahun ke depan budaya jadi panglima. Semua program disensor dulu: ada saripati etik budayanya tidak? Kalau oke, jalan. Ke depan mau konflik, konflik yang berbudaya,” pungkas Gus Yusuf.

Ruangan hening sejenak. Lalu tepuk tangan. Dari cerita gamelan Desa Tepus, lahir mandat besar: kembalikan NU sebagai rumah gagasan, rumah kultur, rumah yang wani tapi santun. (IHA)

Baca juga: KH M. Jadul Maula: Pembacaan Teks Pembukaan UUD 1945 itu Suci, Kembali Ke Akar NKRI

Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA: Kiai Wahab, Sepanjang Hayat Semangatnya Tak Pernah Luntur

KH Abdul Wahab Hasbullah: Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button