Haji Riang Gembira 2023 Part 11: Lempar Jumrah, Rapat di Mina

NU CILACAP ONLINE – Sementara para jamaah pulang dari lempar jumrah ke tenda masing-masing di Mina, para petugas haji, pembimbing, karom, dan beberapa karu diminta untuk langsung merapat (melaksanakan rapat di Mina) di sebuah lokasi dekat toilet untuk menyikapi kondisi yang ada.

Usai lempar jumrah aqabah, jamaah haji pulang ke tenda di Mina dengan perasaan puas dan plong sekali. Serasa prosesi haji sudah selesai.

Saya melihat wajah-wajah berseri penuh kemenangan. Menang melewati teriknya Muzdalifah, menang mengatasi nafsu amarah ketika melihat kenyataan tenda sudah penuh, dan memenangkan perang dengan setan yang disimbolkan dengan melempar jumrah. Lengkap sudah kemenangannya.

Istirahat, Berdzikir

Sesampai di Mina, acara dilanjutkan dengan istirahat, tidur. Acara ini dijalaninya dengan sangat sukses. Mereka tidur di dalam dan di luar tenda. Ketika pagi menjelang, ternyata yang tidur di luar tenda, di emperan banyak juga.

Mereka tidur beratapkan langit, tanpa nglilir, nyenyak sekali. Ketika salah seorang ditanya kenapa milih tidur di luar? Jawabnya, “…turu nang njaba karo nang njero ya pada bae, angger matane wis merem ya angler…”.

Di MIna Tidur Usai Lempar Jumrah

Hari berikutnya, tidak ada acara khusus. Jamaah hanya diminta mempersiapkan diri untuk melempar jumrah di tanggal 11 Dzulhijjah pada jam 17.00. Untuk mengisi waktu sampai jam 17, jamaah kebanyakan melakukan kegiatan memperbanyak dzikir, berdoa, membaca al Quran.

Ada juga jamaah yang memperbanyak tidur dengan alasan untuk menyusun energi baru. Ada lagi jamaah yang aktif memperbarui status di medsosnya. Golongan yang disebut terakhir ini selalu gelisah kalau kekuatan batery-nya sudah berada di bawah 20%. Mereka segera mencari sumber energi baru di manapun, karena colokan nyaris selalu full dengan charger.

Jam 16.30 jamaah mulai berkemas mempersiapkan diri ke jamarat. Mereka yang masih berada di dalam tenda, sibuk mengisi tasnya dengan air mineral, semprotan, dan tentu saja HP sebagai bekal. Ada yang sibuk menghitung batu yang harus dibawa, mencatat nama-nama yang harus dibadali, ngapalin doa-doa. Ada juga yang sudah siap di depan pintu keluar.

Tinggal menunggu jam 17.00 tepat dan komando dari ketua kloter mas Amrul Mukmin dan mas Arif Himawan KBIHUNU yang sudah stand by di depan pintu keluar sembari melakukan koordinasi dan kontak-kontak dengan pihak-pihak terkait.

Rapat Darurat

Ketika jamaah sudah siap berangkat semua dan jam sudah menunjuk ke angka 17.00, mas Arif menyampaikan pengumuman dengan tegas bahwa kondisi sekarang sedang crowded, jalan ditutup, dan kita akan berangkat dua jam lagi. Jamaah kompak langsung balik arah ke tenda masing-masing. Mereka sam’an wa tha’atan. Luar biasa. Saya tidak mendengar ada jamaah yang menggerutu.

Sementara para jamaah pulang ke tenda masing-masing, para petugas haji, pembimbing, karom, dan beberapa karu diminta untuk langsung merapat di sebuah lokasi dekat toilet untuk menyikapi kondisi yang ada.

Rapat di Mina memutuskan beberapa hal penting dan krusial.

Pertama, bahwa kloter SOC 70 mengambil nafar awal, artinya para jamaah sudah harus keluar dari Mina sebelum matahari terbenam pada tanggal 12 Dzulhijjah. Keputusan ini diperoleh setelah berkonsultasi dengan KBIHUNU dan diberi izin.

Kedua, yang berangkat ke jamarat hanya yang sehat dan kuat saja, sehingga satu orang yang berangkat ke jamarat membadali beberapa orang.

Ketiga, keberangkatan ke jamarat dilakukan pada jam 20.00, tidak lebih. Ini untuk memastikan bahwa pelemparan jumrah ula, wustha, dan aqabah atau kubra tidak melewati tengah malam hari berikutnya. Ketiga, untuk hari tanggal 12 Dzulhijjah, pelemparan jumrah dilakukan usai tengah malam atau setelah pergantian hari.

Kemaslahatan Jamaah Haji di Mina

Kemaslahatan Jamaah

Rapat tidak membahas soal waktu ba’da zawal, qabla zawal, dan waktu afdlal melempar jumrah, tetapi lebih mempertimbangkan pada kemashlahatan jamaah haji disesuaikan dengan kondisi riil yang ada saat itu.

Pengalaman di Muzdalifah, kondisi di tenda, ketersediaan air, dan psikologi jamaah itu menjadi pertimbangan utama yang mendasari keputusan ini. Bahwa waktu afdlal itu penting, tetapi kemashlahatan jamaah itu pun merupakan keafdlalan tersendiri ketimbang keafdlalan waktu melempar jumrah.

Menyikapi hasil rapat yang demikian, ketua kloter langsung menghubungi pihak maktab untuk meminta penjemputan kembali ke hotel harus sudah di mulai pada jam 10.00 pagi (iya pagi, kalau malam itu namanya jam 22.00…). Ini antisipasi agar sebelum ghurub, jamaah dipastikan sudah keluar semua dari Mina. Soal setelah keluar dari Mina mau ke Ben Dawod, ke McDonald’s, dan lain-lain itu urusan lain.

Alhamdulillah, hasil rapat di Mina bisa dilaksanakan dengan lancar. Lempar jumrah tanggal 12 Dzulhijjah selesai dilakukan kira-kira pada pukul 03.00 dini hari, penjemputan jamaah selesai pada kira-kira pukul 14.00.

Hanya tertinggal dua orang di Mina, yaitu dokter Erna dan pasiennya. Tetapi kemudian diperoleh kabar bahwa bu dokter dan pasiennya sudah keluar dari Mina pada sekitar pukul 16.00 dan sampai di hotel pada pukul 17.00.

Memang, ada pernak pernik soal pelaksanaan jumrah yang dibadalkan itu berikut konsekuensi yang muncul. Mulai dari siapa membadalkan siapa, berapa orang yang dibadali, cara melempar batu, sekaligus atau satu-satu, soal siapa yang harus membayar dam kalau si badal melakukan kesalahan (misalnya sudah jadi badal tetapi membadalkan dan yang disebut di dalam niat itu orang yang dititipi, bukan orang yang dibadali), dan lain-lain.

Tetapi secara umum, semua pelaksanaan hasil rapat darurat ini berjalan lancar terkendali. Dan, akhirnya nafar awal selesai. Aman semuanya.

Cukur gundul mestinya dilakukan di Mina

Cukur Gundul

Sesampai di hotel, cita-cita pertama para jamaah adalah mandi sepuas-puasnya, ini termasuk dokter dan timnya. Lalu cukur gundul sampai botak sebagai pertanda bahwa kehidupan akan dimulai dari nol lagi, dengan menghindari atau setidaknya meminimalisir perbuatan dosa dan maksiat.

Cukur gundul mestinya dilakukan di Mina, tetapi situasi saat itu kurang mendukung. Jadi di Mina, usai lempar jumrah aqabah hanya cukur atau potong rambut untuk memenuhi tahallul awal. Ini gundul bukan sembarang gundul…(Bersambung ke part 12).

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Fahrur Rozi, ketua Lakpesdam PCNU Cilacap, kepala LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap. (Misfalah, 1 Juli 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button