Haji Riang Gembira 2023 Part 9: Muzdalifah

NU CILACAP ONLINE – Hari Rabu dinihari sekira jam 02.00 rombongan kami baru bergerak ke Muzdalifah. Itu artinya tengah malam hari nahr, 10 Dzulhijjah, mabit kami lewati di Arafah. Kami sampai di Muzdalifah sekitar pukul 02.30.

Kami melanjutkan mabit lagi di Muzdalifah hingga kira-kira pukul 11.00. Sampai di Mina adzan dhuhur berkumandang. Rencana waktu subuh sudah di Mina tidak terlaksana.

Mabit di Muzdalifah

Sekedar memfokuskan perhatian agar tetap concern, Muzdalifah yang dimaksud di sini adalah sebuah kawasan yang menjadi salah satu tempat di mana semua jamaah wajib mabit (nginap) di sini dalam rangkaian ibadah haji. Yakni Muzdalifah yang kaitannya dengan hari Nahr, bukan Muzdalifah yang terkait dengan Nassar.

Haji tahun 1444H atau 2023 memang haji yang luar biasa. Ini adalah haji kedua yang dilaksanakan usai pandemi Covid-19. Bedanya, kalau haji pertama usai Covid-19 quotanya separoh dari yang semestinya, dan diperuntukkan bagi jamaah yang usianya kurang dari 65 tahun.

Maka haji yang kedua usai Covid-19 ini merupakan haji yang quotanya ditambah dari quota yang seharusnya dan umur jamaah yang tidak dibatasi. Sehingga tagline haji tahun ini adalah haji ramah lansia.

Muzdalifah Haji 2023

Muzdalifah 40⁰C

Saya merasa beruntung bisa ikut bergabung dengan jamaah haji di tahun ini. Banyak peristiwa menarik dan menyentuh nurani yang saya alami. Karena tidak setiap tahun peristiwanya sama. Selalu saja ada hal-hal baru dan berbeda yang terjadi. Misalnya peristiwa mabit di Muzdalifah kemarin.

Mabit di Muzdalifah itu mestinya sebelum tengah malam sampai lewat tengah malam. Baru setelah itu jamaah bergerak meninggalkan Muzdalifah. Dan ini menjadi salah satu wajib haji. Tetapi yang terjadi kemarin sudah lewat tengah malam baru nyampai di Muzdalifah.

Baca juga Haji Riang Gembira 2023 Part 4: Umrah dan Miqat di Tan’im

Hal ini sebetulnya tidak terlalu menjadi problem, karena haji itu Arafah. Barang siapa mendapati malam di Arafah tanggal 10 dzulhijjah sampai sebelum tiba waktu subuh, maka sempurnalah hajinya. Ini yang mendasari bahwa di Arafah itu yang penting sampai sebelum fajar.

Nah, pergerakan sampai di Muzdalifah itu terjadi pada jam 02.30. Ini pun normal saja. Yang menjadi tidak normal itu, Di Muzdalifah tidak hanya mabit atau bermalam, tetapi juga berpagi dan bersiang. Dan bersiangnya sampai jam 11.30an.

Bersiang di Muzdalifah sampai pukul 11.30an itulah yang menjadi persoalan. Bukan persoalan syariah semata, tetapi lebih ke persoalan syamsiyah (matahari). Bahwa jam 11.30an itu matahari terik sekali, tercatat suhu kemarin sampai 40⁰C.

Jamaah Haji Lansia di Muzdalifah

Dehidrasi dan Transportasi

Teman saya yang mengeluh pingin kopi diledekin oleh temannya yang lain: ‘lha itu air aqua (merk air mineralnya memang aquafina) kan sudah panas, tinggal tuang saja itu kopi’. Teman saya cuma mesem kecut.

Di Muzdalifah juga tidak ada tempat berteduh, selain di toilet dan di pinggiran penjemputan berupa kanopi-kanopi yang secara kuantitas sedikit sekali. Sehingga toilet full dengan manusia yang berteduh, terutama lansia.

Sementara di bawah kanopi jauh lebih parah kondisinya karena mereka dk samping berteduh, juga menunggu bus jemputan yang tak kunjung datang. Ada banyak orang yang pinsan karena dehidrasi dan kekurangan makanan.

Tidak ada makan pagi atau sarapan. Makan seadanya saja, sehingga makanan yang sebelumnya ‘kurang diperhatikan’ seperti kurma basah, roti, croisant, dan semacam agar-agar pada saat itu menjadi asupan makanan yang utama. Air mineral juga sangat menipis persediaannya.

Baca juga Haji Riang Gembira 2023 Part 6: Armuzna

Saya melihat ketua kloter Amrul Mukmin bekerja luar biasa, seperti tidak punya capek. Tim kesehatan yang dipimpin dokter Erna pun tak mau kalah. Phd Didi Yudy Cahyadi atau DYC forever telpon sana sini sampai ke wakil menag (stafnya) mengabarkan kondisi jamaah yang semakin tepar dan memprihatinkan agar segera mencarikan solusi.

Beliau sampai meminta, kirim truk tentara juga boleh. Sementara dokter Edy Dwi Kuncoro tak henti-hentinya menyemprotkan air ke jamaah. Dan rasa cessss…adem… di kepala… turun sampai ke hati…

Kondisi ini ternyata terjadi hampir di seluruh jamaah kloter SOC termasuk yang dari Yogyakarta. Mereka masih tetap bertahan di bawah matahari yang terik itu. Ketika air mineral datang, teriakan minta, satu, satu, satu tak dapat dicegah. Bahkan ada juga yang memungut sisa-sisa air mineral yang sebelumnya terbuang. Dan bus yang ditunggu belum juga datang.

Bersyukur, Sampai di Mina

Dalam kondisi kepanasan dan menunggu bus jemputan yang tidak menentu itu, ada juga seseorang yang memberikan kesejukan ucapan melalui refleksinya. Katanya, kita tetap harus bersyukur dengan kondisi ini. Ini belum seberapa, belum apa-apanya kalau dibandingkan dengan kondisi pada saat Nabi melakukan hal yang sama.

Kondisi alam saat itu jauh lebih ganas dan membahayakan. Kendaraan hanya unta dan sepertinya saat itu tanpa bekal makanan, apalagi buah-buahan. Refleksi ini cukup dalam dan mampu menyadarkan kita semua, untuk pengayem-ayem hati agar tidak nggresula atau ngundat-ngundat, misalnya, haji mbayar larang-larang…..dst.

Baca juga Haji Riang Gembira 2023 Part 2: Umrah Wajib Jamaah KBIHUNU

Tetapi memang, saat itu yang dibutuhkan adalah bus jemputan, bukan yang lain. Dan ketika bus jemputan belum datang, tetapi pengumuman bus akan datang lewat pintu 68 yang sebaliknya disampaikan, jamaah bergeruduk menuju arahan di pengumuman itu. Semangatnya tetap menyala, dan hatinya pasrah. Kalau kuat ya dijalani. Kalau tidak kuat ya sudah, pinsan atau bahkan mati pun ikhlas.

Ketika bus jemputan itu benar-benar datang, rebutan tak dapat dihindari, semuanya mendekat ke pintu, padahal pintu belum dibuka. Dan, akhirnya, bus-bus pengangkut jamaah pelan-pelan tapi pasti bergerak ke arah Mina pada jam 11.30. Baca juga Seputar Haji dan Umroh

Wajah-wajah lega dan puas menghiasi seluruh penumpang di dalam bus-bus itu, meskipun sebagian ada yang bergelantungan tanpa tempat duduk. Saya melihat wajah-wajah mereka seperti baru saja memenangkan sebuah pertandingan, merampungkan sebuah perjuangan…(Bersambung ke part 10, Mina).

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Fahrur Rozi, ketua Lakpesdam PCNU Cilacap, kepala LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap. (Mina, 29 Juni 2023)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button