Esai Opini Wawasan

Kyai dan Ulama, Juga Adalah Manusia

Ulama, di dalamnya termasuk para Kyai, adalah manusia-manusia terpilih, para pewaris Nabi, kendati demikian, Kyai dan Ulama juga adalah manusia.

KETIKA membahas perselisihan pribadi ulama, tepatnya diskusi di group Whasap, seseorang kemudian “nyelonong”, setengah menggertak, ” anda itu siapa “, maksudnya kok berani mengkritik ulama. Muncul juga postingan, bukan level kita membicarakan ulama. Membicarakan ulama, itu disebutnya su’ul adab. Intinya, figur ulama itu, ” tak boleh/ tak bisa disentuh”.

Oke, boleh jadi demikian. Tapi dalam hal apa kita “tak selayaknya” mengkritisi ulama? Perlu suatu tolak ukur boleh dan tidaknya mengkritik ulama, karena ulama tidak bersifat ma’sum.

Jika dua, tiga, sampai kelompok ulama ahli fiqh, berbeda pendapat tentang suatu hukum, tentu kita orang awam menghindari konflik di dalamnya. Demikian juga jika ulama ahli tafsir berselisih tentang tafsir, ahli tasawwuf berselisih tentang ilmu tasawwuf, kita semua menghindar dari perbedaan mereka, karena tentu kita tidak akan mampu terlibat dalam perbedaan itu.

Namun, jika ada ulama menghina ulama lain, menuduh kyai lain dengan tuduhan-tuduhan yang buruk, fitnah, ghibah, maka para santri sebagai orang awam, pasti akan melibatkan diri dalam konflik tersebut. Apakah dengan membela kyainya, atau mengingatkan kyai yang “nyiyir”. Karena ini bukan masalah ilmu, yang perlu penguasaan mendalam. Ini masalah adab, yang bagi kita mempunyai standar, pemahaman dan pengetahuan yang sama. Bahwa menghina, menuduh, menfitnah, adalah perbuatan yang tidak terpuji. Hinaan seorang ulama kepada ulama lainnya, akan menimbulkan fitnah yang lebih besar dibanding jika dilakukan oleh orang awam. Kenapa, karena ulama itu membawa dan mempunyai umat. Dampak besar itu bisa menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Apa ini akan kita biarkan? Minimal kita tabayun, kita kritik, atau kita lawan!

Ini pun sudah memasuki wilayah hukum pidana. Menghina dan menfitnah orang lain tanpa bukti, disampaikan medsos, yang dapat dilihat banyak orang, dapat dijerat pasal berlapis. Apakah elok seperti ini? Elok tidak elok, hal ini bisa dilakukan. Bukan ulamanya yang kita pidanakan, tapi karena ada perbuatan melawan hukum, yang menyebabkan orang lain, dilanggar hak-hak pribadinya.

Fitnah dan tuduhan di era medsos, juga bisa disampaikan, dishare dan diviralkan kemana-mana. Tentu ini menimbulkan impact yang luas dan besar. Maka tabayun secara pribadi, tidak tepat. Kita harus melawan dengan cara dan media yang sama, agar berita menjadi berimbang. Selanjutnya terserah umat untuk menilainya.

Kendati demikian, residu konflik tak lantas hilang. Bahkan bisa menimbulkan efek bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Muaranya pasti konflik horisontal, di dunia maya, yang bisa berlanjut ke dunia nyata. Ini keniscayaan yang sulit dibantah.

Baca Artikel Terkait:

Kuncinya tentu, figur ulama jangan membuat statemen, tuduhan dan hinaan kepada siapapun. Hal ini dikarenakan bertentangan dengan agama, juga menimbulkan multi-efek yang luar biasa. Keulamaan anda adalah amanah untuk menjaga agama dan manusia. Bukan untuk menghancurkannya.

Ulama adalah pewaris Nabi, dalam semua aspeknya. Ya ilmu, ya akhlaq, gaya hidup dan tutur kata. Nabi senang memuji perbuatan baik, dan tidak mudah menvonis kesalahan orang lain. Nabi yang satu juga tak pernah mencaci Nabi yang lain. Maka hendaknya para ulama mencontoh Nabi diantara mereka hendaknya pun saling memuji.

Nabi adalah sumber teladan. Tetapi jarak dan waktu serta jaman, tak memungkinkan semua umat langsung bisa mencontoh Nabi. Dari para ulamalah umat mencontoh perilaku Nabi. Ulama yang satu, adalah pelengkap bagi ulama yang lain dalam mencerminkan sifat dan sikap Nabi yang sempurna. Setiap ulama membawa misi profetik sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Tapi jika ulama senang menimbulkan fitnah, maka sulit bagi agama untuk bertahan di kehidupan manusia. Agama itu sumber damai, bukan sumber konflik.**

~Artikel Kyai dan Ulama, Juga Manusia ditulis oleh Toufik Imtikhani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

two × three =

Back to top button