Khutbah Jumat: Refleksi dalam Berkurban

NU Cilacap Online – Kurban yang diterima adalah Kurban yang disertai keikhlasan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “Hakikat ibadah bukan pada gerakan lahiriah, melainkan hadirnya hati untuk Allah SWT.”
Maka mari kita menakar diri masing-masing. Apakah kurban kita lahir dari ketulusan atau sekadar gengsi sosial? Apakah kita berqurban karena Allah atau karena ingin dipuji manusia?
Khutbah Jumat Lembaga Dakwah PWNU Jateng dalam kesempatan ini mengangkat Judul: “Refleksi Dalam Berkurban”. Naskah Khutbah oleh KH. M. Muhyiddin, SM, S.Pd.I, M.Pd Ketua LD PCNU Kabupaten Semarang.
Berikut khutbah Jum’at tersedia dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan Jawa
Download Khutbah Jumat bahasa Indonesia
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia
Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat, hidayah, serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita masih bisa mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
Shalawat dan salam mari kita sampaikan ke pangkuan beliau nabi Agung Muhammad SAW. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin
Pada kesempatan yang berbahagia ini, khotib mengajak pada diri dan para jama’ah untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu menjalankan apa yang di perintahkanNya dan menjauhi segala larangan-larangaNya, karena dengan takwa inilah Allah akan mempermudah segala urusan-urusan kita.
Sebagaimana firmanNya dalam QS. At Thalaq ayat 4 :
وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مِنۡ اَمۡرِهٖ یُسْرًا
Artinya : “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati Allah…
Hari ini dan besok kita masih berada di hari Tasyrik, dalam bulan mulia Dzzulhijjah, dimana kita masih bisa melaksanakan ibadah qurban. Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, bukan pula sekadar tradisi tahunan. Qurban adalah ukuran ketulusan cinta seorang hamba kepada Allah SWT
Allah Ta’ala berfirman :
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
Artinya :“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj : 37)
Ayat ini menjelaskan bahwa inti qurban bukan pada besar kecilnya hewan, bukan pada mahal murahnya harga, tetapi pada ketulusan hati dan kualitas takwa.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi teladan agung dalam ketulusan berqurban. Ketika diperintahkan menyembelih putranya tercinta, Nabi Ismail ‘alaihissalam, beliau tidak menunda dan tidak membantah. Demikian pula Nabi Ismail menerima perintah itu dengan penuh kepasrahan.
Allah mengabadikan dialog mereka:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya : “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat : 102)
Ketulusan qurban lahir ketika cinta kepada Allah mengalahkan cinta kepada dunia.
Rasulullah SAW bersabda :
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban). Sesungguhnya hewan qurban itu kelak akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah qurban itu telah sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah diri kalian dengannya.” (HR. Tirmidzi No. 1493, Ibnu Majah No. 3126)
Oleh karena itu, qurban yang diterima adalah qurban yang disertai keikhlasan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “Hakikat ibadah bukan pada gerakan lahiriah, melainkan hadirnya hati untuk Allah SWT.”
Maka mari kita menakar diri masing-masing. Apakah qurban kita lahir dari ketulusan atau sekadar gengsi sosial? Apakah kita berqurban karena Allah atau karena ingin dipuji manusia?
Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah…
Ketulusan berqurban juga harus melahirkan kepedulian sosial. Daging qurban adalah simbol kasih sayang kepada fakir miskin dan sesama muslim. Jangan sampai ibadah qurban hanya menjadi seremoni, tetapi tidak menghadirkan empati.
Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari pernah berpesan bahwa kemuliaan ibadah terletak pada keikhlasan dan manfaatnya bagi sesama.
Maka Orang yang benar-benar memahami qurban akan mudah berbagi, mudah membantu, dan ringan mengorbankan kepentingan pribadinya demi kemaslahatan umat.
Mari kita jadikan momentum qurban sebagai sarana membersihkan hati dari sifat kikir, cinta dunia berlebihan, dan riya’. Orang yang tulus berqurban akan mudah pula berqurban waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya demi agama Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya : ”Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (QS. Al-Bayyinah ayat 5)
Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal.
Tanpa keikhlasan, amal akan kosong nilainya di sisi Allah. Karena itu, mari kita jaga niat dalam setiap ibadah. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kita hidayah dan perlindungan sehingga kita mampu untuk selalu ikhlas dalam setiap langkah Ibadah yang kita jalani. Aamiin… Yaa Rabbal ‘Aalamiin
.أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْأنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ ذِكْرِالحَكِيْمِ
وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ ، وَأَخْلِصُوا نِيَّاتِكُمْ فِي كُلِّ عِبَادَةٍ، خُصُوصًا فِي عِبَادَةِ الْقُرْبَانِ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ فِي الْعِبَادَةِ، وَمِنَ الْمُتَّقِيْنَ فِي الْقُرْبَانِ، وَارْزُقْنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً وَأَعْمَالًا صَالِحَةً . اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَا مَّةً˛ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Download Khutbah Jumat bahasa Jawa
Editor bahasa: Khayaturrohman