Haji Riang Gembira 2023 Part 10: Mina dan Lempar Jumrah

Haji Riang Gembira 2023 Part 10 ini memotret perjalanan dan kondisi Mina (Kota Sejuta Tenda) serta pelaksanaan Lempar Jumrah oleh jamaah haji. Juga problematika di Mina yang segera bisa teratasi.

Jamaah haji turun dari bus di Mina ketika adzan dhuhur berkumandang. Lega rasanya setelah penantian panjang selama lebih dari 8 jam di Muzdalifah yang terik. Begitu bus berhenti di Mina, tepat di simpang tiga depan papan nama “Maktab 68”, jamaah langsung berhamburan keluar dari bus seperti meluapkan kegembiraannya bisa sampai di tujuan dengan selamat.

Berebut Maktab 68

Pencarian tenda bertanda kloter 70 memakan waktu cukup lama dan seru. Ketika tenda sudah ketemu, kembali keributan kecil terjadi. Sebagian besar jamaah bisa langsung masuk ke tenda dan merebahkan diri.

Tetapi sebagian yang lain tidak bisa masuk, karena tenda sudah ditempati oleh jamaah dari kloter lain yang datang lebih awal. Jadilah mereka yang datang belakangan menempati emperan-emperan tenda dan halaman kamar mandi. Yang penting bisa sekedar untuk meletakkan tas dan menggeletakkan badan sambil selonjoran.

Ketua kloter 70 SOC langsung menghubungi ketua kloter yang menempati tenda kloter 70. Mereka berdiskusi, bernegosiasi. Setelah diusut, ternyata kloter itu pun memiliki peta yang sama dengan peta yang dimiliki oleh kloter 70, jadi ya tidak ada yang salah, benar semua. Kita tidak bisa mengklaim kebenaran secara sepihak, sebagai yang paling benar dan yang lain salah.

Hanya saja, mereka lebih beruntung karena datang lebih awal. Jamaah Haji kloter 70 harus menerima kondisi yang ada. Ikhlas atau tidak ikhlas, begitulah kondisinya. Rasa tidak ikhlas itu ternyata tidak mampu merubah kondisi. Sudah gitu, merusak keafdlalan dan kesempurnaan haji. Jadi ya mendingan ikhlas.

Tas dan barang-barang lainnya milik sebagian jamaah sudah diletakkan di tenda, milik sebagian yang lain diletakkan seglethak-gletaknya, yang penting tidak mengganggu jalan. Kaki juga sudah sedikit bisa selonjoran di dalam tenda ber-AC, tapi sebagian yang lain di emperan-emperan tenda (lumayan dapat sribidan AC), di dekat toilet yang iyub walau tetap di bawah terik yang semakin. Ada juga jamaah yang berinisiatif mengambil air wudlu.

Problem Toilet dan Air Wudu

Ujian belum berakhir. Toilet yang diharapkan mampu memberikan kesejukan dengan air yang mengalir, ternyata isinya full botol-botol bekas air mineral. Kran-kran air di toilet hampir semuanya berfungsi baik, tetapi airnya yang kosong, isinya angin.

Jamaah kita tidak putus asa. Mereka tetap kreatif, tidak kehilangan akal. Ada saja cara mereka keluar dari problema. Kondisi yang ada tidak dikeluhi dan di-nggresulani, tetapi disikapi secara arif dan bijak hingga husnudzan tetap menjadi landasan berpijak.

Para Jamaah Haji fokus bukan pada problema, melainkan pada solusinya. Maka jadilah berwudlu dan lain-lain dengan memanfaatkan persediaan air mineral yang melimpah. Alhamdulillah, di malam hari, toilet benar-benar berfungsi sebagaimana peruntukannya.

Shalat dhuhur dan ashar usai ditunaikan dengan cara jama’ taqdim (dikumpulkan di waktu dhuhur) dan qashar (diringkas menjadi 2 rakaat). Ada yang munfarid, tetapi ada juga yang setia menunggu imam untuk tetap berjamaah. Setelah itu jama’ah nampaknya baru bisa benar-benar beristirahat, menyusun energi baru sebagai persiapan berangkat ke jamarat untuk melempar jumrah aqabah pada jam 16.30.

Jamaah Haji KBIHUNU di Mina

Melempar Jumrah Aqabah

Keberangkatan ke jamarat dilakukan sesuai jam yang ditentukan. Pengumuman untuk yang sepuh-sepuh, sakit, dan tidak kuat jalan kaki terus ditekankan agar tidak ikut. Ini semua dilakukan untuk menjaga kondisifitas jamaah.

Mas Arif Himawan KBIHUNU bersama mas Imam Mujiono TPIHI memimpin rombongan di depan menuju jamarat. Di bagian depan, tengah dan belakang, ada karom dan karu berbaur dengan seluruh jamaah. Baca juga: Seputar Haji dan Umroh

Saya berangkat dengan memilih bagian paling belakang bareng Ketua kloter pak Amrul Mukmin dan Tim kesehatan yang dipimpin dokter Erna. Pilihan di bagian paling belakang dimaksudkan untuk memastikan bahwa jamaah tidak ada yang tertinggal. Sepertinya tugas ini keren. Tapi kalau dimaknai karena tidak tahu jalan, jadi tinggal ngikut jamaah yang di depannya, ya silakan saja.

Semua jamaah laki-laki, termasuk saya dan pak Amrul masih menggunakan kain ihram, yakni menggunakan dua kain tidak berjahit. Yang satu dipakai sebagai sarung, yang lainnya digubedkan ke badan dengan pundak kanan dibiarkan terbuka. Sementara yang perempuan menggunakan pakaian sebagaimana biasanya, menutup seluruh badan, selain wajah dan telapak tangan.

Sepanjang perjalanan, Tim kesehatan yang berseragam lengkap sebentar-sebentar dihentikan oleh jamaah entah dari mana saja. Mereka bertanya, bu, maktab 64 di mana ya; bu, maktab 79 di mana ya, dan lain-lain pertanyaan yang sama.

Dari sekian banyak pertanyaan, tak ada satupun yang bertanya atau meminta, misalnya : dok, saya sakit pusing, mohon diobati, atau, dok, saya kakinya pegel-pegel, diobati apa dok…Pertanyaan itu tidak pernah muncul.

Tetapi dokter Erna memang keren. Beliau tetap saja melayani dengan lembut dan santun pertanyaan-pertanyaan yang ‘tidak semestinya’ itu. Kalau kebetulan beliau tahu, langsung ditunjukkan ‘directionnya’. Kalau tidak tahu, beliau mengarahkan ke petugas lain yang dianggap tahu. Dan, konsekuensinya sudah dapat ditebak, kami semakin tertinggal di belakang…

Jamarat cukup lengang di sore hari. Perhitungan mas Arif tepat. Perjalanan lancar. Rombongan kloter 70 SOC tidak mengalami kendala-kendala berarti. Sesekali beberapa anggota rombongan bahkan sempat melakukan ritual selfie-selfie.

Kadang tidak selfie beneran, tetapi sekedar mengumumkan kepada khalayak bahwa hp-nya adalah keluaran terbaru, dengan fitur-fitur canggih yang tidak dimiliki oleh hp lain. Rombongan kloter 70 akhirnya sampai di lokasi, big jamarat atau jumratul aqabah.

Masing-masing mereka langsung sibuk dengan dirinya. Ada yang buka buku, ada yang nanya, doanya gemana ya, ada yang kecewa, batunya tertinggal, ada juga yang sibuk ngapalin nama-nama orang yang dibadali. Ya, untuk badal jumrah memang dibolehkan satu orang membadali beberapa orang. Ini tidak berlaku untuk badal haji. Kalau boleh, saya tentu mau mbadali 10 orang.

Semburat Lampu Kota Mina

Semburat Lampu Kota Mina

Alhamdulillah, seluruh rangkaian melempar jumrah aqabah selesai menjelang Maghrib. Kemudian mereka saling mencukur atau memotong rambut temannya sebagai penanda tahullul awal. Tahallul awal adalah batas akhir bahwa jamaah sudah boleh melepas kain ihram dan muharramatil ihram yang lain, kecuali berhubungan badan dengan isteri.

Kendati sudah diperbolehkan membuka kain ihram, tetapi saya lihat tidak satupun laki-laki yang melepas kain ihramnya di lokasi jamarat. Kita tidak bisa membayangkan kalau mereka melepas kain ihram di lokasi, sementara kain pengganti tidak dibawa…

Petang semakin kentara, lampu-lampu sepanjang jalan pulang pengganti sinar matahari sudah semakin terang menyala, seiring dengan kaki lempoh, pegel-pegel, thiel, dan haus yang semakin terasa. Alhamdulillah, sepanjang jalan pulang, air mineral tersedia full di pinggir-pinggir jalan.

Tinggal pencet tombol saja, mau diwadahi botol-botol aqua atau langsung diglek juga bisa, siapkan saja mulut menganga. Escalator datar pun tersedia dan berfungsi dengan baik, lumayan bisa untuk relaksasi.

Sementara itu, pemandangan di luar pagar pembatas jalan semakin menarik. Semburat lampu-lampu warna-warni menghiasi Kota mina, cungkup bagian atas tenda-tenda Mina sambung menyambung bagai tatanan yang menyatu. Mina sore hari, indahnya tak terperi, bukti kebesaran Ilahi… (Bersambung ke part 11)

Tentang Penulis

Fahrur Rozi, ketua Lakpesdam PCNU Cilacap, kepala LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap. (Mina, 30 Juni 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button