KH M. Jadul Maula: Pembacaan Teks Pembukaan UUD 1945 itu Suci, Kembali Ke Akar NKRI

NUCOM, JOMBANG – Membacakan teks pembukaan UUD 1945 di upacara seremonial pembukaan muktamar? Aneh. Bisik beberapa orang, berikut penjelasan KH M. Jadul Maula: Pembacaan Teks Pembukaan UUD 1945 itu Suci, Kembali Ke Akar NKRI.
Prosesi Acara
Malam pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 Lesbumi PBNU, Jumat 12/6/2026, di halaman Unwaha Tambakberas Jombang, ada prosesi acara yang bikin sebagian tamu ‘mengangkat alis’ alias merasa Aneh.
Setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan Mars Yalal Wathon, lalu serentak secara bersama-sama membaca teks “Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945”.
“Bacakan teks pembukaan UUD 1945 di upacara seremonial pembukaan muktamar? Aneh,” bisik dan tanya beberapa orang,
Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula, selaku inisiator, merespon, menjelaskan, Jawabnya tenang tapi nendang: “Mohon maaf kalau itu dinilai aneh ya. Bagi saya, naskah teks Pembukaan UUD 45 itu suci.” terangnya saat penutupan kegiatan Muktamar Kebudayaan, Ahad (14/6/2026) kemarin.
Santri Wajib Hafal
Di hadapan peserta, Kiai Jadul membedah kenapa prosesi itu dipilih. Beliau juga pengajar di Pondok Krapyak. Kebiasaannya dalam pesantren yaitu menekankan hafalan.
“Saya tekankan ke santri. Hafal Surat Al-Fatihah, baik. Itu penting. Bernilai spiritual tinggi. Tapi kamu tidak hafal Pembukaan UUD 1945. Tidak pantas. Sangat tidak pantas kalau santri tidak hafal itu,” ujarnya tegas.
Alasannya sederhana: ini dokumen kesepakatan luhur pendiri bangsa. “Kenapa? Karena ini dokumen kesepakatan luhur. Muara perjuangan panjang bangsa ini ada di situ.”
Negara Kuat, Agama Berkembang
Pengasuh Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta, KH M. Jadul Maula lalu mengurai benang sejarah. Dari NU 1926 sampai sidang BPUPKI.
“Ketika Mbah Hasyim (KH M Hasyim Asy’ari) ditanya Kiai Wahab (KH Abdul Wahab Hasbullah): “tujuan mendirikan NU ini, apakah sekaligus untuk mendirikan negara (Indonesia) merdeka? Mbah Wahab menjawab: justru itu tujuan utama. Kalau negara belum merdeka, masih terjajah, agama tidak bisa berkembang. Jadi kuatnya negara, berdaulatnya negara, itu pondasi penting. Persatuan dan berbangsa tidak hanya soal agama Islam,” ceritanya.
Beliau mengingatkan proses panjang para founding fathers. Berhari-hari sidang BPUPKI dan PPKI. Debat, adu ilmu, adu niat baik. Semua demi satu naskah pembukaan Undang Undang 1945.
“Kalau tidak ada kesepakatan ini bubar. Nah, kita diskusi dua tiga hari seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka. Kita ini tidak ada apa-apanya,” ucapnya pelan.
Dalam catatan sejarah itu berlangsung mulai 29 Mei – 17 Juli 1945, yang bertujuan merumuskan dasar negara.
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) merupakan badan/lembaga pemerintah yang bertujuan menyelidiki dan mempersiapkan segala hal penting terkait tata pemerintahan dan dasar negara untuk kemerdekaan suatu negara Indonesia.
Sedih Lihat Generasi Tak Hafal Arah Gerak
Kegelisahan Kiai Jadul paling dalam soal generasi. Beliau sering cek langsung ke mahasiswa, bahkan pengurus PMII – sebagai Organ Pergerakan Mahasiswa Islam
“Saya sedih sekali. Sering temui mahasiswa, saya cek, tidak hafal. PMII pun tidak hafal. Loh, kamu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu arahnya ke mana? Dasar pergerakannya dari mana? Tidak tahu. Berkumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi, lalu mengepalkan tangan ngapain itu? Sangkan paran-nya pergerakan dari mana? Awal dari mana, tujuannya ke mana?” tanyanya bertubi-tubi.
Dia lanjut menegaskan bahwa Jawabnya ada di teks itu.
“Saya tunjukkan pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Islam Indonesia itu tujuannya ada di Pembukaan UUD 1945. Kalau tidak ada itu, tidak jelas dasarnya, tidak ada ideologinya. Paling-paling ya ikut-ikutan,” tegasnya.
Bahkan soal sejarah perumusan beliau cek juga. “Siapa yang merumuskan Pembukaan ini? Asalnya dari Piagam Jakarta. Isinya berapa alinea? Kadang tidak tahu. Saya sedih.”
Prosesi Itu Peneguhan Arah
Bagi Kiai Jadul, membaca Pembukaan UUD 1945 bukan formalitas. Itu peneguhan arah. Mengingatkan seniman, budayawan, mahasiswa, santri: kita bergerak di atas kesepakatan luhur 18 Agustus 1945.
“Maka saya buka Muktamar ini dengan teks itu. Supaya kita semua ingat: kebudayaan kita, perjuangan kita, harus kembali ke akar. Akarnya ada di sini, merujuk ke KH Abdul Wahab Hasbullah,” pungkasnya.

Tanda Terima Kasih
Setelah penjelasan terang benderang atas pertanyaan “aneh” di atas terjawab, yang tersisa hanya hening. Suasana penutupan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 Lesbumi PBNU di altar halaman Rektorat Unwaha Tambakberas, Jombang, makin khidmat, syahdu dan mengesankan.
Selaku penyelenggara Lesbumi PBNU mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada panitia setempat, dan kepada Unwaha Tambakberas, Jombang selaku ahli bait KH Abdul Wahab Hasbullah. Dengan memberikan tanda kasih sebagai cendera mata, sebuah buku mengenai Sejarah Resolusi Jihad dan Lukisan Besar Tokoh Bapak Kebangkitan Lesbumi NU, KH Ng. Agus Sunyoto.
Hadir dalam kesempatan itu jajaran panitia, baik unsur PBNU, PC, Pengasuh Pesantren Tambakberas, Civitas akademika, relawan-relawan, yang terdiri dari tim media parthner, tim medis setempat, Pagarnusa, Banser-Ansor, sponsorsip, masyarakat setempat dan peserta Muktamar dari berbagai daerah.
Perlu diketahui, Ada 12 point rekomendasi hasil Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026. Kiai Jadul Maula menegaskan bahwa hasil rekomendasi dari Muktamar Kebudayaan Lesb7mu PBNU di Jombang tersebut nantinya akan dibawa ke forum yang lebih tinggi, yakni Musyawarah Nasional (Munas)-Konferensi Besar (Konbes) PBNU di Ploso, Kediri. 21-22 Juni mendatang. (IHA)
Baca juga: Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 Resmi Dibuka dengan Pembacaan Teks ‘Pembukaan UUD 1945
Jadul Maula Dan Wasiat KH Agus Sunyoto (Lesbumi PBNU)
Lesbumi PBNU akan Gelar Muktamar Kebudayaan Indonesia, “Kembali ke Akar” di Jombang





