Prabowo di Depan Kiai NU: Negara Rugi Rp15.000 Triliun, Gaji Guru Nggak Bisa Naik

NUCOM – Presiden Prabowo Subianto blak-blakan menyebut negara rugi Rp15.000 triliun selama 34 tahun akibat kebocoran ekspor dan penyelundupan komoditas. Pernyataan itu disampaikannya depan Masyayikh Kiai NU saat menutup Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Kampus IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Selasa (23/6/2026) Siang.

Menurut Prabowo, kebocoran Rp2.500 triliun per tahun inilah yang membuat anggaran negara seret, termasuk gaji guru yang tak kunjung naik.

Syubbanul Wathan dan Lautan Santri

Kedatangan Presiden pada acara Penutupan Munas-Konbes NU 2026 disambut meriah dengan nyayian ‘Syubbanul Wathan’ dan lautan santri. Sebelum memasuki tenda utama, Prabowo naik kendaraan Maung terbuka menyapa warga Bangkalan yang memadati jalan.

Di hadapan ribuan kiai, pengurus PBNU, dan menteri Kabinet Merah Putih, Prabowo mengaku punya ikatan batin dengan NU sejak kecil.

“Saya merasa selalu nyaman di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Eyang putri saya memang dari NU. Saya kenal NU sejak kecil, tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

NU Agamis, Nasionalis, Patriotis

Prabowo menyoroti ciri khas NU yang menurutnya langka di dunia. Organisasi keagamaan terbesar ini sekaligus sangat nasionalis dan patriotik.

“NU organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik. Lagunya Syubbanul Wathan sudah cinta tanah air sebelum Indonesia merdeka. Tangan kepalan, itu salam komando. NU sudah lebih dulu dari Kopassus,” tegasnya.

Presiden menilai semangat kebangsaan NU sudah teruji sejak sebelum Indonesia merdeka. Sikap kepalan tangan saat menyanyikan Syubbanul Wathan disebutnya sebagai salam komando yang lahir lebih dulu dibanding tradisi militer.

NU Penentu Stabilisator Bangsa

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut NU sebagai faktor penentu stabilitas bangsa. Menurutnya, para kiai dan ulama NU paling dekat dengan denyut nadi rakyat bawah.

“NU faktor stabilisator, faktor yang buat aman bangsa dan negara. Para kiai, para ulama paling dekat dengan rakyat, paling paham apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” katanya.

Karena kedekatan itu, Prabowo meyakini ada benang merah antara ulama, TNI, Polri, dan pemerintah. Semuanya sama-sama paham dan merasakan apa yang dirasakan rakyat.

Blak-blakan Soal Kebocoran Negara Rp15.000 Triliun

Di penghujung pidato, Presiden bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Ia menyorot kebocoran kekayaan negara yang selama puluhan tahun membuat anggaran pembangunan dan kesejahteraan seret.

“Kita rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun atau Rp15 ribu triliun. Uangnya nggak ada. Karena laporan ekspor dipalsukan, komoditas diselundupkan. Hanya bangsa bodoh yang biarkan kekayaan bangsa ngalir ke luar,” tegas Prabowo.

Dia memastikan Kabinet Merah Putih saat ini sedang bekerja keras membereskan kebocoran Rp2.500 triliun per tahun tersebut. Menurutnya, jika kebocoran ini bisa dihentikan, anggaran untuk pendidikan, kesehatan, termasuk kenaikan gaji guru, akan jauh lebih leluasa.

Resmikan 1.151 KM Jalan Daerah di Sampang

Sebelum bertolak ke Bangkalan, Prabowo lebih dulu mendarat di Sampang. Pagi harinya pukul 09.00 WIB ia meresmikan 1.151 KM ruas jalan daerah melalui program Inpres Jalan Daerah IJD.

Komitmennya jelas konektivitas jalan yang baik akan membuat ekonomi daerah bergerak dan harga-harga kebutuhan pokok di Madura lebih stabil.

Tiba di Bangkalan, Prabowo disambut jajaran PBNU. Di tenda utama hadir Ketua PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Panglima TNI, Kapolri, serta para menteri Kabinet Merah Putih.

Kompak, Indonesia Kuat

Munas dan Konbes NU 2026 ditutup dengan pesan tegas dari Presiden. NU dan pemerintah diminta satu barisan menjaga rakyat.

“Ulama paham denyut nadi bawah, negara bertugas membereskan kebocoran di atas. Kalau kompak, Indonesia kuat,” pungkas Prabowo menutup forum tertinggi NU tersebut. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button