Tradisi Sedekah Tilawatan Sura Desa Kutaagung Dayeuhluhur

NU Cilacap Online – Ratusan warga Desa Kutaagung Dayeuhluhur dan sekitarnya menghelat tradisi Tilawatan Sura sebagai laku adat budaya masyarakat dengan bermunajat bersama di kawasan keramat Ki Sangayuda yang merupakan leluhur mereka, pada Senin Kliwon (07/07/2025).
Pemangku Adat
Prosesi tradisi Tilawatan dipimpin oleh sesepuh pemangku adat dan tokoh masyarakat.
Hadir Kepala Desa beserta Perangkat Desa, BPD, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD), Pemerhati Budaya Lesbumi NU Dayeuhluhur, warga Desa Kutaagung, Bolang bahkan dari luar Desa seperti dari Ciamis, Kota Banjar dan Kuningan Jawa Barat.
Salah satu tokoh adat Desa Kutaagung Edi Susanto (61) selaku panitia acara menyampaikan kegiatan Tilawatan Sura merupakan tradisi adat dan budaya yang sudah berlangsung sejak lama, dan dilakoninya secara turun-temurun, bahkan sebelum mereka lahir.
“Tilawatan Sura merupakan bentuk laku adat budaya dalam rangka mempererat dan memaknai tali silaturahmi, menjaga persatuan dan kesatuan antar keluarga, warga sekitar agar tidak mudah terpecah belah maupun terprovokasi.” Akunya.
Dijelaskan Tradisi Sedekah Tilawatan ini dilakukan bersamaan atau setelah kegiatan tradisi Sedekah Bumi pada bulan Sura atau saban tahun baru Islam, Muharam.
Laku Asali Tilawatan
Nama asali tilawat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu tilawah yang berarti membaca dengan baik dan indah.
Maka pada tradisi Tilawatan Sura ini masyarakat berkumpul di suatu tempat yang suci, yang dikeramatkan dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran lengkap dengan tahlil, tasbih, tahmid, serta takbir, seraya berdoa secara berjamaah.
Pada rangkaian kegiatan ini juga dibacakan mengenai sejarah Desa, silsilah mengenai figur dan sosok karomah dari lelehur Desa Kutaagung, Dayehluhur beserta lakulampahnya dengan menggunakan gaya tutur, pembacaan tawasul sesuai dengan bahasa ibu setempat yang penuh kharisma, energi, khusu’, nan indah.
Adapun tradisi tilawatan ini merupakan rangkaian upacara ruwatan pada bulan sura, hal itu dilakukan setelah berziarah, membersihkan jalan dan area makam keramat, dilanjutkan dengan makan secara bersama-sama dilokasi tersebut.
“Kami terus berupaya untuk tetap melestarikan tradisi ini, selain menjaga adat budaya dan tradisi agar tidak punah, demikian merupakan hak asali desa sekaligus menjaga nilai dari laku spritual yang memungkinkan dapat dilanjutkan oleh generasi muda berikutnya.” tandasnya.
Kegiatan yang berlangsung pada waktu dhuha (pagi hari) tersebut mayoritas peserta didominasi oleh warga keturunan Ki Sangayuda, namun demikian warga lainnyapun turut mengikuti upacara sakral yang rutin saban tahun diagendakan dan dilaksanakan.
Berbagi Rasa Melalui Makanan
Dalam Tradisi Tilawatan Sura tidak sekedar berdoa bersama namun juga setiap warga membawa bekal makanan dari hasil bumi mereka untuk dibagiakan pada para pengunjung sebagai penanda berbagi rasa melalui makanan, lalu kemidian disantap secara bersama-bersama.
Pada kegiatan Tilawatan Sura kali ini diikuti tidak hanya orang dewasa tapi juga diikuti oleh anak-anak, bahkan murid-murid Sekolah Dasar (SD), tujuannya untuk mengenalkan sejak dinimemulyakan kebudayaan melalui pendidikan mengenai kearifan budaya dan adat istiadat Desa khususnya di Kutaagung, Dayeuhluhur umumnya di Cilacap.
Kegiatan Tradisi Tilawatan Sura yang serupa juga dilaksanakan di area makam keramat Ki Jaga Rawot Citatah Desa Kutaagung.
Apresiasi Kepala Desa dan Pemerhati Budaya
Kepala Desa Kutaagung Ny Hj. Rustimi mengungkapkan ucapan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh warga yang hadir mengikuti dan melestarikan tradisi Tilawatan dengan baik.
“Tradisi Tilawatan ini juga dilaksanakan secara serentak di Keramat Cinongkob dan Keramat Jagarawot, Desa Kutaagung,” katanya.
Sementara itu, Pemerhati Budaya Lesbumi NU Dayeuhluhur Ceceng Rusmana mengemukakan adapun tradisi Tilawatan Sura ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi yang terjadi pada bulan Sura atau Tahun Baru Islam yakni Muharam.
“Tradisi Tilawatan merupakan tradisi suran, dan salah satu aset tradisi budaya di Wilayah Kecamatan Dayeuhluhur yang masih ada dan dilestarikan oleh warga masyarakat.” Terang Ceceng Rusmana yang juga Pendamping Lokal Desa (PLD) Kemendesa PDT yang bertugas di Desa Kutaagung.
Dia menambahkan dengan adanya berbagai kegiatan tradisi maupun adat budaya mulai dari sedekah bumi, sedekah gunung, ngabengkat Dawuan, sedekah kupat maupun tilawatan oleh warga masyarakat pegunungan Dayeuhluhur tentunya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Dayeuhluhur dan sekitarnya
“Kami orang tradisi, penjaga adat, dan budaya leluhur, kami jaga lestarikan nilai-nilai kearifan budaya kami dan kami jadikan sebagai identitas dan jatidiri kami. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, budaya dayaluhuran.“ pungkasnya. (IHA)





