Ahmad Tohari, Sosok Sedernana, Karyanya Luar Biasa

NU Cilacap Online — Adalah Ahmad Tohari, Orangnya sederhana dan biasa saja. Hidupnya amat bersahaja. Tapi karya-karyanya pada bidang sastra luar biasa, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Bicaranya tidak ndakik-ndakik. Namun kalau berbicara agama, terdengar teduh. Seteduh rumahnya di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Indonesia.
Tapi sebenarnya banyak hal yang tersimpan dalam sosoknya yang kecil. Banyak hal yang tidak biasa-biasa saja dalam diri Ahmad Tohari.
Pengalamannya juga luar biasa. Dari memancing di kali dekat rumahnya, sampai memancing perdebatan di kampus-kampus hingga Amerika.
Filosofi Membaca
Ketajaman dan kedalaman pikirannya sangat mencengangkan. Filosofi dan prinsip hidupnya juga tak terbantahkan.
Misalnya dalam berkarya, “Realita dunia ini harus dibaca. Mana mungkin ada realita dinafikan begitu saja. Satu realita pasti sebuah ayat. Jadi tidak bisa tidak. Kalau kita mau iqro’, ya semua harus dibaca. Inilah realita, dan kamu akan memperoleh pelajaran darinya. Iqro’ Bismirobbika alladzi al kholaq.”
Setiap kalimat yang keluar dari bapak lima anak ini selalu mengajak kita untuk iqra’, bertasbih, membaca alam, dan merenungi kelemahan diri sendiri.
Sebagai santri kasepuhan, dia sangat rendah hati. Dia memilih untuk menjadi santri saja walau tidak sedikit orang menyebutnya kiai. Dan Saban kali berjumpa dengannya, tak satu kata kesombongan pun yang pernah ia lontarkan. Dia begitu tawadlu’.
Kebudayaan Islam Nusantara
Sebagai muslim yang taat, ia tidak eksklusif (tertutup), ia sering terlibat dalam dialog antar agama, antar iman bersama pendeta, pastur, romo, biksu, dan tokoh agama lain.
“Lho, jangankan dengan orang Muhamadiyah dengan pemimpin agama lain saja sering berdialog kok..” akunya.
Menurutnya jika kita memperhatikan kepentingan sekelompok saja, maka akan terjadi pertikaian yang mungkin tak berkesudahan.
Islam itu sangat toleran dan menerima perbedaan, namun ortodoksi akidah serta syariat membuat agama ini makin kaku.
Karena itulah, banyak agenda yang harus dilakukan. Seperti memberi pemahaman yang benar tentang agama. Sehingga agama tidak dijadikan alat untuk memusuhi pemeluk agama lain.
Maka agenda Kebudayaan Islam Nusantara itu untuk mengajak umat Islam meninggalkan pola pikir ortodok.
Sudah saatnya umat Islam memiliki wawasan kebangsaan yang luas, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.
“Kita penting menyiapkan umat agar mampu eksis di tengah perkembangan jaman. Bukan malah menjauhkan umat dari geliat perubahan,” terangnya.

Biodata Ahmad Tohari
Ahmad Tohari (77) Lahir di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas, 13 Juni 1942 dan tumbuh di lingkungan pesantren milik ayahnya Kiai Haji Muhammad Diryat. Pesantrean Al Falah Jatilawang yang kini diteruskan oleh adiknya KH Ahmad Sobri.
Oleh karenanya sejak kecil telah akrab dengan pendidikan mulai pengajaran kitab kuning hingga ilmu tirakat yang akhirnya sangat mempengaruhi pola pikir dan perilakunya.
Setelah menamatkan SMA di Purwokerto, ia sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Ibnu Khaldun Jakarta (1967-1970), lalu pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (1974-1975), dan terakhir kuliah Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1975-1976). Namun tak satu pun yang tamat.
“Saya ingin belajar langsung dari kehidupan saja,” ungkapnya.
Karena kegigihan dan keyakinannya inilah ia berkesempatan mendapat beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995).
Menikah tahun 1970 dengan Nyai Hj. Syamsiyah dan dikaruniai 5 anak, 4 putri dan 1 laki-laki. Sudah berumah tangga semua. Dari 5 anak itu dikaruniai 12 cucu.
Pengakuan istri KH Ahmad Tohari, Hj. Syamsiyah, menuturkan bahwa bapak selain sebagai sosok ayah pengayom, walau sudah sepuh tapi masih selalu cukup terbuka dan kerap mengajak anak-anaknya berdiskusi.
“Ketika ada anak maupun cucu melakukan protes hingga meninggalkan syariat agama untuk shalat misalnya, bapak tidak marah. Justru mengajaknya terus berdiskusi,”
“Seperti dikatakan bapak, bahwa orang beragama itu merupakan pilihan. Di samping itu juga bahwa memilih Islam itu atas kesadaran. Bukan karena keturunan, bukan karena paksaan,” jelasnya.
KH Ahmad Tohari dalam riwayat pernah bekerja di BNI 1946 sebagai tenaga honorer yang mengurusi majalah perbankan (1966-1967), majalah keluarga (1978-1981), majalah Amanah (1986-1993), pernah menjadi redaktur Suara Merdeka, dan aktif menulis di Kompas, Tempo maupun Republika.
Dirinya mengemukakan bahwa masyarakat akan terketuk dan tergugah hati dan pikirannya dengan bahasa kesusastraan, hal ini akan memberi ruang untuk kejernihan dalam berpikir maupun bersikap.
“Saya yakin sastra punya ruang bernafas sebagai sarana penyampai warta dan kritik. Berita di televisi, maupun media sosial lainnya, terus terang saja, sudah dianggap sebagai sesuatu yang sangat klise. Sedangkan sastra, lewat jalinan kisah dan sentuhan bahasa, bisa menggugah hati dan pikiran,” ujarnya.
Di balik segala capaiannya tersebut, sebenarnya dalam kisahnya Ahmad Tohari mengaku pernah ragu-ragu untuk menyerahkan naskahnya ke sebuah media cetak (penerbitan buku).
“Dulu awalnya saya pesimis, tidak percaya diri. Saya datang ke sebuah media dan penerbit, sampai di sana ragu-ragu untuk masuk. Tapi, saat itu pintu terbuka. Akhirnya saya masuk juga. Eh, ternyata karya saya diperhitungkan, dicetak berkali-kali. Alhamdulillah jadi berkah, mberkaih,” kenangnya.
Menemukan “Alamat” Tuhan
Nyaris semua karya sastra ayah lima anak ini sangat kental dengan deskripsi alam yang memesona. Selain detail juga sarat dengan protes terhadap ketidakadilan, kesewenangan, dan penindasan.
“Karya-karya saya memang berpihak pada yang lemah dan terpinggirkan. Karena saya berkesimpulan bahwa “alamat” Tuhan sebenarnya berada di tengah-tengah orang-orang kalah, marjinal, dan terpinggirkan. Pada orang-orang yang teraniaya, miskin, kelaparan, tersisih, dan sakit batin maupun lahirnya ke sanalah sangkan paraning dumadi saya. Di situlah titik tolak dan asal mula penciptaan semua karya saya,” Ungkapnya.
Karya-karya novelnya antara lain, “Di Kaki Bukit Cibalak” (1979), “Kubah” (1980), “Ronggeng Dukuh Paruk” (1982), “Lintang Kemukus Dini Hari” (1984), “Jentera Bianglala” (1985), “Bekisar Merah” (1992), “Lingkar Tanah Lingkar Air” (1994), “Lingkar Tanah Lingkar Air (1995)”, “Belantik (Bekisar Merah II)” (2001), dan Orang-orang Proyek” (2002). Novel bahasa Jawa Ronggeng Dukuh Paruk bahasa Jawa Banyumasan (2006) dan Jejingger (2008).
Karya Kumpulan Cerpennya “Senyum Karyamin” (1989), “Nyanyian Malam” (2000), “Rusmi Ingin Pulang” (2004), Mata yang Enak dipandang (2010) dan lainnya.
Kumpulan Kolomnya “Berhala Kontemporer” (1996), “Mas Mantri Menjenguk Tuhan”, dan “Mas Mantri Gugat” (2004). serta “Kamus Dialek Banyumas-Indonesia” (2007). Kamus Al Quran bahasa Banyumas (2020).
Mengajak Manusia min adh-dhulumaat ilaa al-nur
Seluruh karyanya selalu dimaksudkan sebagai cara untuk bertasbih. Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” pernah menimbulkan protes banyak orang. “Masak santri menulis tentang ronggeng?!” ujarnya menirukan protes masyarakat waktu itu. Namun “Ayah Srintil” ini memegang prinsip bahwa santri atau siapa saja boleh menulis tentang apa saja. Selama dimaksudkan untuk iqro’.
“Ingat semua tulisan harus dimaksudkan untuk membaca dan bertasbih kepada sang Khaliq. Mengajak manusia min adh-dhulumaat ilaa al-nur (dari kelam menuju terang),”
“Demikian juga dalam novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ yang berkisah tentang perjalanan seorang perempuan bernama Srintil dalam mencari jati dirinya,” jelasnya.
KH Ahmad Tohari masih sering diundang ceramah di Universitas Leiden (Belanda), Universitas Bon (Jerman), UCLA dan IOWA (Amerika), serta menghadiri berbagai acara seminar, lokakarya, diskusi di berbagai institusi, juga instansi.
Hobinya yang sampai saat ini terus digeluti adalah memancing.
“Memancing bagi saya menjadi cara untuk mencari dan menemukan gagasan,” akunya.
Dan pabila sudah menemukan inspirasi, ia akan sibuk menulis. Kesibukannya tidak bisa diganggu oleh siapa pun, kecuali dua suara. Yakni kokok ayam jantan dan tangis bayi.
“Konsentrasi saya akan buyar seketika bila mendengar dua macam suara yang menggatalkan telinga itu,” kata ‘ayah Srintil’ ini.
Meski begitu ia sangat bangga dan senang dengan cucu-cucunya yang masih lucu dan belia. “Anehnya, kalau cucu saya ngomong kakek jelek. Ada perasaan yang sukar dilukiskan. Tetap senang dan bangga padahal dikatakan jelek,” tuturnya sambil tertawa. (IHA)





