Pelajaran Tawakal Dari Sikap Kiai Nasirun

NUCOM — Baru-baru ini sebuah esai sederhana karya Faisal Kamandobat berjudul “Ketika Ikan dan Pintu di Pagar Tanah Nasirun Dicuri Orang” menghiasi grup watshapp ‘Lesbumi Sejagat’ dan mendapat apresiasi dari Koordinator Perkumpulan Dalang Lesbumi PBNU, Ki Ardhi Purboantono.
Bagi Ki Ardhi, cerita itu bukan sekadar kisah kehilangan. Di dalamnya terselip pelajaran besar tentang tawakal, kelapangan hati, dan sikap “tidak merasa memiliki” yang diajarkan para wali.
Baca juga: Arahan Penuh Hikmah Ketua Lesbumi PBNU dan Koordinator Perkumpulan Dalang Lesbumi Sejagat
Kisah Nasirun dan Syukur: Dua Kali Dicuri, Tak Sekali Pun Marah
Dalam esainya, Faisal Kamandobat mengisahkan Almagfurlah Kiai Nasirun yang memiliki sebidang tanah di dekat Candi Prambanan.
Karena harus kembali ke Tanah kelahirannya di Doplang, Adipala, Cilacap, Nasirun menitipkan tanah beserta kolam ikannya kepada tetangganya bernama Syukur.
Tak lama, Syukur melaporkan bahwa ikan-ikan di kolam telah dicuri. Jawaban Nasirun mengejutkan.
“Ikan-ikan di kolamku memang bagus-bagus, jadi wajar kalau ada orang yang menyukainya,” ujar Nasirun dengan tenang.
Beberapa waktu kemudian, giliran pintu pagar tanah Nasirun yang hilang. Lagi-lagi Syukur kebingungan. Namun Nasirun kembali menjawab santai:
“Aku memang memesan pintu pagar yang bagus, jadi wajar kalau ada orang yang menyukainya dan mengambilnya.”
Dua kali hartanya diambil orang, Nasirun tidak menunjukkan marah maupun sedih. Sikap itu justru membuat Syukur akhirnya memilih pulang.
“Untuk apa saya menjaga tanah Nasirun kalau pemiliknya sendiri tidak marah atau sedih ketika isinya diambil orang?” pikir Syukur.
Baca juga: Kiai Nasirun, Sang Maestro Berpulang, Dunia Seni Rupa Indonesia Kehilangan Satu Nafasnya
Dihubungkan dengan Dawuh Sunan Giri oleh Ki Ardhi Purboantono
Membaca esai itu, Ki Ardhi Purboantono langsung teringat kisah almarhum Almagfurlah KH. Agus Sunyoto, yang sering disebut “Bapak Literasi NU”.
“Jadi Ingat ketika saat Ngaji Pesulukan Dumateng Almarhum Romo Kyai Haji Agus Sunyoto. Beliau mengisahkan Saat Kapal Sunan Giri Di Rampok Oleh Bajak Laut,” akunya.
Ki Ardhi pun kembali menuturkan cerita, saat kapal milik Sunan Giri dirampok bajak laut dalam pelayaran menuju Bali. Para abdi dalem datang melapor dengan panik. Mendengar kabar itu, Sunan Giri hanya memegang dada kiri dengan wajah tertunduk.
Beberapa hari kemudian, datang kabar lain: semua jarahan telah dikembalikan dan para perampok bertaubat. Sunan Giri kembali diam, hanya tersenyum tipis, dengan penuh memegang dada kirinya, dan dawuh. Lalu apa dawuh Kanjeng Sunan Giri?
Berikut Cerita Kanjeng Sunan Giri
Berikut kisahnya, Abdi dalem Santri Wadul; “Nuwun Sewu Kanjeng Sunan Giri, Kepareng Matur Baita ingkang lelayaran Tumuju dumateng Pulo Bali dipun Rampok dening Duratmaka, Sedaya Gusis Dipun Jarah Rayah ..!!!
Mendengar Kabar Dari Abdi Dalem Juru Kemudining Baita, Kemudian Kanjeng Sunan Giri, Memegang Dada Kiri Dengan Wajah Tertunduk.
Setelah itu, kemudian Disusul Abdi berikutnya Melaporkan;
“Kanjeng Sunan Giri Baita Sampun Kawangsulaken Dining Para Duratmaka, Sedaya Jarahan Ugi dipun Wangsulaken, Malah Kepara Tetungguling Para Kecu, Begal Duratmaka Sami Tobat Ngrasuk Agami Pungkasan,”
Mendengar Kabar Baik pun Kanjeng Sunan Giri diam dan hanya Senyum tipis dan memegang Dada Kiri.
Maka Bertanyalah Kanjeng Panembahan Dalem Sunan Zainal Abidin (Putra Pembayun Giri Kedaton),
“Nuwun Sewu Kanjeng Rama Kapareng Bade Nyuwun Dawuh, Rikala Wonten Kabar Baita dipun Rampog dening Duratmaka, Paduka Kanjeng Romo Namung Kendelan Tangkis Dada ingkang Kiwa. Saklajengipun Tanpa Beda Nalika Nampi Pawartos Rikala Baita Sampun Kawangsulaken Semanten Ugi Panjenengan Namung Tangkep Jaja, Nyuwun Dawuh Paduka Kanjeng Romo,”
Kemudian Sunan Giri Paring Dawuh..
“Sejatine Allah Kang Kagungan!! Rikala jinarah Duratmaka;
Sejatine Allah Kang Ngreksa!! Rikala Kawangsulaken;
Ingsun ora kena melik duwe Kegeden Rumangsa!!”
Artinya bahwa “Allah yang memiliki… ketika dirampok. Allah yang menjaga… ketika dikembalikan. Aku tidak boleh merasa memiliki dan besar kepala.”
Ki Ardhi, mengakhiri kisahnya dengan kalimat Wallahu alam
Baca juga: Anugerah Saptawikrama Lesbumi NU, Apa dan Bagaimana Itu?
Pelajaran Tawakal Para Wali
Bagi Ki Ardhi, esai Faisal Kamandobat dan kisah Sunan Giri itu satu benang merah.
“Sikap Nasirun itu ngelingke marang dawuh para wali. Nek kabeh iki kagungane Gusti Allah. Nek dijupuk wong, yo wis. Nek dibalekake, yo Alhamdulillah. Aja duwe rumangsa kegeden,” ujar Ki Ardhi.
Ia menilai, di tengah zaman yang serba reaktif dan emosional, kisah seperti ini penting untuk diingat kembali. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha.
Ki Ardhi juga menutup dengan doa untuk keduanya Kiai Nasirun dan juga KH. Agus Sunyoto.
“Al-fatihah, kanggo Kiai Nasirun dan Kiai Agus Sunyoto. Seniman, Bapak Literasi NU, Bapak Kebangkitan Lesbumi NU. Dawuh Sang Guru Mulya.”
Esai Faisal Kamandobat pun menjadi pengingat: kadang, ketenangan dalam kehilangan adalah bentuk kekayaan batin yang paling tinggi. (IHA).
Baca juga: Kiai Ngabehi Haji Agus Sunyoto, Sejarawan Islam Nusantara





