Lesbumi Gila! Mengayuh Ontel Dalam Perjalanan, Berkhidmah Bangun Peradaban: Inilah Arahan Penuh Hikmah Ketua Lesbumi PBNU dan Koordinator Perkumpulan Dalang Lesbumi Sejagat

NUCOM, Balikpapan-Jombang, — Tak ada yang kebetulan. Di tengah gempita persiapan Muktamar NU ke-35, ada dua kader Nahdliyin, Anggota Lesbumi, memilih jalan paling sederhana, bersepeda ontel dari Balikpapan menuju Tambakberas, Jombang.

Mengayuh ontel selama dalam perjalanan, berkhidmah membangun peradaban. Inilah Arahan Penuh Hikmah dari Ketua Lesbumi PBNU dan Koordinator Perkumpulan Dalang Lesbumi Sejagat.

“Nyuwon Doa Pangestu”

Diberitakan sebelumnya, Ada dua orang kader Nahdliyin akan mengayuh sepeda kuno merk Gazelle 1919. Mereka berdua akan Boncengan. Dari Balikpapan, Kalimantan Timur menuju Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Mereka adalah Gus Wildan Abadi Al Hafidz (39) dan Ki Dalang Fery Yuda (35). Keduanya adalah utusan Lesbumi PCNU Balikpapan.

Ketua PCNU Lesbumi Balikapapan, Muhajirin, mengonfirmasi wartawan pada Selasa, (14/7/2026), dan mengutarakan bahwa dalam rencana keduanya akan diberangkatkan pada 21 Agustus 2026 dari Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan oleh KH. Ali Cholil, selaku pengasuh pondok sekaligus Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur.

“Nyuwon doa pangestu. 2 utusan Lesbumi Balikpapan badhé ngontél teng muktamar NU 35 ing Tambakberas, Jombang. Mugi keparing lancar mboten wonten kendala nopo-nopo”, demikian laporan khas Kromo hinggil Ketua Lesbumi PCNU Balikpapan Muhajirin kepada Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula.

Baca juga: Lesbumi Gila! Gowes Ontel Dari Kaltim Ke Jatim Demi Muktamar NU KE-35 di Tambakberas Jombang. Siapa Dia?

Menata Niat, Menata Langkah

Menanggapi hal itu, KH. M. Jadul Maula selaku Ketua Lesbumi PBNU memberikan arahan penuh hikmah.

Beliau menekankan bahwa ini bukan “penugasan resmi”, melainkan ikhtiar khidmah. Maka yang utama adalah menata niat.

“Penting menata niat yang benar. Ijin keluarga dan restu orangtua, ijin kepada PWNU/PCNU: Syuriyah-Tanfidziyah, surat pengantar dari NU setempat, ijin/surat jalan dari kepolisian, persiapan jasmani-rohani, dan bekal yang cukup”, pesan Kiai Jadul yang juga Pengasuh Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta.

Beliau juga berpesan agar selama perjalanan berkoordinasi dengan PCNU/Lesbumi di daerah yang dilalui. Untuk teknis di Jombang untuk berkoordinasi dengan Ki Wasis, dan juga dengan Kang Riyadi Ngasiran, PW Lesbumi di Surabaya.

“Kalau secara syariat sudah dilakukan persiapannya, selanjutnya adalah melaksanakan niat dengan kesungguhan. Bismillah, tawakkal ‘alallah”, pungkasnya.

Cak Jirin panggilan akrab Ketua PCNU Balikpapan ini sepenuh seluruh menjawab;

“Nggih, siap. Ngestoaken dawuh. Maturnuwun arahan lan petunjukipun,” akunya.

Baca juga: Tambakberas, Dari Muktamar Kebudayaan Ke Muktamar PBNU: Kembali ke Akar Atau Tarikan Kekuasaan

Laku Khidmah di Zaman Modern

Apresiasi juga datang dari Koordinator Dalang Lesbumi Sejagat, Ki Ardhi Purboantono, Baginya, keputusan mengayuh ontel dari Balikpapan ke Jombang adalah peristiwa batin yang langka di era modern.

“Ini ikhtiar luar biasa. Kalau segala sesuatunya diniati ibadah, apalagi diniati napak tilas para salafus shalih, insyaAllah akan berlimpah pahala dan berkah”, ujarnya.

Menurut Ki Ardhi, para ulama dulu menempuh perjalanan jauh dengan cara paling sederhana. Jalan kaki untuk haji, naik perahu, lalu pesawat. Semakin sederhana caranya, semakin dalam laku dan pesulukannya.

“Saya kira akan lebih tuntas, lebih mantap di dalam hati, akan lebih membekas jika dipilih cara yang paling sederhana. Sebagaimana ulama kita mencontohkan kesederhanaan. Karena hidup ini adalah laku”, jelasnya.

Dia meyakini, di atas sadel ontel, kedua kader ‘Lesbumi Gila’ ini akan mendapatkan “bisikan-bisikan hati” dan “petuah-petuah ilahi” yang tidak didapat mereka yang naik pesawat, kereta, atau mobil.

“Ini tidak mencari viralitas, tidak mencari ketenaran. Tapi menunjukkan nilai kesederhanaan, laku khidmah, laku tasawuf. Dan enggak mungkin peristiwa ini tidak dilakukan dengan cinta. Tanpa cinta, sesuatu tidak akan bisa terjadi”, tegasnya.

“Berangkatlah dengan cinta, engkau akan mendapatkan cinta dari walimu, dari gurumu, dari Nabimu, bahkan dari Gusti Allah. Semoga berlimpah rahmat, syafaat, dan kasih sayang,” tuturnya.

Baca juga: Muktamar Kebudayaan 2026, Wayangan Semalam Suntuk Tiga Dalang Lesbumi, Kolaborasi Agama, Ilmu & Seni

Simbol Kembali ke Akar

Perjalanan dari Balikpapan ke Tambakberas bukan sekadar soal jarak. Ini adalah simbol. Simbol kembalinya Nahdliyin ke akar peradaban, ke rumah kelahiran Lesbumi NU di Pondok Pesantren KH Abdul Wahab Hasbullah.

Di saat dunia serba cepat, dua kader Lesbumi ini justru memilih melambat. Mengayuh. Berdoa. Bertafakur.

Semoga langkah kecil di atas sadel kuno dan ontel tua itu menjadi langkah besar yang menginspirasi. Bahwa mencintai NU tidak cukup di lisan, tapi diwujudkan dengan keringat, doa, dan ketulusan. (IHA)

Baca juga: Tambakberas, Tuan Rumah Muktamar NU ke-35 Siap Akomodasi Muktamirin 100 Persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button