KH Jadul Maula: Lesbumi NU Setahun Dua Kali Harlah, Tradisi Islam Nusantara

NUCOM — Fenomena unik peringatan dua kali pada Harlah NU, maupun Lesbumi dalam setahun terjadi karena perbedaan penggunaan kalender hijriah (komariah) dan masehi (syamsiah) serta penyesuaian konteks peringatan (tanggal lahir resmi dan tanggal peringatan kultural/organisasi). Ini merefleksikan fleksibilitas tradisi Islam nusantara.

Perbedaan ini menonjolkan kekayaan tradisi, di mana aspek historis (hijriah) dan administrasi/budaya (masehi/kultural) berjalan beriringan.

Demikian Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula mengonfirmasi kepada NUCOM mengenai keunikan peringatan hari lahir (harlah) di NU maupun di Lesbumi dalam setahun dua kali. Ahad (29/03/2026).

Dia menjelaskan Harlah NU (Nahdlatul Ulama) diperingati berdasarkan kalender Hijriah (16 Rajab) yang merupakan waktu pendirian resmi dalam AD/ART perkumpulan, sementara kalender Masehi (31 Januari) untuk mempermudah koordinasi organisasi secara nasional.

Demikian juga Harlah Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) sebagai lembaga kebudayaan NU, Lesbumi kerap memperingati harlah pada tanggal pendiriannya serta sering dikaitkan dengan momen peringatan kultural yang mendekati kalender Hijriah/budaya tertentu, menunjukkan identitasnya sebagai lembaga yang dinamis.

“Jadi Betul, tidak ada salah memperingati harlah NU/Lesbumi/lembaga-banom lainnya di lingkungan NU, baik menggunakan versi Hijriyah atau Masehi. Bagi warga NU yang penting memperingati Harlah, dan yang selama ini terjadi diperingati dalam 2 versi itu … tak terhindarkan 😁,” ujarnya.

“Akan tetapi yang paling penting adalah makna dan hakikatnya,” tandas Kiai Jadul Maula yang juga Pengasuh Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta.

“Kalau saya memilih memakai tahun hijriyah (komariah) dari pada masehi (syamsiah), karena (1) mengikuti keputusan Muktamar NU, dan para kiai sepuh dahulu. (2) versi hijriyah, di bulan Syawal, tentunya Harlah Lesbumi ini, memiliki makna keagamaan, spiritual, dan kebudayaan yang lebih pasti dan lebih kuat,” tambahnya.

Seperti diketahui kelahiran Lesbumi NU secara resmi tercatat pada 21 Syawal 1381 Hijriah atau bertepatan dengan 28 Maret 1962 tahunΒ Masehi. Beberapa pendiri Lesbumi NU antar lain; Djamaluddin Malik, Usmar Ismail dan Asrul Sani. Saat itu, Lesbumi sebagai Lembaga otonom atau Lenom, atau Badan otonom saat ini, Lesbumi singkatan dari Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia.

Terakhir selaku Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula menyampaikan Selamat Idul Fitri dan Selamat Harlah Lesbumi.

“Untuk semua teman-teman pengurus dan warga Lesbumi di manapun berada, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri dan Selamat Harlah Lesbumi.
TaqabbalaLlahu minna wa minkum. Semoga kita semua tetap istiqomah, iman, islam dan ihsan, waras, sehat, kuat, aman, nyaman, slamet bejo dunia-akhirat bi barokatil Musthofa shallaLlahu ‘alaihi wasallam. Al-Fatihah. Aamiin. πŸ™πŸ»β€οΈπŸ”₯πŸͺ·πŸ€²πŸ»

Baca juga: Innalillahi, Ibu Nyai Hj Suswati Istri Ketua Lesbumi PBNU Wafat

Ketum PBNU Gus Yahya Bicara Sejarah dan Keberadaan Lesbumi, Begini Ungkapnya

Mengapa Lesbumi Harus Kembali Menjadi Badan Otonom?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button