Jejak Muskernas II Lesbumi 1964, Peta Jalan Kebudayaan Islam Indonesia dari “TAVIP” hingga Islamic Cultural Center

NUCOM – Sejak berdiri 1962, Lesbumi telah memosisikan kebudayaan bukan sekadar seni, tapi sebagai alat konsolidasi revolusi, dakwah, dan perlawanan neokolonialisme. Sebagai Peta Jalan Kebudayaan Islam Indonesia. Jejak tegasnya terlihat pada Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) II Lesbumi di Semarang, 21–24 November 1964.

Duta Masjarakat 1964

Harian Duta Masjarakat, 9 Desember 1964, mencatat Lesbumi memelopori lahirnya peta jalan kebudayaan Islam Indonesia pascakemerdekaan.

Dan Mukernas II Lesbumi pun berlangsung di tengah situasi nasional yang dalam pidato kenegaraan Soekarno pada 17 Agustus 1964, sebagai Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP). Frasa bahasa Italia yang berarti “hidup penuh bahaya”.

Soekarno mengakui bahwa Revolusi belum selesai, maka dia menekankan bagi setiap warga bangsa harus siap menghadapi rintangan dari dalam dan luar negeri, serta waspada terhadap gerakan kontra-revolusioner.

Di suasana itu, gagasan Islamic Cultural Center dan sikap penolakan Manikebu dirumuskan. Keduanya menjadi jejak awal strategi kebudayaan Indonesia yang meletakkan agama, ilmu, dan seni sebagai satu kesatuan. Ini sumber cikal bakal tema “Kembali ke Akar” yang digaungkan Lesbumi hari ini.

Muskernas II Lesbumi, Menentukan Arah Kebudayaan Pascakemerdekaan

Musyawarah ini dijiwai Keputusan Muskernas I Bandung 1962, dan dihadiri seluruh Komda: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jakarta Raya, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan.

Sidang mendengar amanat 3 tokoh negara: Wakil PM III Dr. Chairul Saleh, Menko/Wakil Ketua MPRS Dr. KH Idham Chalid, dan Menteri Agama Prof. KH Saifuddin Zuhri. Prasaran disampaikan Ketua Umum PP Lesbumi H. Djamaluddin Malik, sineas H. Usmar Ismail, dan sastrawan Drs. H. Asrul Sani.

Hasilnya dituangkan dalam 3 keputusan besar: Reorganisasi, Program Kerja Jangka Pendek-Panjang, dan Sikap Politik-Kebudayaan.

1. Reorganisasi: Kembali ke Akar Kepemimpinan Ulama
Mukernas menilai perlu reorganisasi total. Seluruh anggota Pucuk Pimpinan Lesbumi mundur, dan keputusan diterima bulat.

Dewan Pembina baru:
1. KH Wahab Chasbullah – Rais Aam
2. KH Dr. Idham Chalid – Ketua
3. Prof. KH Saifuddin Zuhri – Anggota
4. H. Djamaluddin Malik – Anggota
5. KH A. Syaichu – Anggota

Pucuk Pimpinan terpilih:
1. Ketua Umum: H. Usmar Ismail
2. Ketua I: Drs. H. Asrul Sani
3. Sekretaris Jenderal: H. Hasbullah Chalid

Pengurus baru diberi mandat menyusun dan melengkapi struktur. Sinyalnya jelas: kepemimpinan budaya Islam berada di bawah ulama NU sekaligus seniman-sastrawan nasional.

2. Program Kerja: Dari Konsolidasi Massa ke Islamic Cultural Center

Program dibagi dua lapis.

A. Jangka Pendek yaitu memuat 11 Agenda Konsolidasi, antara lain;
1. Ekspansi: Memperluas Komda, cabang, perwakilan ke seluruh Indonesia
2. Identitas: Meratakan tanda anggota dan PD/PRT Lesbumi
3. Turun ke bawah (Turba): Peninjauan daerah minimal 1 periode sekali
4. Aliansi: Kerja sama dengan lembaga kebudayaan revolusioner Pancasilais-Manipolis-Usdekis, prioritas lembaga bernafaskan Islam
5. Yayasan*): Mengaktifkan kembali Yayasan Kebudayaan Lesbumi + perwakilan di tiap Komda/cabang
6. Media: Menerbitkan majalah/buletin pusat dan rubrik kebudayaan di harian daerah
7. Sirkulasi ide: Pengumpulan dan tukar-menukar naskah antar daerah
8. Kaderisasi: Mendirikan _training center_ kader Lesbumi
9. Fikih seni: Musyawarah khusus tetap merumuskan hukum Islam dalam seni-budaya
10. Teater dakwah: Mengintensifkan teater sebagai pusat seniman drama Islam
11. Simbol: Referendum penentuan lambang dan mars Lesbumi

B. Jangka Panjang – 4 Pilar Peradaban
Visi terbesar: Membangun Islamic Cultural Center dengan 5 unit:
1. Pusat pendidikan keagamaan & kebudayaan Islam
2. Museum sejarah perjuangan Islam di Indonesia
3. Perpustakaan Islam
4. Pusat penerjemahan/penafsiran Al-Qur’an
5. Lembaga penulisan sejarah & antropologi budaya Islam

Tiga target lainnya yakni: pertama, produksi film cerita/dokumentasi dakwah Islamiyah; kedua, menampung eksperimen seni baru selama tidak melanggar norma Islam; ketiga, menciptakan ide kerja sama nasional-internasional kebudayaan Islam.

Dalam tahun 1964, gagasan Lesbumi ini sangat visioner, jauh sebelum wacana “Islamic Center” kemudian menjadi populer.

3. Sikap Politik-Kebudayaan: Garis Keras TAVIP & Anti-NEKOLIM
Mukernas II menempatkan Lesbumi sebagai sayap kultural revolusi.

A. Bidang Politik
1. Mengamalkan TAVIP “tanpa reserve” untuk menyukseskan revolusi dan Dwikora,
2. Siap mengirim anggota ke garis depan melawan proyek NEKOLIM British Malaysia
3. Instruksi: seluruh pengurus & warga mendalami TAVIP dengan keyakinan “ridla Allah pasti menang”
4. Seruan: berani “vivere pericoloso”, tapi jangan berbahaya kepada Tuhan
5. Bersama kekuatan progresif Pancasila-Manipol-Usdek, membina kebudayaan nasional sesuai komando Bung Karno
6. Menentang aktif Manikebuisme dan menuntut tindakan tegas pada revisionis Pancasila

B. Bidang Perfilman
Mendukung Penpres No.1/1964 & Keppres No.265/1964 tentang pembinaan perfilman. Mendesak pemerintah tegas pada upaya menggerogoti wibawa pemerintah di bidang film dan budaya.

C. Bidang Sastra
Mendesak pemerintah agar PKPI – Karyawan Pengarang Indonesia dilibatkan aktif di delegasi Konferensi Pengarang Afrika-Asia (KPAA).

D. Bidang Khusus
1. Menyukseskan Konferensi Islam Afrika-Asia (KIAA) sebagai proyek nasional,
2. Mendesak diikutsertakan dalam delegasi panitia KIAA pusat dan daerah,
3. Menolak keikutsertaan proyek NEKOLIM British Malaysia di KAA II Aljazair karena tidak mewakili aspirasi NEFOS,

Catatan Sejarah: Warisan 1964 untuk 2026

Diputuskan Semarang, 24 November 1964, pukul 21.30. Ditandatangani Ketua H. Usmar Ismail dan Sekretaris H. Hasbullah Chalid. Tembusan dikirim ke PBNU, PWNU se-Indonesia, Anggota Dewan Partai NU, dan semua cabang Lesbumi.

Keputusan Muskernas II Lesbumi di Semarang 1964 penting karena:

  1. Meletakkan trilogi Agama-Ilmu-Seni sebagai fondasi, 2 tahun sebelum Manifesto Gelanggang 1966,
  2. Menolak sekularisasi budaya lewat sikap anti-Manikebu,
  3. Mencanangkan “Islamic Cultural Center”, cikal bakal gagasan pusat kebudayaan Islam yang kini ditegaskan lagi lewat tema “Kembali ke Akar” pada Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 di Jombang pada 12-15 Juni 2026.

Muskernas II Lesbumi di Semarang pada 1964, membuktikan Lesbumi sejak awal tidak hanya berkesenian, tapi berjuang: menjadikan seni sebagai senjata revolusi, dakwah, dan peradaban. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button