Interacting Live-In; Membuka Mata Lewat Dialog Lintas Iman

NU CILACAP ONLINE – “Mbak dari agama apa? Islam?” Inilah interaksi awal saya dengan salah satu peserta Interacting Live-In 2025. Satu acara dialog lintas iman inisiasi Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga) Jogjakarta.
Hari itu Jumat (9/05/2025) adalah hari pertama Interacting Live-In yang diikuti oleh agamawan muda se Kabupaten Cilacap. Kegiatan ini berlangsung di hotel Sindoro Cilacap dan menjadi pengalaman pertama saya berbaur dan berdialog dengan para agamawan lintas iman selama tiga hari ke depan.
Sebagai seorang Muslim yang hidup di Indonesia negara dengan penduduk mayoritas Muslim saya tumbuh dalam keyakinan bahwa masyarakat secara umum memahami identitas dan kebiasaan umat Islam.
Saya merasa bahwa mengenakan pakaian tertutup dan hijab sudah cukup jelas merepresentasikan identitas saya. Namun, semua asumsi itu mulai runtuh saat saya mengikuti acara yang mempertemukan saya dengan peserta dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Pengalaman pertama yang membuka mata saya adalah ketika peserta di sebelah kursi saya bertanya, “Mbak dari mana? Islam?” membuat saya sempat terdiam, heran.
Bukankah hijab sudah cukup menjelaskan identitas saya sebagai Muslim? Ternyata tidak. Momen ini menyadarkan saya bahwa penampilan luar tidak selalu cukup untuk menandakan identitas agama seseorang.
Tapi…ya sudahlah memang toh pakaian memang tidak beragama, sedangkan kami di sini tengah membawa pesan bahwa agama adalah sumber perdamaian. Baca juga Rektor UIN SUKA: Agama Adalah Sumber Perdamaian
Refleksi Sudut Pandang Antar Agama
Ada banyak faktor lain yang membentuk persepsi, dan itu bisa sangat berbeda di mata orang lain. Baca juga Hati-Hati dengan Takfir atau Mengkafirkan
Momen lainnya yang tak kalah menyentuh adalah saat peserta diminta menyampaikan persepsinya masing-masing terhadap agama lain lantas ada peserta yang bertanya “Kenapa sih orang Islam kalau adzan harus pakai toa? Apakah ini upaya mengajak orang non-Muslim masuk Islam?”
Pertanyaan itu jujur membuat saya terkejut sekaligus tersentak. Sebagai Muslim, penggunaan toa saat adzan adalah hal yang sangat lazim, bahkan tidak pernah saya pertanyakan sebelumnya.
Namun dari pertanyaan itu saya belajar bahwa sesuatu yang biasa bagi saya, bisa menjadi asing bahkan mengganggu bagi orang lain, terlebih jika tidak ada pemahaman yang menyertainya.
Saya pun mulai merefleksikan cara pandang saya selama ini terhadap penganut agama lain. Dulu saya menganggap mereka eksklusif, enggan berbaur, bahkan sedikit arogan karena hanya bergaul dengan sesama pemeluk agamanya.
Tapi saya sadar, anggapan itu lahir dari ketidaktahuan saya, dan minimnya interaksi. Saya yang justru tidak membuka ruang untuk mengenal mereka lebih dalam. Bukan karena merasa agama saya lebih baik, melainkan karena saya tidak cukup peduli.
Melalui program ini, saya dan teman-teman lintas iman mendapat kesempatan untuk menyimak presentasi dari berbagai perwakilan agama.
Yang mengejutkan, ternyata nilai-nilai universal seperti kasih sayang, kejujuran, dan kedamaian yang saya temukan dalam Islam, juga ada dalam ajaran agama lain.
Ini memperkuat pemahaman saya bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sejatinya membawa pesan universal, yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan lintas keyakinan.
Merajut Toleransi
Mengikuti program dialog lintas iman menjadi salah satu pengalaman yang paling membuka mata dan hati saya. Baca juga Kajian Aswaja, Dialog Budaya Puncak Hari Santri di
Sebelumnya, saya memiliki prasangka bahwa orang-orang dari agama lain mungkin tertutup, bahkan terkesan sombong.
Namun, interaksi langsung dalam program ini justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka begitu terbuka, hangat, dan menyambut dengan penuh rasa hormat.
Salah satu momen yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika mengetahui bahwa sebagaimana Banser turut mengamankan jalannya misa Natal, saudara-saudara non-Muslim pun ternyata peduli dan bersedia membantu pengamanan pelaksanaan shalat Ied saat Hari Raya Idul Fitri.
Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran bahwa semangat saling menjaga dan peduli tidak memandang latar belakang agama.
Inilah wujud nyata toleransi yang selama ini mungkin hanya saya dengar dalam teori.
Dari program ini, kami para peserta merasa memiliki tanggung jawab moral. untuk menyebarkan semangat positif ini agar lebih toleran dan menghargai perbedaan
Hal yang penting di sini adalah bagaimana bisa lebih bijak dalam berucap, terutama dalam menghindari candaan atau komentar yang bisa menyinggung keyakinan agama lain. Terkadang, tanpa disadari, candaan seperti itu dapat menanamkan prasangka buruk dan memperlebar jurang perbedaan. (Naeli Rokhmah)





