Innalillahi, Kabar duka Beruntun, Anton Kurnia dan Sam Mukhtar Chaniago, Wafat

NUCOM —- Jumat, 18 September 2026 adalah hari duka bagi sastra Indonesia. Belum sempat bibir kita selesai mengucap kalimat tarjih untuk satu nama, kabar duka lain menyusul. Dalam satu hari yang sama, dunia sastra kehilangan dua pekerjanya: Sam Mukhtar Chaniago dan Anton Kurnia. Innalillahi wainna ilaihi raji’un…

Dua nama. Dua generasi. Dua jalan yang berbeda. Namun keduanya dipertemukan oleh satu kesamaan yakni menghabiskan hidup untuk sastra.

Anton Kurnia Berpulang Jumat Sore

Pukul 17.15 WIB, Jumat, 18 September 2026, penulis, penerjemah, dan editor kelahiran Bandung, 9 Agustus 1974 itu berpulang. Kepergiannya meninggalkan lubang besar, bukan hanya di meja tulis, tapi juga di panggung belakang sastra Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, nama Anton lekat dengan kerja kelembagaan. Ia adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Direktur Jakarta International Literary Festival (JILF). Itu bukan sekadar jabatan. Ia sedang mengerjakan sesuatu yang jarang dikerjakan orang: membawa sastra keluar dari kamar-kamar sempitnya, mempertemukannya dengan pembaca, dengan dunia.

Anton adalah manusia yang bekerja di banyak pintu sastra sekaligus. Ia menulis cerpen, novel, esai, nonfiksi naratif. Kumpulan cerpennya _Nostalgia_ (2023) dipilih Majalah Tempo sebagai buku fiksi terbaik tahun itu. Ia pernah menjadi penulis residensi di Dilsberg, Jerman, program UNESCO City of Literature Heidelberg. Ia menerjemahkan James Joyce, Vladimir Nabokov, Salman Rushdie agar mereka bisa berbahasa Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Komite Buku Nasional 2016-2019.

Ada orang yang menulis sastra dengan membuat buku. Ada yang menulis dengan menerjemahkan buku orang lain. Ada yang menulis dengan membangun ekosistem agar buku bisa bertemu pembacanya.

Anton melakukan ketiganya. Ia tidak selalu berdiri di depan mikrofon. Ia sering berada di belakang panggung, mengurus festival, menyunting naskah, menghubungkan orang, membukakan pintu, memastikan percakapan sastra tetap hidup.

Sam Mukhtar Chaniago Berpulang Jumat Dini Hari

Sebelumnya, Di Jakarta, di dini hari yang sama, seorang penyair berpulang.

Sam Mukhtar Chaniago, wafat di RS PON Cawang, 18 September 2026 dini hari. Penyair dan akademisi Universitas Negeri Jakarta. Laman Fakultas Bahasa dan Sastra UNJ mencatatnya sebagai Drs. Sam Mukhtar Chaniago, M.Si.

Tapi gelar akademik tidak pernah cukup untuk menjelaskan Sam.

Lelaki kelahiran Koto Sabaleh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 1 Mei 1960 itu, sudah berurusan dengan puisi sejak SMP. Puisi-puisinya dimuat di Suara Karya Minggu 1985 dan 1986. Karyanya hadir dalam berbagai antologi sejak akhir 1970-an hingga tahun-tahun terakhir hidupnya.

Perjalanan kepenyairannya bukan perjalanan kemarin sore. Jalan panjang, yang mungkin tidak selalu ramai, tidak selalu menghasilkan penghargaan, apalagi membuat rekening bank gendut.

Begitulah nasib banyak penyair yang tekun menulis, tekun membaca, tekun hadir, lalu tetap ditanya, “Memangnya jadi penyair dapat apa?”

Mungkin Sam tahu jawabannya. Tidak banyak. Tapi ada yang lebih penting sari segalanya. Apa? Adalah kesempatan untuk tetap menjadi manusia melalui kata-kata memanusiqkan manusia.

Kita mengenang para penjaga kata dengan kalimat yang paling sederhana dan paling kuat, yakni merekalah yang disebut dalam Al Qur’an surat Nun sebagai penjaga pena (kalam). Yang pada akhirnya, setelah semua buku, jabatan, gelar, dan festival selesai, yang tersisa dari manusia memang hanya satu: apakah kehadirannya pernah memberi kebaikan pada orang lain?

Untuk Sam, Untuk Anton. Di sinilah keduanya bertemu. Anton bekerja untuk sastra dengan memperluas pintu. Sam bekerja untuk sastra dengan memperpanjang napas. Satu menerjemahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Satunya lagi menanam benih kata dalam puisi untuk pohon kehidupan abadi melalui ruang-ruang kelas.

Kini keduanya sama-sama telah meletakkan penanya.

Tugas kita yang masih hidup hanyalah melanjutkan paragraf yang mereka tinggalkan. Membaca buku-buku Anton. Membaca puisi-puisi Sam. Mengajarkan kepada anak-anak muda bahwa sastra bukan sekadar panggung lampu warna-warni dan foto bersama penulis terkenal.

Sastra adalah kerja panjang. Kadang sunyi. Kadang menyebalkan. Kadang tidak menghasilkan uang. Tapi tetap dikerjakan, karena manusia butuh kata-kata untuk memahami hidupnya.

Buku mungkin tinggal lebih lama dari penulisnya. Puisi mungkin menemukan pembacanya bertahun-tahun kemudian.

Anton dan Sam sesungguhnya tidak benar-benar selesai. Mereka hanya berhenti menambahkan kalimat.

Selamat jalan, Anton Kurnia.
Selamat jalan, Bang Sam Mukhtar Chaniago.
Semoga Allah mengampuni segala khilaf, menerima amal baik, melapangkan jalan pulang, dan menempatkan keduanya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..
lahum Alfatihah..

Baca juga: Radhar Panca Dahana Tutup Usia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button