Mengenang KH Munawir Hasyim, Mustasyar MWCNU Sampang

NU CILACAP ONLINE – Patah hati terbesar santri adalah saat kehilangan sosok sang guru. Inilah yang dirasakan santri dan muhibbin atas kepergian KH Munawir Hasyim. Ulama bersahaja yang penuh kasih pengasuh pesantren Al Falah Sampang dan juga Mustasyar MWCNU Sampang.

Berita duka menyelimuti warga NU Cilacap. Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sampang, KH Munawir meninggal dunia, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Pengasuh Pesantren Alfalah Sampang ini menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (3/2/2026) di RS Geriarti Purwokerto dikarenakan sakit.

Kepergian almarhum menjadi duka mendalam tak hanya keluarga namun juga santri dan muhibbin.

Almarhum aktif di NU dengan jabatan terakhir sebagai Mustasyar MWCNU Sampang.

KH Munawir juga pengasuh pesantren Alfalah Sampang yang dirintisnya bersama istri, Hj Shofiyah.

Sosok pendakwah penuh kasih

Melansir pcnucilacap.com, KH Munawir adalah sosok pendakwah yang penuh kasih. Dakwahnya tidak menghakimi, namun berbaur dan perlahan menanamkan nilai-nilai keislaman yang bersahaja dan penuh kasih sayang.

Salah satu statement beliau yang melekat adalah “Musibah terbesar santri adalah patah semangat belajar”.

Statement ini menjadi cambuk semangat bukan hanya santri yang diasuh di pesantren tetapi juga para santri di jalur organisasi.

Pesantren Al-Falah Sampang tidak lahir dari kemewahan. Tahun 1987 KH Munawir memulai perjuangannya bersama sang istri tercinta Hj. Shofiyah di atas sebidang tanah kosong.

Bangunan pertama hanyalah rumah kayu dengan lantai papan dan dinding dari bambu bercor tembok. Santri pertama berasal dari sekitar pondok, dikenal sebagai ‘santri kalong’ karena hanya belajar malam hari.

Namun berkat kesabaran, ketekunan, dan pendekatan kultural yang santun, pesantren ini mulai berkembang. Hingga kini, meski jumlah santrinya belum mencapai 100 orang, kehadirannya terasa kuat dalam kehidupan masyarakat. Baca juga Profil Pesantren Alfalah Sampang 

Riwayat pendidikan

KH Munawir merupakan alumni Pesantren Ploso yang keluar tahun 1984. Dia lahir dari pasangan H Hasyim Abdul Manan dan ibunya Nyai Husniah. Baca juga Pengurus MWCNU Sampang 2022-2027 Dilantik 

Munawir muda pernah menimba ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Banyuwangi, Bumiayu (di bawah asuhan KH. Jazuli), Mbah Mangli Magelang, dan Mbah Sanusi di Langensari.

Bersama sang istri, Hj. Sofiyah, beliau menanamkan nilai-nilai keislaman yang bersahaja dan penuh kasih dalam mendidik para santri.

Berada di tengah masyarakat yang mayoritas berlatar belakang abangan, pesantren ini menghadapi tantangan besar.

Tradisi berjudi, kehidupan bebas, dan ketidakpedulian terhadap ibadah sempat menjadi realitas sosial yang mencolok. Namun, pendekatan dakwah yang perlahan namun konsisten menjadi kunci sukses.

“Kami memilih untuk tidak menghakimi. Kami datang, berbaur, dan menjadi bagian dari mereka. Seiring waktu, kepercayaan tumbuh,” ujar Hj. Sofiyah pada satu wawancara dengan NU Cilacap Online.

Kini, jamaah pesantren tidak hanya berasal dari Sampang, tetapi juga dari luar daerah, sebagai bukti kepercayaan masyarakat yang semakin meluas.

Mautul ‘alim, mautul ‘alam. Kematian seorang alim adalah kematian alam semesta. Membawa duka dan kehilangan yang tak akan terganti.

Kami segenap redaksi NU Cilacap Online turut berduka sedalam dalamnya. Teriring doa Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu. Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, lindungilah, serta muliakanlah tempatnya. Amin. 

Penulis: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button