Profil Pondok Pesantren Al-Falah Sampang

Menyalakan Lentera Ilmu di Tengah Masyarakat Abangan

NU CILACAP ONLINE-Menjelang pukul 9 pagi matahari belum begitu tinggi. Tapi cuaca di akhir bulan Mei sudah mulai terasa menyengat kulit ketika penulis memasuki gerbang pesantren Al Falah Sampang. Hari itu, Kamis (29/05/2025) adalah titik ketiga berlangsungnya Turba, turun ke bawah oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap dan pesantren ini menjadi tuan rumah.

Pesantren Al falah Sampang, Lokasinya di sebelah selatan pasar Sampang sekitar 500 meter tepatnya di jalan Pamugaran Desa Sampang, Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap. Di sudut tenang, pesantren ini menjadi mercusuar perubahan sosial dan spiritual.

Sebuah bangunan masjid berdiri kokoh di tengah-tengah menjadi pusat ibadah para santri bersama dengan warga sekitar. Di sebelah kanan masjid berdiri bangunan madrasah dua lantai sebagai tempat pembelajaran santri. Sementara di sebelah kiri adalah kediaman KH Munawir yang diapit oleh bangunan asrama di mana para santri tinggal.

Sepertinya masih banyak sisi bangunan yang belum sempat penulis tinjau karena keterbatasan waktu. Tapi cukup menjadi bukti bahwa pesantren ini sudah jauh mengalami perkembangan dari awal merintis.

Pondok Pesantren Al-Falah. Didirikan pada awal 1990-an oleh pasangan KH. Munawir Hasyim dan Hj. Sofiyah, pesantren ini telah berkiprah lebih dari tiga dekade dalam membina generasi santri yang berilmu dan berakhlak.

Awal Perjalanan dari Rumah Kayu

Pesantren Al-Falah Sampang tidak lahir dari kemewahan. Tahun 1987, pasangan pendiri memulai perjuangan mereka dengan membangun pondok di atas sebidang tanah kosong. Bangunan pertama hanyalah rumah kayu dengan lantai papan dan dinding dari bambu bercor tembok. Santri pertama berasal dari sekitar pondok, dikenal sebagai “santri kalong” karena hanya belajar malam hari.

Namun berkat kesabaran, ketekunan, dan pendekatan kultural yang santun, pesantren ini mulai berkembang. Hingga kini, meski jumlah santrinya belum mencapai 100 orang, kehadirannya terasa kuat dalam kehidupan masyarakat. Baca juga Pengurus MWCNU Sampang 2022-2027 Resmi Dilantik

Pendiri yang Khidmat pada Ilmu

KH Munawir, sang pendiri, merupakan alumni Pesantren Ploso yang keluar tahun 1984. Ia lahir dari pasangan H Hasyim Abdul Manan dan ibunya Nyai Husniah. Baca juga Pondok Pesantren Nurul Islam Karangjati Sampang

Munawir muda pernah menimba ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Banyuwangi, Bumiayu (di bawah asuhan KH. Jazuli), Mbah Mangli Magelang, dan Mbah Sanusi di Langensari.

Bersama sang istri, Hj. Sofiyah, beliau menanamkan nilai-nilai keislaman yang bersahaja dan penuh kasih dalam mendidik para santri. Baca juga PAC IPNU IPPNU Sampang Bantu Logistik Pesatren Karangjati Sampang

Berada di tengah masyarakat yang mayoritas berlatar belakang abangan, pesantren ini menghadapi tantangan besar. Tradisi berjudi, kehidupan bebas, dan ketidakpedulian terhadap ibadah sempat menjadi realitas sosial yang mencolok. Namun, pendekatan dakwah yang perlahan namun konsisten menjadi kunci sukses.

“Kami memilih untuk tidak menghakimi. Kami datang, berbaur, dan menjadi bagian dari mereka. Seiring waktu, kepercayaan tumbuh,” ujar Hj. Sofiyah saat ditemui di kediamannya.

Kini, jamaah pesantren tidak hanya berasal dari Sampang, tetapi juga dari luar daerah, sebagai bukti kepercayaan masyarakat yang semakin meluas.

Program Pendidikan dan Harian

Pesantren Al-Falah membebaskan para santri untuk memilih sekolah formal sesuai keinginan, mulai dari SMP Negeri Sampang, SMP Diponegoro, hingga SMK dan SMA di bawah Yayasan Diponegoro. Sementara itu, di lingkungan pondok, program keagamaan tetap menjadi prioritas:

Aktifitas santri telah dimulai sejak subuh dengan program Tahfidz Al-Qur’an yang berlangsung usai jamaah shalat. Sore hari sehabis Asar adalah ngaji Bandongan Tafsir Jalalain. Sedangkan malam hari untuk kegiatan Madrasah, ngaji kitab dan binadhor Qur’an.

Setiap tahun, pesantren menggelar Haflah Akhir Tahun pada bulan Rajab atau awal Sya’ban sebagai bentuk syiar dan apresiasi capaian santri.

Keluarga Pengasuh dan Kaderisasi

Munawir dan Nyai Sofiyah tidak hanya membina santri, tapi juga mendidik anak-anak mereka menjadi penerus perjuangan. Putri sulung, Iin Mahfudzoh, kini menjadi kepala TK Diponegoro. Putri kedua, Lulu Maratus Sholihah, aktif mengajar kitab kuning di pondok, sementara Sai’dah, yang merupakan hafizhah dan alumni Pandanaran, menjalankan program tahfidz bersama suaminya, Gus Tajab.

Dahulu, Al-Falah sempat memiliki madrasah malam untuk anak-anak kampung yang ingin belajar selepas Maghrib. Meski program itu kini berhenti, semangat pengabdian tetap menyala. Banyak alumni yang kembali ke kampung halaman dan langsung terlibat mengajar di madrasah atau organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Pesantren ini kini menjadi oase keilmuan di tengah masyarakat yang dulunya jauh dari kehidupan religius. Dengan tetap menjunjung prinsip ta’lim wa ta’allum, Al-Falah terus menyalakan lentera Islam dari desa untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button