KH Abdul Wahab Hasbullah: Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia Sejati

NUCOM, Jombang – KH Abdul Wahab Hasbullah adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Pahlawan Nasional Indonesia, dan pencipta lagu/syair Ya Lal Wathon. Dengan demikian KH Abdul Wahab Hasbullah adalah Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia Sejati.

Kalau disebut “seniman”, bayangan kita pelukis atau penyair. Tapi KH Abdul Wahab Hasbullah, Jombang, (lahir, 31 Maret 1888- wafat, 29 Desember 1971) adalah seniman dengan kuasnya berupa gagasan, dan budayanya berupa akhlak. Adalah Budayawan dengan sikap dan lakulampahnya berupa tauladan yang diwariskan menjadi abadi.

Murid KH Hasyim Asy’ari dan Syaikh Kholil Bangkalan ini membuktikan: Islam dan budaya bisa jalan beriringan, tanpa satu pun dikorbankan.

Sang Maestro Tashwirul Afkar: Pesantren Bebas Berpikir

Tahun 1914, di tengah dinginnya kolonialisme, Kiai Wahab mendirikan Tashwirul Afkar di Tebuireng. Forum diskusi pemuda santri pertama. Di sinilah “kebebasan berpikir” lahir versi pesantren: bebas tapi beradab, kritis tapi tetap takdzim dan salim sama kiai.

Beliau menolak dikotomi “kalau modern pasti sekuler, kalau religius pasti kaku”. Bagi Kiai Wahab, kebebasan berpikir justru bahan bakar iman. Dengan berpikir, umat Islam bisa membedah problem sosial pakai pisau analisis keislaman, bukan emosi.

Fatwa “Lompatan Kambing”: Seni yang Memanusiakan

Cerita si bawah ini sangat populer, cerita yang menggambarkan Kiai Wahab sebagai seniman dan budayawan Sejati. Dan sesuatu yang menunjukkan bahwa lingkungan NU tempat berpadunya fikih, realitas sosial, dan kearifan lokal.

Datangnya Sang Ayah yang Bingung

Suatu hari, seorang ayah datang ke Tebuireng Jombang. Wajahnya resah. Ia baru saja bertanya hukum qurban ke Kiai Bisri Syansuri. Jawabannya tegas sesuai kitab: “Qurban sapi pahalanya untuk tujuh orang saja.”

Ayah ini punya 8 anak. Anak bungsunya masih balita. Ia kecewa. “Kalau begitu anak saya yang kecil tidak ikut dapat pahala qurban, Kiai?” Tentu jawaban fiqih itu benar, tapi hatinya belum lega. Sebagai orang tua, ia ingin semua anaknya kebagian berkah.

Menghadap Kiai Wahab, Sang Budayawan

Tak puas, ia lalu sowan ke KH Abdul Wahab Hasbullah. Kiai Wahab ini dikenal murid KH Hasyim Asy’ari, ahli ushul, sekaligus budayawan yang pikirannya luas. Ia dengarkan keluh kesah sang ayah dengan tenang. Tidak langsung memotong, tidak juga menyalahkan fatwa Kiai Bisri.

Setelah paham masalahnya, Kiai Wahab tersenyum. Beliau tidak membatalkan hukum fiqih. Beliau justru mencarikan jalan tengah yang manusiawi.

Jawaban Jenius Kiai Wahab: “Belikan Kambing untuk Lompatan”  

Kiai Wahab berkata pelan tapi mengena: “Untuk anakmu yang kecil itu, belikan seekor kambing. Jadikan kambing itu sebagai ‘lompatan ke punggung sapi’.”

Artinya 7 orang dewasa tetap qurban sapi sesuai hukum asal. Anak bungsu qurban kambing. Dengan begitu, semua anak kebagian qurban. Secara fiqih sah. Secara sosial, rasa keadilan orang tua terjaga. Tidak ada anak yang merasa “dianaktirikan”.

Sang ayah pulang dengan lega. Masalah selesai tanpa debat panjang.

Hikmah di Balik Kisah: Fikih yang Membumi

Kisah ini selalu diceritakan pengurus NU karena 3 pesan runut di dalamnya:

Pertama, Kiai Wahab menghormati hukum. Beliau tidak mengubah fatwa “sapi = 7 orang”. Fikih tetap fikih.

Kedua, Kiai Wahab membaca realitas. Beliau paham perasaan seorang ayah yang ingin adil untuk semua anak. Agama datang untuk manusia, bukan manusia dipaksa mati-matian untuk teks.

Ketiga, Kiai Wahab pakai kaidah ushul yang bijak: “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”_ — Apa yang tidak bisa diraih seluruhnya, jangan ditinggal seluruhnya.

Kalau tidak bisa 8 orang qurban sapi, maka 7 sapi + 1 kambing. Itu lebih baik daripada membatalkan niat qurban karena merasa “kurang”.

Dari sinilah sejatinya julukan “seniman dan budayawan Muslim Indonesia” untuk Kiai Wahab yang tepat. Beliau seniman karena dakwahnya indah dan solutif. Beliau budayawan karena memahami denyut nadi masyarakat, lalu menyulamnya dengan hukum agama.

Kisah “lompatan kambing” ini warisan berharga: NU harus tegas dalam prinsip, tapi luwes dalam cara. Tegas jaga syariat, luwes jaga hati umat. Itulah NU yang diajarkan Kiai Wahab. Runut, masuk akal, dan menyejukkan.

Lakulampah: Dari Panggung Diskusi ke Panggung Kemerdekaan

Sebelum NU 1926, beliau sudah dirikan Nahdlatul Wathan 1916 untuk pemuda, lalu Nahdlatut Tujjar untuk ekonomi umat. Saat Hijaz terancam, beliau memimpin Komite Hijaz untuk menjaga tradisi Aswaja. Dari situlah NU lahir.

Beliau juga pencipta Ya Lal Wathon 1934. Lagu itu bukan sekadar syair. Itu “karya seni” yang menancapkan cinta tanah air ke dada santri sampai sekarang. Karena beliau paham: dakwah paling mengena itu lewat rasa, lewat budaya, lewat lagu yang dinyanyikan bersama.

Gelar Pahlawan, Tapi Hatinya Tetap Santri

7 November 2014, negara menganugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pantas. Tapi bagi Kiai Wahab, gelar itu tak seberat tanggung jawabnya: memastikan Islam Nusantara tetap merdeka berpikir, kaya budaya, kuat akhlak.

KH Abdul Wahab Hasbullah mewariskan 3 hal:

1. Berpikir merdeka, tapi bersandar Al-Qur’an dan Sunnah.

2. Berbudaya luwes, tapi tidak keluar dari syariat.

3. Berdakwah solutif, bukan menghakimi.

Itulah seniman. Itulah budayawan Muslim Indonesia. Bukanlah yang melukis kanvas tanpa makna, tapi yang melukis peradaban. Semoga spirit Tashwirul Afkar selalu hidup di majelis-majelis kita. Aamiin. (IHA)

Baca juga: KH Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri dan Penggerak NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button