Inilah Kisah Eddy dan Daryana Korban Selamat dari Hantaman Tanah Longsor Cibeunying

MAJENANG, NU Cilacap Online – Adalah Imam Faeddy (50) dan Daryana (52) keduanya merupakan kepala keluarga yang berhasil menyelamatkan diri dari petaka tragedi tanah longsor Cibenying yang meluluhlantakkan rumah kediamannya hingga tertimbun tanah dengan ketinggian hingga belasan meter, pada Kamis (13/11/2025). Inilah Kisah Eddy dan Daryana Korban Selamat dari Hantaman Tanah Longsor Cibeunying.
Kisah Imam Faeddy
Adalah Imam Faeddy (50) warga Rt 6/3 Dusun Tarukahan, Cibeunying, salah satu korban Longsor Cibeunying yang berhasil menyelamatkan diri.
Katanya, malam itu sekitar pukul 20.00 WIB, dia sedang duduk bersama tiga warga lainnya di depan rumah sembari menikmati kopi panas.
“Waktu itu hujan gerimis,” Kata Imam Faeddy yang akrab dipanggil Eddy.
“Tiba-tiba ada suara gemuruh seperti pesawat. Saya berdiri, lihat ke depan, ada gumpalan kukus. Lalu terlihat kayu seperti berterbangan dan di belakangnya tanah,” sambung Eddy.
Eddy pun berkali-kali menyebut apa yang dikatakannya itu betul-betul terjadi, Eddy menyaksikan secara langsung dengan kedua matanya.
Dia kemudian berkata: “Yang terakhir itu kayak ular lagi berenang di kali, goyang, set, jes. Tanah sudah labil dan berhenti di sini. Tiga teman saya langsung lari membantu menyelamatkan korban.”
Eddy pun teringat akan kedua anaknya berada di dalam rumah, segera Eddy berlari pulang. Begitu sampai, rumahnya sudah terdorong material tanah, kayu, dan batu.
“Anak di kamar sendiri, posisinya tidur. Anak saya teriak, ‘Bapak, Bapak!’ Lalu saya tendang pintu, dan gendong anak paling kecil keluar.”
Namun, ia sempat panik lantaran tidak menemukan anak sulungnya yang biasa tidur di kamar tengah. Kondisi makin mencekam ditambah tanpa penerangan, listrik pun padam.
“Gelap gulita, enggak ada penerangan. Saya cari anak sulung saya, terus kedengaran suara teriak, ‘Bapak, Bapak!’ dari arah berlawanan. Syukur, dua-duanya selamat,” katanya penuh lega.
Anak bungsunya, yang masih kelas 4 SD ditemukan dalam keadaan terguncang. Sedangkan si sulung, yang berusia 19 tahun berhasil menyelamatkan diri.
Imam Faeddy berkata, kondisi gelap dan tanah yang masih labil membuat proses pertolongan sulit. Warga, sambungnya, berlarian berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Begitu tanah mulai berhenti bergerak, barulah teriakan minta tolong terdengar berkali-kali dari berbagai arah.
Berhasil Mengevakuasi Lansia
Eddy juga bercerita bahwa dirinya berhasil mengevakuasi seorang lansia, bernama Mbah Rislam, meskipun sempat tertimbun longsor. Namun anggota keluarganya yakni cucu mbah Rislam, Maya dan Julia, tak selamat dari bencana tersebut.
“Cucunya ada dua, Julia dan Maya, keduanya meninggal,” ucap Eddy.
Eddy mengatakan wilayah tempat tinggalnya berada di bawah kawasan perbukitan yang ditanami pohon kelapa, pisang, dan bambu.
Ia menduga, longsor kali ini berasal dari ketinggian dan bergerak cepat menuju permukiman warga.
“Tanah yang di atas itu sudah turun kurang lebih dua meter. Jarak kiriman tanah itu dari sana sekitar dua kilometer. Tadinya diprediksi longsor turun ke arah lain, ke daerah Cikuyut. Warga di sana bahkan sudah diminta ngungsi,” terangnya.
“Demikian yang diinformasikan yang longsor adalah bagian atas, tapi yang bawah juga kena,” ceritanya.
Dalam kepanikan, dia hanya bisa pasrah dan berteriak melihat tanah menelan permukiman ini.
“Saya cuma teriak Allahu Akbar, tanah pun longsor menutupi rumah-rumah,” kenangnya.
Rumah Imam Faeddy yang bercat merah di ujung permukiman itu pun rata dengan tanah.
“Rumah saya hancur dan hilang,” ucapnya.
Baca juga: Berikut Daftar Korban Longsor Cibeunying yang Sudah dan Belum Ditemukan
Kisah Daryana
Adalah Daryana (52) seorang warga Rt 6/3 Dusun Tarukahan, salah satu korban longsor lainnya yang berhasil menyelamatkan diri.
Dia mengaku sempat terseret sampai 15 meter. Di atas kursi roda dalam perawatan medis di RSUD Majenang, dia menatap hampa, oleh karena kehilangan istrinya, Yuni dan anak perempuannya, Maya, akibat longsor yang terjadi pada Kamis malam, (13/11/2025).
Jasad putrinya, ditemukan tim SAR gabungan pada malam pertama pencarian, sedangkan tubuh sang istri ditemukan pada Jumat (14/11) siang.
“Saya kehilangan anak dan istri. Peristiwanya begitu cepat,” ujarnya
Pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, dia bercerita, baru saja selesai menghadiri acara tahlilan yang sudah menjadi rutinitas warga dusun.
Ketika sedang jalan pulang, dia mendengar suara gemuruh yang begitu kencang.
“Saya berlari ke rumah dan berteriak kepada istri dan anak untuk keluar rumah,” ceritanya mengingatkan detik-detik peristiwa naas tersebut.
Di tengah teriakan itu, Daryana tiba-tiba terbawa oleh aliran lumpur yang merendamnya dari perut hingga kaki.
Dia hanya bisa pasrah. Berserah pada yang yang kuasa, yang memiliki semesta.
“Saya sempat terseret sampai 15 meter. Saya tidak bisa bergerak, hanya mengikuti lumpur yang bergerak. Saya tidak sempat menyelamatkan anak dan istri karena tidak mungkin,” ungkapnya.
Daryana mengetahui dirinya selamat setelah tersadar di rumah sakit. Dia mengalami luka-luka pada bagian bahu dan tubuhnya terasa lemas sehingga harus dibantu dengan kursi roda.
Daryana (52) kini seorang diri, seorang kepala keluarga yang kini hidupnya sebatangkara, dia telah kehilangan anak, istri, beserta sanak saudara yang dicintainya, karena jadi korban bencana tanah longsor yang terjadi pada Kamis (13/11/2025) malam.
Baca Selengkapnya di: Longsor Cibeunying, Operasi SAR Dua Korban Terakhir hingga Malam Hari
Doa untuk Para Korban Bencana Tanah Longsor
Mari kita panjatkan doa kepada Allah SWT agar mereka diberikan kekuatan, kesabaran, dan perlindungan dari segala marabahaya.
Doa untuk para korban Bencana Tanah Longsor Cibeunying Majenang :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُتَوَفِّينَ، وَارْزُقِ النَّاجِينَ صَبْرًا وَسُلْوَانًا، وَاشْفِ الْجَرْحَى وَالْمَرْضَى، وَارْزُقْهُمْ مِنْ فَضْلِكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَاحْفَظْهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Ya Allah, ampunilah mereka yang telah wafat, anugerahkanlah kesabaran dan ketabahan kepada para para korban bencana tanah longlor, sembuhkanlah mereka yang terluka dan sakit, serta karuniakanlah kepada mereka rezeki yang halal dan baik dari anugerah-Mu. Jagalah mereka, wahai Rabb semesta alam.”
Dengan doa semoga dapat mencukupi harapan-harapan terbaik untuk para korban, baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Mereka yang telah meninggal, kita mohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dan Bagi mereka yang selamat, kita memohon agar diberikan kekuatan untuk bangkit dari musibah ini.
Bencana tanah longsor Cibeunying mengajarkan kita akan pentingnya solidaritas, kepedulian, dan rasa syukur. Sebagai makhluk yang lemah, kita hanya bisa bersandar kepada Allah SWT dalam segala keadaan. (IHA)






Turut berduka cita atas bencana tanah longsor yang melanda Cibeunying. Doa terbaik untuk para korban dan keluarga yang terdampak. Semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan segera pulih dari musibah ini.
Dan kebaikan para tim SAR adalah pelita di tengah kegelapan. Semoga kesehatan & keberkahan senantiasa terlimpah pada para relawan.
Turut berduka cita atas bencana tanah longsor yang melanda Cibeunying. Doa terbaik untuk para korban dan keluarga yang terdampak. Semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan segera pulih dari musibah ini.”
Dan kebaikan para tim SAR adalah pelita di tengah kegelapan. Semoga kesehatan & keberkahan senantiasa terlimpah pada para relawan.