Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 “Kembali ke Akar”: NU Diminta Teguh Jaga Khittah 1926 untuk Maslahat Umat

NUCOM, Jombang– “Kembali ke Akar” menjadi tema Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 LESBUMI PBNU di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, Tambakberas Jombang, pada 12-14 Juni 2026, Tema tersebut dinilai sebagai seruan jam’iyyah NU di semua tingkatan untuk kembali ke khittah 1926: fokus mengurus umat, bukan terseret urusan di luar amanah.
Amanat Khittah 1926 merupakan landasan dasar berpikir, bersikap, dan bertindak bagi Nahdlatul Ulama (NU). Inti utamanya adalah mengembalikan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan (jam’iyyah diniyah ijtimaiyyah) dan melepaskannya dari urusan seperti tambang, maupun politik praktis.
Khittah NU Bukan Tambang, Tapi Pemberdayaan Jamaah
Pj. Ketua PCNU Cilacap, H. Paiman Sahlan, menegaskan NU adalah jam’iyah terbesar dunia. Amanahnya jelas: memberdayakan jamaah menuju maslahat umat.
“Mengurusi tambang, dan dugaan pelanggaran institusi lainnnya, yang belakangan memicu polemik panas di petinggi NU, itu bukan amanah khittah NU. Amanah khittah adalah menggerakkan jam’iyah untuk kebaikan jamaah atau umat, bukan malah membuat resah jamaah,” ujarnya via telepon, Senin (8/6/2026) kemarin.
Menurutnya, dinamika yang terjadi pada petinggi NU hingga sampai Kiai Sepuh ‘turun tangan’ buat forum islah belakangan memberi “nilai minus” bagi citra NU, dan bahkan melemahkan semangat jamaah secara global.
“Tema Muktamar Kebudayaan: “Kembali ke akar” adalah pesan tersurat dan tersirat, sebagai langkah, upaya untuk mengingatkan mereka, bahkan semua pengurus agar tidak lupa jati diri,” terangnya.
Muktamar: Rumah Bertemunya Gagasan & Ekonomi Kreatif
Adapun Panitia lokal, Ki Wasis, menyebut muktamar 3 hari ini dirancang terbuka. Tujuannya mempertemukan tokoh, ulama, seniman, budayawan, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif.
“Di tengah kondisi ekonomi yang sumpek, muktamar ini diharapkan menyegarkan lewat gagasan seni-budaya yang mengakar tradisi tapi punya nilai ekonomi kreatif,” kata Ki Wasis Mata Jombang.
Acaranya bukan sekadar seminar. Ada pameran pusaka, karya seni, kaligrafi, pertunjukan ludruk, tari topeng, macapatan, kerajinan, hingga orasi kebudayaan. Semua untuk menunjukkan bahwa seni-budaya Islam Nusantara yang ramah, yang maslahat, global, dan membumi.
Kesiapan Tim Medis Muktamar Kebudayaan
Ki Wasis menambahkan selama acara Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) PCNU Kabupaten Jombang menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung dan membackup terutama tim medis Muktamar Kebudayaan Lesbumi PBNU 2026 serta Rakornas VII Lesbumi PBNU.
Ketua LKNU Jombang, dr. Hj. Rokhimah Riza (Ning Iim) menegaskan komitmennya memberi dukungan penuh, khususnya dalam aspek pelayanan kesehatan, kesiapsiagaan medis, serta penguatan layanan kesehatan selama rangkaian kegiatan berlangsung mulai 12–14 Juni 2026 di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum ( kampus UNWAHA), Tambakberas, Jombang.
Kampus dan Masjid: Dapur Peradaban Baru
Sementara itu, Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula menyatakan Muktamar Kebudayaan memilih UNWAHA sebagai lokasi karena kampus dinilai bisa jadi “dapur peracik seni-budaya”.
Harapannya, masjid-masjid yang jumlahnya ribuan di Indonesia tidak hanya untuk shalat formal. Masjid harus jadi pusat ilmu, seni, dan budaya Islamis agar umat keluar dari kemiskinan kultural dan struktural.
“LESBUMI sejak awal kemerdekaan hingga kini membuktikan peran besarnya. Kini saatnya ruh tradisi itu dikuatkan lagi agar Indonesia jadi mercusuar peradaban dunia,” tambah Pengasuh Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta
Dari Akar Tradisi Menuju Indonesia Emas
Mantan Direktur LKiS Yogyakarta, KH M. Jadul Maula, menyebutkan bahwa Kekayaan akar budaya Nusantara bukan cuma modal, tapi potensi. Dengan tetap teguh pada akar tradisi dan nilai spiritual,
“LESBUMI berharap Muktamar Kebudayaan ini melahirkan rumusan genius. Rumusan itu kemudian bisa jadi pegangan umat Islam untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar lewat seni-budaya, menjaga etika, moral, dan akhlak mulia,” ungkapnya.
Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 bukan sekadar seremoni. Ini ikhtiar NU memastikan, jelang Indonesia Emas, seni dan budaya tetap jadi benteng jati diri bangsa yang majemuk dan beradab.
“Semoga rekomendasi yang lahir dari Muktamar Kebudayaan Indonesia di Jombang benar-benar membawa NU “kembali ke akar” khidmah untuk umat. Merawat jagad dan peradaban dunia. Aamiin.” Pungkasnya. (IHA)
Baca juga: PBNU Mohon Doa Restu ke Ploso Kediri, Pesantren Siap Jadi Tuan Rumah Munas-Konbes, 20-22 Juli
Jejak Muskernas II Lesbumi 1964, Peta Jalan Kebudayaan Islam Indonesia
Lesbumi PBNU Gelar Muktamar Kebudayaan Indonesia, “Kembali ke Akar” di Jombang, 12-14 Juni





