Dari Koin NU Sampai BUMNU: Strategi NU Cilacap Ubah Modal Sosial Jadi Kedaulatan Ekonomi Jam’iyah

NUCOM — Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh hanya kuat dalam dakwah, tapi juga harus kokoh secara ekonomi. Tanpa kedaulatan ekonomi, kemandirian pemikiran, dan sikap, hanya akan jadi retorika. Berikut ini Strategi NU Cilacap Ubah Modal Sosial Jadi Kedaulatan Ekonomi Jamiiyah, dari Koin NU – BUMNU.

Demikian pernyataan Ketua PCNU Cilacap, H Paiman Sahlan, M.Pd mengemuka dalam Muktamar Ilmu Pengetahuan Ke-IV Tahun 2026 yang digelar LAKPESDAM PWNU Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026) di Auditorium Lantai 5 Gedung Lab UIN Sunan Kudus.

PCNU Cilacap menjadi penyaji utama dalam kesempatan itu mengetengahkan materi “Model Pengorganisasian Jamaah, Transformasi Modal Sosial Menjadi Modal Ekonomi, dan Tata Kelola Berkelanjutan”.

Ketua PCNU Cilacap, H. Paiman Sahlan, M.Pd, membedah bagaimana NU Cilacap membangun kemandirian organisasi berbasis teori sosial, ekonomi, dan kearifan lokal.

Bagaimana Transformasi dari jamiyyah sosial ke jamiyyah yang berdaulat secara ekonomi. Dari KOIN NU Sampai BUMNU adalah Strategi NU Cilacap Ubah Modal Sosial Jadi Kedaulatan Ekonomi Jamiiyah.

Jam’iyah Harus Otonom

H Paiman membuka dengan kerangka filosofis. NU diposisikan sebagai Jamiiyah atau Masyarakat Sipil Keagamaan dalam relasi triadik: Negara, Pasar, dan Masyarakat Sipil.

Merujuk konsep Habermas, Putnam, dan Gramsci, ia menegaskan: “Otonomi adalah syarat mutlak. Jika NU tergantung struktural pada negara, partai, atau korporasi, maka arah gerakannya akan dikendalikan pihak luar.”

Karena itu, kemandirian bukan tujuan, tapi instrumen agar NU tetap jadi penyeimbang dan berpihak pada rakyat kecil.

Strategi, Filosofi Gusjigang

H Paiman Sahlan membeberkan bahwa NU Cilacap menerjemahkan warisan Sunan Kudus sebagai Gusjigang menjadi paradigma ilmiah. Yakni;
1. Gusji akronim dari Bagus Akhlak dan Pandai Mengaji menjadi Fondasi spiritual dan visi organisasi. Sementara
2. Gang akronim Pintar Berdagang adalah Kemampuan mengelola dan menguatkan ekonomi.

“Ekonomi tanpa akhlak jadi kapitalisme eksploitatif. Dakwah tanpa ekonomi jadi idealisme rapuh,” tegas H Paiman.

Dia juga menyampaikan proyeksi kemandirian ekonomi ditempatkan di RPO 2024-2029 sebagai prioritas kedua, karena menjadi variabel bebas yang menentukan kuatnya pilar kesehatan dan pendidikan NU.

Jurus Utama, Konversi Modal Sosial Jadi Modal Ekonomi Lewat KOIN NU

Dikatakan kekuatan terbesar NU adalah modal sosial yakni jaringan Ranting sampai PBNU, norma Aswaja, dan kepercayaan publik.

Masalahnya, selama ini modal itu belum jadi uang. Solusi Cilacap: KOIN NU.

“KOIN NU bukan kotak infak biasa. Ini mekanisme investasi kolektif. Saat jamaah menabung, mereka meneguhkan hak milik atas organisasi,” jelas H Paiman.

Modelnya disebut Demokrasi Ekonomi Jamiyyah yakni semua tingkatan dari PCNU, MWCNU, sampai Ranting wajib setor, sekaligus jadi pemilik saham kolektif di badan usaha. Merujuk Elinor Ostrom, model ini membuktikan sumber daya bersama bisa dikelola komunitas sendiri secara berkelanjutan.

Tata Kelola Ketat, Satu Pintu di LAZISNU, Dana Diputar di BUMNU

Agar amanah, seluruh KOIN NU dikelola eksklusif oleh LAZISNU Cilacap. Tujuannya: efisiensi, akuntabilitas, dan legitimasi syariat.

Dana tidak dihabiskan untuk seremonial. Cilacap menerapkan Siklus Ekonomi Tertutup yakni
KOIN NU → Investasi → BUMNU → Profit → Kembali ke Organisasi dan Umat.

Hasilnya terukur: Kapasitas keuangan tumbuh dari Rp14,4 Miliar (2024) ditarget Rp17,3 Miliar (2026) dan diproyeksi Rp21 Miliar dan seterusnya (2028-2029)

Ekosistem BUMNU Cilacap: Dari PT Sampai Warung

Adapun Dana itu kini jadi 3 lapis usaha:

  1. Anak Perusahaan PT: Seperti PT Al Ma’wa NU untuk Haji-Umrah dan PT NUTRANS untuk transportasi. Keuntungan langsung masuk kas organisasi.
  2. Unit Kerakyatan: Angkringan NU dengan sistem _satu manajemen, satu pasokan_, dan Koperasi NU untuk inklusi keuangan syariah.
  3. Inovasi Nilai: GROSSNU & WARMINU. Konsepnya memetakan warung NU, lalu disuplai barang murah oleh GROSSNU. Warungnya pakai brand WARMINU.

Dampaknya adalah Uang warga NU berputar di lingkungan NU sendiri sesuai teori money multiplier Keynes, sekaligus jadi posko dakwah di desa.

Kader Sejahtera, Gerakan Kokoh

Ekonomi yang mandiri berimbas langsung. Jumlah kader berdaya ekonomi naik dari 2.814 orang (2024) ke target 7.814 orang (2029).

“Kader yang sejahtera tidak mudah dibeli. Konsolidasi gerakan jadi kokoh karena seluruh elemen terikat dalam satu ekosistem ekonomi,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk PWNU Jateng

Ketua PCNU Cilacap H. Paiman Sahlan menutup dengan 4 rekomendasi:

  1. Jadikan KOIN NU dan BUMNU program instruktif wajib di semua tingkatan.
  2. Standarisasi Juknis dan sistem digital untuk transparansi.
  3. Bangun rantai pasok antar daerah di Jateng.
  4. Kembalikan profit BUMNU untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan kader.

“Jika semua elemen bergerak bersama dan sama-sama bergerak, maka hasilnya akan ngedab-edabi,” kutipnya dari Rais Syuriyah PCNU Cilacap, KH. Su’ada Adzkiya.

Muktamar Ilmu Pengetahuan ini menjadi peta jalan bagi NU Jawa Tengah untuk bertransformasi: dari jamiyyah sosial ke jamiyyah yang berdaulat secara ekonomi. (IHA)

Baca juga: Ploso Uji Kedirian NU: Munas-Konbes Jalan Musyawarah atau Panggung Manuver Muktamar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button