Kisah Inspiratif Mbah Sahlan; Menabung Sejak 1967 Untuk Haji

NU CILACAP ONLINE – Menabung selama 59 tahun, akhirnya bisa menjejakkan kaki di tanah suci Mekah. Inilah kisah perjuangan spiritual yang menyentuh hati datang dari seorang jemaah haji asal Kroya, Cilacap. Adalah KH Sahlan, seorang pensiunan guru agama berusia 82 tahun, yang akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah menanti antrean keberangkatan selama 14 tahun.

Dibalik senyum syukurnya di hadapan para petugas haji, Mbah Sahlan menyimpan kisah keteguhan niat dan keikhlasan yang luar biasa.

Menabung Sejak Tahun 1967

Perjalanan Mbah Sahlan menuju Baitullah bukanlah proses yang instan. Petugas haji asal Cilacap, Tun Habibah, membagikan momen video obrolannya dengan Mbah Sahlan telah mulai menyisihkan uang untuk tabungan haji sejak tahun 1967 saat beliau pertama kali diangkat menjadi pegawai/guru agama.

Dalam video berdurasi 5 menit itu, mbah Sahlan mengisahkan pengalamannya menabung selama 59 tahun untuk biaya pergi haji. Meskipun nilai uang kala itu masih sangat kecil, konsistensi dan keistiqomahannya selama puluhan tahun membuahkan hasil. Selain menjadi guru, sosok yang dikenal sabar ini juga merupakan seorang mubaligh yang aktif berdakwah selama 55 tahun di berbagai sekolah, masjid, dan mushala di wilayah Cilacap hingga Kebumen, sebelum akhirnya beristirahat dari dunia dakwah karena faktor usia. Baca juga 450 Jemaah, Umroh Bersama Al Ma’wa NU

Ujian Keikhlasan Jelang Keberangkatan

Sedianya, Mbah Sahlan akan berangkat ke Tanah Suci mendampingi istri tercinta, Almh. Ibu Putarmiatun. Keduanya bahkan sempat melaksanakan ibadah umrah bersama terlebih dahulu sembari menunggu masa antrean haji yang panjang. Baca juga H Paiman Sahlan; Ini 7 Persiapan Penting Sebelum Bulan Puasa

Namun, takdir berkata lain. Hanya beberapa minggu sebelum jadwal keberangkatan, tepatnya pada 16 April, Sang Istri meninggal dunia setelah sempat sakit selama 5 hari. Karena regulasi yang tidak memungkinkan untuk digantikan oleh putranya dalam waktu singkat, Mbah Sahlan harus berlapang dada berangkat seorang diri tahun ini.

“Saya ikhlas dan sabar menerima ketetapan ini,” ungkap Mbah Sahlan tegar.

Terkait rencana awal pihak keluarga untuk membadalkan haji Almh. Ibu Tarmiatun melalui KBIHU NU dengan biaya Rp12 juta, Rais Syuriyah PCNU Cilacap, KH Su’ada Adzkiya, dalam pengajian rutin Ahad pagi memberikan pencerahan. Beliau menyampaikan bahwa almarhumah insyaallah sudah dihitung haji dan mabrur, sehingga biaya tersebut disarankan dialokasikan untuk persiapan operasional Mbah Sahlan selama di Makkah, seperti antisipasi sewa kursi roda.

Apresiasi Pelayanan dan Pesan untuk Keluarga

Selama berada di tanah suci, Mbah Sahlan mengaku sangat puas dan bersyukur atas pelayanan ibadah haji yang diterimanya, yang dinilainya sangat baik serta menyenangkan.

Beliau menyelipkan doa agar seluruh jemaah haji senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran, dan pulang membawa predikat haji yang mabrur. Kepada anak cucu yang menanti di rumah, Mbah Sahlan berpesan agar selalu sabar dan konsisten mendoakan keselamatannya.

Kisah Mbah Sudiah

Selain Mbah Sahlan, inspirasi lain juga datang dari Mbah Sudiah, jemaah haji lansia yang telah menginjak usia 98 tahun. Didampingi putrinya, Suharti (70 tahun), Mbah Sudiah menunjukkan semangat ibadah yang luar biasa dan kondisi fisik yang prima.

Di usianya yang hampir seabad, Mbah Sudiah tidak memiliki riwayat penyakit berat. Rahasia sehatnya ternyata berasal dari kebiasaan sederhana di desa yakni rutin jalan pagi serta aktif bertani (menanam dan memanen) di sawah.

Selama perjalanan haji, beliau dikenal ramah, rajin berinteraksi dengan sesama jemaah, tidak pernah mengeluh, dan sangat menikmati semua sajian makanan yang disediakan petugas.

Dari Tanah Suci, Mbah Sudiah menitipkan pesan mendalam untuk keluarga di rumah agar senantiasa menjaga kesehatan dan yang paling utama, jangan pernah meninggalkan ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button