Feature & Figur

Pidato Cinta Laura Tentang Moderasi Beragama, Begini Isinya

Pidato Cinta Laura tentang moderasi beragama belum lama ini benar-benar menyedot perhatian publik, pasalnya dia didaulat menjadi perwakilan dari generasi muda untuk mengekplorasikan tentang apa itu moderasi beragama.

CINTA Laura menjadi sorotan usai berpidato di acara Malam Peluncuran Moderasi Beragama pada Rabu, 22 September 2021. Ia pun  mendapatkan pujian Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut)

Cinta bicara tentang moderasi beragama di kalangan generasi muda. Dia pun bangga bisa berbagi pengalaman di hadapan banyak orang yang menurutnya punya pengaruh bagi bangsa.

“Terima kasih Pak @gusyaqut dan Ibu @enyyaqut sudah mengundang saya. Sebuah kehormatan besar untuk bisa berbicara di depan begitu banyak orang yang sangat berpengaruh.

Setelah pidatonya viral, nama pelantun Markisa ini juga menjadi trending topic di Twitter. Namun lucunya, hal tersebut justru membuat Cinta Laura bingung.

Dia bahkan bertanya-tanya mengapa banyak netizen yang membicarakannya di lini masa platform microblogging tersebut.

Dalam unggahan Insta Story pribadinya, Cinta mengaku mengetahui hal tersebut setelah mendapatkan chat dari seseorang.

“Terima kasih telah memberi tahu saya. @kalis.mardiasih,” tulis Cinta Laura di Instagram, (dikutip, Minggu 26 September 2021).

Dia mengaku tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga namanya menjadi trending. Nama Cinta menjadi trending topic di Twitter sejak pagi hari ini.

“Tapi jujur, ada apa ya guys?,” imbuhnya.

Banyak pujian bukan hanya dari Gus Yaqut atas keberhasilan mengekspresikan opininya. Tapi juga nitizen terpukau menyimaknya.

Di awal pidatonya, Cinta Laura mengaku tidak tahu alasan Menteri Agama mengundangnya dalam acara tersebut. Bahkan menurut pengakuannya, secara spontan saja berkata siap.  Pada malam itu, beberapa saat menjelang acara, dia membuat draf pidatonya untuk dibacanya dalam acara tersebut.

Pidato Moderasi Beragama

Akhirnya, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab dengan panggilan Gus Yaqut pun tertegun, mengaku hampir menangis. Di bawah ini NUCOM catat dan sajikan isi Pidato Cinta Laura tentang moderasi beragama,

Sebagai generasi Z dan milenial, kami adalah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun ke depan atas arah yang akan diambil oleh negara ini agar menjadi negara yang maju, moderen, sejahtera, tentunya terkemuka di mata dunia.

Tapi, nilai-nilai apa saja yang harus kita terapkan ke masyarakat Indonesia agar mimpi-mimpi ini bisa terealisasi? Pada saat ini kita dalam situasi sulit di mana adanya polarisasi dalam opini masyarakat. Terlihat jelas dengan tidak adanya kesepakatan apa yang dibutuhkan oleh negara ini agar benar-benar menjadi satu kesatuan yang kuat.

Dalam satu sisi generasi muda sekarang mempunyai keinginan besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa. Kami percaya akan pentingnya untuk negara-negara di luar sana melihat potensi keunikan dan kehebatan negara ini. Tapi, di sisi lain sampai detik ini kita masih sering berkelahi dan menjatuhkan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, suku, dan terutama agama.

Bagi saya pribadi, hal tersebut sungguh ironis. Karena bukankah pasal 1 dari UU PNPS mengatakan ada enam agama utama di negara ini? Bukankah motto negara ini Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda tapi satu? Tapi mengapa walaupun dalam pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi tetap saja masih ada konflik?

Apa yang membuat agama mampu membuat kita melupakan inti dari identitas bangsa ini. Sebagai lulusan psikologi dan sastra Jerman, saya dari dulu memiliki kuriositas terhadap cara berpikir manusia. oleh karena itu pengetahuan tersebut saya pelajari dengan memperdalam filosofi.

Selanjutnya, Cinta Laura bicara soal akar masalah masyarakat Indonesia.

Cinta Laura dalam pidatonya juga menyisipkan pemikiran seorang Rene Descartes. Di mana sang filsuf menuliskan perihal manusia yang merupakan makhluk terbatas.

Sampai detik ini saya tidak akan pernah lupa tentang apa yang dikatakan oleh salah satu filsafat paling berpengaruh sepanjang masa, yaitu Rene Descartes, ia mengatakan manusia adalah makhluk yang finite atau terbatas sedangkan Tuhan adalah sosok yang infinite tidak terbatas.

Oleh karena itu, bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas merasa mempunyai kemampuan untuk mengerti sesuatu yang jauh diluar kapasitas kita. Bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas memahami esensi dari sesuatu yang tidak terbatas.

Inilah salah satu akar dari masalah yang kita miliki dalam masyarakat Indonesia sekarang. Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis. Orang-orang terjebak dalam cara berpikir mereka telah memanusiakan Tuhan, merasa memiliki hak dalam mendikte kemauan Tuhan, merasa tahu pikiran Tuhan, dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan. Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal.

Critical Thinking

Dalam perbincangan saya beberapa waktu lalu dengan Habib Husein Ja’far. Kami berdua sepakat bahwa bahaya yang masyarakat kita alami sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi, menyesatkan generasi bangsa dengan prinsip hidup yang sebenarnya tidak ada dalam kitab suci agama. Kenapa bisa seperti itu?

Karena kita kurang membimbing dan memberikan masyarakat yang dibutuhkan agar bisa memahami sebuah ajaran dengan akal kritis. Sehingga, mereka menjadi tersesat dalam cara berpikir mereka dan lupa akan pentingnya menyeimbangi segala ilmu yang dipelajari dan dimiliki dengan nilai-nilai yang ada dalam budaya, since, atau aliran pemikiran lainnya.

Saat saya sekolah dulu saya ingat diwajibkan membaca kitab suci dari berbagai agama, dari segi literatur dan juga filosofi. Selanjutnya, saya diberikan kesempatan memahami segala keindahan setiap agama dan sadar bahwa pada akhirnya fungsi terbesar agama adalah satu, yaitu untuk membimbing kompas moral manusia. Untuk mengingatkan manusia kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat. Bahwa kita harus bersyukur dan bahwa kita semua harus sadar bahwa waktu kita di dunia ini adalah singkat dan terbatas.

Oleh karena itu, ingatkan untuk selalu jadi seseorang yang rendah hati dan siap membantu sama lain. Jadi, apa yang harus dilakukan ke depan untuk melawan segala kebohongan yang ada? Apa yang kita bisa lakukan untuk memberdayakan rakyat bangsa ini? Saya rasa jawabannya cukup jelas.

Satu penting sekali kita mengingatkan saudara-saudara kita akan indahnya, kayanya dan uniknya budaya-budaya yang kita miliki di negara ini. Sejak usia dini penting kita mengenalkan budaya ini tidak hanya di sekolah, tapi juga melalui media dan semua platform digital yang ada.

Semua hal krusial untuk disadari generasi muda akan relevan dengan dunia kita yang semakin modern. Our culture is cool, not old school.

Kedua, ajaran agama yang ada dalam sistem pendidikan harus adil dalam merepresentasikan agama-agama yang ada di negara ini. Agar orang-orang bisa mengerti sejak usia muda bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Tidak seharusnya kita melecehkan satu sama lain hanya karena sebuah perbedaan.

Ketiga, critical thinking, critical thinking, critical thinking. Ajarkanlah adik-adik kita membaca dan mempelajari dari segala sesuatu, berbagai sudut pandang. Biarkanlah mereka bertanya, tumbuhkanlah rasa ingin tahu mereka agar mereka tidak mudah dipengaruhi dan dijajah pikirannya.

Terakhir, gunakan teknologi yang semakin canggih ini sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi. Agar negara ini bisa kembali menjadi Indonesia sejati.

Pembaca NUCOM yang budiman, Itulah isi pidato Cinta Laura tentang moderasi beragama yang membuat menteri agama tertegun dan nyaris hampir menangis. Download  >> Buku Moderasi Beragama

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button