Nasional

Silaturahmi Kebangsaan FKUB Jawa Tengah ke Majenang Cilacap

Selasa, 5 Oktober 2021, Drs. KH. Taslim Syahlan, M.Si., (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) beserta jajaran FKUB Provinsi Jawa Tengah melakukan salah satu agenda besarnya, yaitu Silaturahmi Kebangsaan bertajuk Sosialisasi Falsafah Kebhinekaan dan Moderasi Beragama ke Majenang, Kabupaten Cilacap.

Sehari sebelumnya (4/10/2021) mereka melakukan Silaturahmi Kebangsaan ke KH Ahmed Shoim El Amin Lc, MH. (Ketua FKUB Kab. Cilacap) di Pondok Pesantren Al-Ihya ‘Ulumaddin (Kesugihan, Kab. Cilacap). Silaturahmi Kebangsaan FKUB Jawa Tengah bertempat di “Musholla Masroor” Dusun Cigintung, Desa Sadabumi, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Jajaran FKUB Provinsi Jawa Tengah yang juga hadir pada kesempatan tersebut adalah KH Muhammad Abdul Qodir (Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin Demak), Mln Saefullah Ahmad Farouk (Anggota Dewan Penasihat Generasi Muda FKUB Provinsi Jawa Tengah), Anton Baskoro (Wakil Ketua Generasi Muda Provinsi Jawa Tengah), Pandhita Aggadhammo Warto (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah), Setyawan Budy (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), dan Roy At’taul Djamil (Anggota Generasi Muda FKUB Provinsi Jawa Tengah.

Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah Drs. KH Taslim Syahlan, M.Si., menjelaskan bahwa maksud dan tujuan dari Silaturahmi Kebangsaan tersebut tak lain agar dapat mempererat silaturahmi. Selain itu, juga pentingnya menyebarkan falsafah kebhinekaan dan falsafah Moderasi Beragama baik dengan Tokoh Agama ataupun Tokoh Masyarakat.

“Dengan adanya Silaturahmi Kebangsaan FKUB Jawa Tengah tersebut, Kami berharap agar semua pihak dapat menyadari tentang pentingnya bersama-sama menjaga kerukunan antar umat beragama dan jangan sampai terjadi intoleransi, kekerasan atas nama agama,” ungkapnya.

Trend Intoleransi

Ketua FKUB Jawa Tengah juga membeberkan data tentang trend intoleransi di Jawa Tengah masih cukup tinggi.

“Dalam catatan kami benih-benih intoleransi masih banyak dan trendnya terus naik. Bahkan intoleransi di internal agama juga sangat tinggi,” ujar Taslim seusai acara silaturahmi di Mushala Masroor Sadabumi.

Dia mengatakan FKUB Jateng telah dapat mengatasi beberapa kasus seperti penolakan Gereja di Malangsari Tlogorejo Semarang, Gereja Ndermolo Jepara. Dan FKUB juga melakukan proses mediasi penolakan gereja di Kabupaten Sukoharjo.

Beberapa kasus yang sudah kami selesaikan adalah penolakan gereja di Malangsari Tlogorejo Semarang dan gereja di Ndermolo Kabupaten Jepara yang sudah 19 tahun tak dapat dipakai karena ditolak warga.

Namun, akhirnya tanggal 4 Januari 2021 lalu FKUB Jateng berhasil meyakinkan warga dan Forkompimda setempat untuk mendukung memulihkan hak jemaat gereja tersebut untuk beribadah.

“Di saat perayaan paskah yang pertama di Gereja tersebut kami datang sebagai dukungan dan berpesan kepada mereka, jangan takut lagi merayakan paskah.” lanjutnya.

Dalam penjelasannya, FKUB Jateng mendorong para tokoh agama untuk turut serta membantu mengatasi permasalahan intoleransi yang ada.

Tugas FKUB di semua tingkatan, bersama para tokoh agama adalah mendorong terciptanya saling mendukung dalam hal kehidupan beragama secara kondusif. Seperti yang terjadi di Sukoharjo itu.

“FKUB juga punya tugas membantu memenuhi kekurangan legalitas dalam hal pembangunan rumah ibadah, bukan hal lainnya apalagi menghakimi,” jelasnya.

Menjaga Kebhinekaan Dengan Moderasi

Pihak FKUB juga terus mendorong masyarakat untuk menghayati kebhinekaan yang ada di masyarakat Indonesia dengan pedoman dan berprinsip pada Kebhinekaan. Juga falsafah pancasila dan NKRI yang saling menghargai, hormat menghormati. Di dalam masyarakat yang majemuk, yang bhineka itu dibutuhkan satu norma keagamaan yang moderat.

“Dalam forum silaturahmi, pertemuan ini, kami FKUB Jateng juga memberikan penekanan kepada para tokoh-tokoh agama, terutama yang tergabung dalam FKUB agar aktif mendorong dialog antar agama. Karena apa? Penyelesaian koflik umat beragama, termasuk penolakan rumah ibadah itu lebih efektif menggunakan peran tokoh agama daripada menggunakan aparat keamanan atau hukum,” tegasnya.

Selanjutnya, Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah menyampaikan ajakan, agar dalam perbedaan tetaplah berpegang pada prinsip kebhinekaan dan moderasi dalam beragama dengan saling menjaga dan melindungi.

“Ayo, kita tidak saling menyesatkan, ayo kita tidak saling mem-bully. Tapi kita satu sama lain harus saling merekatkan. Karena itulah persaudaraan yang kita bangun untuk peradaban kedepan,” ajaknya

Silaturahmi Kebangsaan FKUB Jawa Tengah ke Majenang Cilacap tersebut, tidak hanya dihadiri oleh Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat di sekitar Dusun Cigintung, Desa Sadabumi, Kecamatan Majenang, tetapi juga hadir beberapa pihak seperti Komunitas GUSDURian Majenang, Gereja Katholik Paroki St. Theresia Majenang, Jemaat Ahmadiyah Kecamatan Majenang dan juga dihadiri oleh beberapa perwakilan dari Kecamatan Majenang, KUA Majenang, Kodim 0703 Cilacap, Polsek Majenang dan Pemerintah desa setempat.

Penulis: Iman Mubarak Ahmad, Mbsy.
Editor: Imam Hamidi Antassalam

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button