Jejak Ulama

KH Badawi Hanafi, Pendiri Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin

Siapa KH Badawi Hanafi hingga begitu luar biasa masyarakat memuliakan dan mengaguminya?, Dialah Muassis Al Ma’had, Pendiri Pondok Pesantren terbesar di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah Al Ihya Ulumaddin Kesugihan.

Ulama wafat meninggalkan jejak. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah itu agaknya sangat tepat ditujukan kepada figur almarhum almaghfurlah KH Badawi Hanafi. Sosok yang akrab disebut Mbah Badawi itu telah 60 tahun lebih ia berkalang tanah, tapi namanya tak henti – henti di sebut oleh para murid dan dzuriyahnya. Makamnya tak pernah sepi dari peziarah setiap harinya.

KH Badawi Hanafi Pendiri Pondok Pesantren terbesar di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah Al Ihya Ulumaddin. Pesantren ini terletak di desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Di sanalah berpuluh – puluh tahun yang lalu beliau merintis sebuah pondok di sebuah mushola kecil yang disebut langgar dhuwur. Beliau juga yang telah mengarang sebuah karya munumental yang berjudul ‘ Niat Ingsun Ngaji’.

KH Badawi Hanafi lahir di kampung Brengkelan, Kecamatan Purworejo, Jawa Tengah sekitar tahun 1885 Masehi. Ayahnya bernama KH Fadlil bin H. Asy’ari (Sengari) bin Soyudo bin Gagak Handoko bin Mbah Bedug (keturunan Mataram Jogja). Ibunya bernama Hj. Shofiyah binti KH. Abdul Syukur.

KH Fadlil berasal dari Purworejo. Pada tahun 1910 pindah ke Kesugihan dan bertempat tinggal di sebuah dusun di desa Kesugihan yang bernama Salakan. Tepatnya di sebelah utara lapangan milik PTKAI sekarang. Pada tahun 1914, beliau pindah ke dusun Platar, sebelah selatan stasiun kereta api jurusan Cilacap (sekarang menjadi komplek Roudlotul Qur’an putra).

Pada tahun 1923 terjadi gempa bumi dahsyat. Banyak pohon – pohon besar tumbang, rumah – rumah banyak yang tumbang termasuk stasiun Maos. Tapi atas pertolongan Alloh langgar dhuwur yang didirikan oleh KH Fadlil selamat. Waktu itu di dalamnya sedang di tempati untuk pengajian oleh putra KH Fadlil yakni K Badawi muda. Adipati Cilacap waktu itu R. Cakra Wardaya meneyempatkan diri meninjau tempat – tempat yang terkena musibah gempa bumi tersebut. Melihat langgar Dhuwur itu tidak roboh, ia merasa terharu padahal bangunan yang dianggap lebih kuat porak poranda.

Di tengah perasaan haru dan keheranan ia berucap “Besok di tempat ini akan berdiri masjid besar. Ucapan itu menjadi do’a. yang dikabulkan oleh Alloh swt. 13 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1936, KH Badawi Hanafi mendirikan sebuah masjid di tempat tersebut.

Kebesaran beliau ternyata tidak muncul dengan tiba – tiba. Ada proses panjang dan berat yang harus di lalui. Proses pendidikan panjang ia lalui dengan menuntut ilmu di barbagai pesantren. Beberapa pesantren yang pernah di singgahi KH Badawi Hanafi, di antaranya.

1. Pondok Pesantren Wono Tulus, Purworejo ( 1891-1894 M ), di sini beliau nyantri kalong. Ini adalah istilah santri yang tidak menetap di pondok. Beliau yang baru berumur 7 tahun harus menempuh jarak 4 km setiap hari untuk bisa mengaji.

2. Pesantren Loning Purworejo ( 1895 – 1901 ). Pondok ini berjarak 10 km dari rumahnya. Waktu itu umur beliu 11 tahun. Di sini tidak lagi nyantri kalong melainkan sudah menetap di pondok.

3. Pesantren Bendo Kediri ( 1901-1921). Di pesantren ini beliau menjadi santri kesayangan gurunya KH Khozin. Bahkan beliau sering dipercaya untuk menggantikan menjadi imam sholat ketika sedang berhalangan.

4. Lirap Kebumen (1921-1924 M ). Saat KH Khozin menyuruhnya pulang, beliau tidak langsung pulang melainkan mampir mondok di pesantren Lirap. Waktu itu diasuh oleh KH Ibrahim. Di sini beliau nyantri kurang lebih selama 3 tahun. Selain belajar , di sini beliau melakukan riyadloh untuk mencari tempat yang tepat untuk berdakwah. Ada beberapa tempat yang beliau tirakati untuk mendirikan pesantren. Di antaranya; Kuripan, Cilacap Kota ( dekat Daon Lumbung ), Sumur Gemuling, Sitinggil, dan Kesugihan. Dari beberapa tempat tersebut Alloh memberi petunjuk untuk berdakwah di Kesugihan, tempat kedua orang tuanya tinggal. Setelah mendapat petunjuk tersebut, pada tahun 1924 beliau memutuskan untuk pulang.

Pada tahun itu juga atas kesepakatan warga masyarakat, didirikanlan sebuah pesantren. Namun baru pada tanggal 24 November 1925 diresmikan oleh pemerintah yang waktu itu berpusat di Banyumas .

Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan
Gerbang Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin di desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap

Sifat Tawadlu Luar Biasa

Ada satu sifat beliau yang patut diteladani. KH Badawi Hanafi memiliki Sifat tawadhu’ yang luar biasa. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai kyai atau pun seorang guru. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan beliau memanggil santri.

Pada umumnya, Kiai memanggil anak didiknya dengan panggilan santri, cah, le dsb di mana di sini menunjukkan dengan jelas adalanya perbedaan tingkatan di antara mereka. Beliau justru memanggil mereka dengan sebutan rencang-rencang (teman-teman). Dengan kata lain di sini ia memposisikan dirinya sebagai teman bagi para santri. Baginya santri mempunyai posisi yang setara dengan dirinya.

Diceritakan juga bahwa beliau sedikit makan. Hal ini penting karena karena kelebihan makan juga tidak baik untuk kesehatan. Di samping itu juga mengurangi kecerdasan dan dapat mengundang syahwat. Selanjutnya, KH Badawi Hanafi aktif mengaji dan selalu gasang (datang lebih awal sebelum guru datang).

Hari ini, pesantren Al Ihya Ulumaddin yang dulunya hanya sebuah mushola kecil kini menjadi pesatren terbesar di Cilacap dan memiliki ribuan santri. Pesantren ini juga dinobatkan dalam 10 besar pesantren terbaik di Nusantara. Pesantren Al Ihya Ulumaddin terus berkembang dari hari ke hari.

Tak hanya menyiapkan fasilitas pendidikan agama tapi juga pendidikan umum. Hal ini terbukti dengan berdirinya Yayasan Badan Amal Kesejahteraan Ittihadul Islamiyah (YABAKII) yang menaungi berbagai instansi pendidikan mulai dari TK, MI, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi.

Untuk mengenang jasa-jasa KH Badawi Hanafi, setiap tahun sekali Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan menggelar acara Haul untuk memeperingati wafatnya. Tepatnya pada tanggal 27 Jumadil Tsani. Acara ini digelar selama beberapa hari dengan berbagai rangkaian acara. Di antaranya adalah tahlil akbar, ziaroh bersama, bazaar dan pengajian akbar. Kegiatan ini selalu dihadiri oleh ribuan jamaah yang ingin mengenang jasa beliau, mendoakan, sekaligus mengaharap limpahan keberkahannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

16 − twelve =

Back to top button