Feature & Figur

Radhar Panca Dahana (Budayawan Sastrawan) Tutup Usia

Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Sastrawan dan Budayawan Radhar Panca Dahana tutup usia. Radhar meninggal dunia malam ini, pukul 20.00 WIB, Kamis (22/4/2021). Pengarang buku itu meninggal di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

“Telah berpulang malam ini pukul 20.00 adik saya tercinta Radhar Panca Dahana di UGD RS Cipto Mangunkusumo,” tulis kakak Radhar Panca Dahana, Radhar Tribaskoro melalui akun Facebooknya.

NUCOM Cilacap sudah meminta izin untuk mengutip. Radhar Tribaskoro meminta doa untuk sang adik yang telah berpulang. Dia juga meminta agar kesalahan Radhar Panca Dahana dimaafkan.

“Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Aaminn YRA,” lanjutnya.

Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta 56 tahun yang lalu. Ia menulis berbagai bentuk tulisan, mulai dari puisi, cerpen, hingga esai kritik sastra dan kebudayaan, hingga politik. Tulisan esainya itu terkumpul dalam karyanya yang berjudul Kebudayaan dalam Politik, Kritik pada Demokrasi (2015).

Ia menamatkan studi sarjananya di bidang sosiologi dari Universitas Indonesia (1993) dan magisternya di bidang yang sama di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001). Radhar juga pernah menjadi dosen di sekolah Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta yang sekarang menjadi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Riwayat, Dedikasi dan Kiprah bidang Susastraan Indonesia

Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta, 26 Maret 1965 dan Wafat di Jakarta 22 April 2021 dalam umur 56 tahun). Radhar Paca Dahana adalah sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya dalam bentuk esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar Indonesia.

Selain itu, Radhar juga aktif menjadi pembicara dalam diskusi, seminar, maupun talkshow di televisi. Ia menyelesaikan Program S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001).

Radhar merupakan pendiri dari Perhimpunan Pengarang Indonesia dan presiden Federasi Teater Indonesia yang masih menjabat sampai saat ini. Tahun 2019, Radhar dipercaya oleh Komisi Pemilihan Umum untuk menjadi salah satu panel Debat Cawapres ke tiga, bersama Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Riza, Rektor Universitas Hasanuddin, Dwia Aries Tina Pulubuhu, dan Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah.

Radhar Panca Dahana, Selain dikenal Sastrawan juga pernah tekuni lekerjaan sebagai Aktor dikenal dengan nama lain yakni Reza Mortalini. Selain Aktor dia juga lebih dikenal Sastrawan yang aktif sejak 1975 sampai dengan wafatnya.

Suami Evi Apriani dan Bapak dari cahaya Prima Putra Dahana ini, seperti dilansir wikipedia.org, minat bakatnya dalam bidang menulis sudah terlihat sejak umur 5 tahun, saat dirinya sering tidak pulang ke rumah dan ditemukan di kawasan Bulungan sedang melihat teater.

Kepiawaiannya dalam bidang sastra dan tulis menulis kemudian membawanya menjadi seorang cerpenis dan reporter lepas di sebuah majalah remaja, Zaman. Saat itu, ia sangat giat mengirimkan karya-karyanya di berbagai rubrik majalah. Ia juga sering diminta mengisi kolom di rubrik olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kriminalitas, dan hukum.

Baca Juga : Prie GS, Budayawan Jawa Tengah, Wafat. Sekilas Sosok dan Karyanya

Semasa kecil, Radhar sering memberontak dan tak mengikuti aturan yang ada. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Didikan orang tuanya yang otoriter dan kerap memukul membuatnya ingin mengekspresikan diri melalui sendiri dan ia memilih menyalurkan bakat di bidang kesenian meski orang tuanya tak setuju dengan pilihannya, karena orang tuanya menginginkan Radhar untuk menekuni bidang seni lukis.

Radhar yang memberontak rupanya saat itu juga mempunyai rasa takut terhadap ayahnya. Saat ia sering mengirimkan karya di berbagai media, ia takut ketahuan ayahnya dan akhirnya memakai nama samaran, Reza Mortafilini, yang mengibarkan namanya melalui dunia jurnalistik.

Baca Juga : Diskusi Sastra, Bincang Buku “Baju Baju Yang Tertinggal”

Namun, tak lama berselang, Radhar kembali menggunakan nama aslinya. Hal inilah yang membuat kemarahan sang ayah semakin menjadi dan akhirnya membuatnya tidak pulang ke rumah dengan mulut berdarah dan teriakan “Tidak ada demokrasi di sini.” Saat itu ia duduk di kelas 2 SMP. Saat ia bekerja sebagai wartawan lepas di majalah Hai.

Perjuangan dalam menunjukkan eksistensinya dalam dunia tulis menulis dan sastra pada orang tuanya banyak menemui jalan terjal. Sampai akhirnya, namanya banyak dikenal orang dan membuatnya meraih penghargaan Paramadina Award pada tahun 2005. Tak hanya itu, faktor kesehatan yang nyatanya sangat mengganggu kegiatannya tak mampu membendung semangat berkaryanya.

Karir dan Penghargaan

Karya-Karya Sastra Radhar Panca DahanaRadhar memulai debut sebagai sastrawan sejak usia 10 tahun lewat cerpennya di Harian Kompas, “Tamu Tak Diundang”. Lalu, menapak karier jurnalistik sebagai redaktur tamu malalah Kawanku (1977), reporter lepas hingga pemimpin redaksi di berbagai media seperti Hai, Kompas, Jakarta Jakarta, Vista TV, dan Indline.com.

Selain sudah menulis banyak buku, dia juga menerima sejumlah penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Radhar juga pernah bergabung dalam Bengkel Teater Rendra bersama Sitok Srengenge, Adi Kurdi, dan lain-lain.

Ketokohannya sebagai sastrawan dan budayawan menjadikannya sering diundang sebagai narasumber di berbagai diskusi, seminar, dan wawancara di televisi. Kini, penjaga rubrik Gagasan di Harian Kompas dan pengajar di Universitas Indonesia.

Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996), Meraih Paramadina Award (2005), Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak 2004, Menerima Medali Frix de le Francophonie 2007 dari 15 negara berbahasa Prancis

Karya-Karya Sastra Radhar Panca Dahana

Karya-karya ilmiah dan sastra Radhar Panca Dahana diantaranya seperti:

  1. Menjadi Manusia Indonesia (esai humaniora, 2002)
  2. Lalu Aku (kumpulan sajak, 2003)
  3. Jejak Posmodernisme (2004)
  4. Cerita-cerita dari Negeri Asap (kumpulan cerpen, 2005)
  5. Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (esai humaniora, 2006)
  6. Dalam Sebotol Cokelat Cair (esai sastra, 2007)
  7. Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007)
  8. Manusia Istana (kumpulan puisi) dan Lalu Waktu (kumpulan puisi).

Penulis: Imam Hamidi Antassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × three =

Baca Artiikel Terbaru Lainnya
Close
Back to top button