Feature & Figur

Bapak Kebangkitan Lesbumi NU, Gelar Untuk KH Agus Sunyoto

Pengurus Besar (PB) Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) menyematkan gelar kepada KH Agus Sunyoto sebagai Bapak Kebangkitan Lesbumi NU.

Khazanah sejarah dan nilai budaya Islam Nusantara bahkan Indonesia tidak bisa lepas dari tokoh Nahdlatul Ulama, Agus Sunyoto yang juga bergelar Kyai Ngabehi. Beliaulah tonggak sejarah penggerak dan peletak dasar saptawikrama. Saptawikrama menjadi ruh gerak Lesbumi.

“Saptawikrama adalah salah satu warisan beliau yang harus diteruskan dengan jalan menerjemahkan dalam berbagai langkah dan kebijakan. Mari kita kawal Saptawikrama yang bukan hanya menjadi ruh gerakan Lesbumi, tapi bahkan menjadi karakter NU,” tegas sekretaris PB Lesbumi NU, KH Abdullah Wong.

Anugerah piagam penghargaan kepada Kyai Ngabehi Haji Agus Sunyoto Sebagai Bapak Kebangkitan Lesbumi NU diterima oleh putra wayah almagfurlah dan diberikan Oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Sirodj melalui Ketua PB Lesbumi NU, KH. M. Jadul Maula dalam acara 40 Hari -Slametan Matangpuluhan- Kyai Ngabehi Haji Agus Sunyoto di Pesantren Ar-Rosyad Desa Balong, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Dimana beliau dikebumikan.

Bapak Kebangkitan Lesbumi NU, Gelar dan PiagamUntuk KH Agus Sunyoto

Acara yang dihelat pada hari Sabtu malam 5 Juni 2021 tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri oleh para muhibbin almagfurlah seperti KH Said Aqil Sirodj, KH Muwafiq, para santri pesantren, Sanak keluarga dan para pengurus pusat, wilayah, cabang, wakil cabang hingga ranting Lesbumi NU dari Malang-Kediri Jawa Timur dan turut serta para aktivis/penggiat Lesbumi dari seluruh penjuru seluruh nusantara via siaran zoomiting.

Jika PB Lesbumi NU, Menyematkan sebagai Bapak Kebangkitan Lesbumi NU maka banyak orang menyematkan gelar  sejarawan Islam Nusantara pada Kyai Ngabehi Haji Agus Sunyoto, ialah Sang Ulama dan alim, yang mampu membuka tabir gelap dan mereview berdasarkan temuan dan fakta-fakta sejarah, laku lampah, nilai budaya dalam khazanah Islam Nusantara bahkan Indonesia.

Walau keturunan ningrat tapi laku lampahnya sebagai kekasih tanpa pamrih, tawadu’ dan sederhana. Betapa ia sangat layak menyandang gelar tersebut. Pasalnya, perkembangan khazanah Sejarah nilai budaya Islam Nusantara bahkan Indonesia telah dirintis olehnya dengan pendekatan ilmu sejarah berdasarkan nalar peneliti, dan kajian sejarahnya menghasilkan temuan-temuan baru yang cukup fenomenal.

Buku Atlas Walisongo

Buku Atlas Walisongo yang terbit tahun 2014 merupakan salah satu bukti fakta sejarah adanya kiprah para wali songo dalam laku lampah pun dakwahnya di tanah Jawa dan Nusantara. Melalui buku ini ia dedahkan hasil dari upaya penelitiannya selama bertahun-tahun dan buki tersebut membantah terhadap pendapat dan pandangan bahwa wali songo adalah cuma cerita lisan atau legenda.

Syahdan, Agus Sunyoto meneliti Wali Songo atas biaya sendiri sampai utang hingga Rp 36 juta. Penelitian dilangsungkan selama 14 bulan. Ia mengumpulkan berbagai naskah kuno, seperti sebuah buku aksara Jawa yang bercerita tentang Syaikh Siti Jenar. Buku tersebut diterima dari seseorang asal Lamongan  walau untuk mendapatkannya harus dengan mahar sebesar 2 juta rupiah.

Pusara dan Makam Kyai Ngabehi Haji Agus Sunyoto
Makam Kyai Ngabehi Haji Agus Sunyoto, Bapak Kebangkitan Lesbumi NU, di Komplek Pesantren Ar-Rosyad Desa Balong, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

Demi kepuasan batin, Agus Sunyoto menulis buku Atlas Wali Songo. Lantaran hingga kini royalti dan penjualan buku belum menutup biaya penelitiannya selama ini. Buku Atlas Wali Songo, diharapkan bisa meluruskan sejarah islam Nusantara dan membantah buku ensiklopedi Islam yang menghilangkan jejak Wali Songo.

“Khawatir sejarah Wali Songo dianggap sebagai dongeng mitos dan legenda,” katanya sebagaimana dilansir terakota.id

Walau buku tersebut tak bebas kritikan dan masukan, beberapa penulis dan pembaca mengkritik, misalnya pada penempatan gambar ilustrasi, foto yang tak relevan dalam buku. Seperti lukisan Prabu Siliwangi dan gambar replika mushala sunda. Tapi hal itu sebagai masukan dan tak memengaruhi niatnya bahwa buku Atlas Wali Songo ditulis guna menjelaskan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Baca Artikel Terkait

Syahdan, betapa ia risau setelah membaca buku Ensiklopedia Islam, karena tak menemukan jejak perjalanan Wali Songo dalam buku yang mengupas perkembangan dan sejarah Islam di Nusantara. Padahal Wali Songo dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di pulau Jawa bahkan nusantara.

Menurutnya, hal itu begitu tampak ada upaya sistematis menghapus jejak Wali Songo sebagai penyebar Islam. Hal yang serupa pernah terjadi pada muassis NU Hadrotussyaikh KH Hasyim As’ary dalam buku Kamus Sejarah Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Diceritakan, jauh sebelum 2009, berbekal biaya seadanya, ia mendatangi sejumlah makam Wali Songo untuk meneliti secara arkeologis melalui prasasti dan situs purbakala. Ia mulai mengumpulkan tulisan tulisan, catatan-catatan, historiografi lokal bahkan cerita para dhuriyah, sanak keluarga dan terutama masyarakat sekitar makom para wali songo, petilasan-petilasan, di Jawa, Cirebon dan Banten, di samping dari berbagai sumber baik asal Portugis, Belanda maupun China.

Berdasar penelusurannya, Islam berkembang di Nusantara melalui saudagar Arab mulai 674 masehi. Namun, pemeluk agama Islam saat itu hanya saudagar Arab dan Cina, belum ada penduduk pribumi yang memeluk Islam. Pada 1292 ekspedisi Marcopolo di pesisir Malaka menemukan tiga kelompok penduduk. Yakni keturuan Cina beragama Islam, keturunan Arab beragama Islam dan penduduk pribumi yang menyembah roh, batu dan pohon.

Laksamana Cheng Ho berlabuh ke Pulau Jawa pada 1405 hingga 1433 juga menemukan tiga kelompok penduduk yang sama dengan Marcopolo. Sedangkan warga pribumi terlihat kotor, menyembah berhala dan batu. “Islam belum diterima besar-besaran oleh penduduk pribumi,” ujarnya.

Jadul Maula Ketua PB Pesbumi NU
Ketua PB Lesbumi NU, KH. M. Jadul Maula memberikan sambutan pada peringatan 40 Hari Wafatnya K Ng H Agus Sunyoto

Pada 1440 Sunan Ampel datang ke Jawa. Menyebarkan agama Islam mulai metode pendekatan sufistik dan kultural masyarakat setempat. Sunan Ampel melihat jejak agama tauhid yang tersisa di Jawa, yakni agama Kapitayan. Yakni agama yang memuja Dewa tertinggi Sang Hyang Taya artinya kosong atau tak terdefinisikan.

Melalui pendekatan agama Kapitayan Sunan Ampel menyebarkan agama Islam. Termasuk menggunakan istilah yang digunakan agama Kapitayan. Seperti menggunakan sembahyang untuk beribadah. Pemuka Kapitayan menggunakan tempat ibadah yang sanggar berupa bangunan segi empat beratap tumpang tiga. Setelah masuk Islam tempat ibadah disebut langgar. “Untuk memanggil orang sembahyang menggunakan bedug,” katanya.

Metode pendidikan agama Islam pun menggunakan pendekatan Kapitayan. Yakni mendirikan pesantren yang mengadopsi padepokan tempat mendidik calon pemuka agama Kapitayan. Islam berkembang pesat karena banyak penduduk pribumi adalah penganut Kapitayan. Sedangkan Hindu dan Buddha hanya dianut anggota kerajaan. Sebab saat itu penduduk pribumi tak mengenal nama dewa-dewa dari Hindu, maupun Buddha.

Penyebaran agama Islam tak dilakukan sendirian oleh Sunan Ampel. Pada 1470-an dibentuk Wali Songo yang terdiri dari para sunan yang terikat kekerabatan. Seperti Sunan Bonang dan Sunan Drajat merupakan anak Sunan Ampel, Sunan Giri adalah menantu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati besan Raden Patah (menantu Sunan Ampel), Sunan Kali Jaga adalah keponakan istri Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Syaikh Siti jenar. Jadi semua masih ada ikatan keluarga.

Syaikh Siti Jenar dan Lemah Abang

Jika para sunan berdakwah dengan menetap di suatu tempat Syaikh Siti Jenar memilih mengembara. Serta berbeda dalam gerakan sosialnya dengan mendirikan komunitas lemah abang. Gerakan sosial Syaikh Siti Jenar memuncak dengan menolak pajak dan menentang menghadap raja dengan membungkuk dan menyembah.

Gerakan sosial ini menganggu sistem kekuasaan Demak. Puncaknya konflik terjadi setelah Sunan Ampel dan Bonang Giri wafat. Pangeran Sunan Dalem putra Sunan Giri mengeluarkan pernyataan kepada Sultan Trenggono jika Syaikh Siti Jenar ingkar terhadap kekuasaan manusia tapi orang yang beriman kepada Allah.

Selama ini, cerita Syaikh Siti Jenar menggunakan sumber serat Jenar yang ditulis Raden Panji Noto Roto. Sedangkan Serat Jenar menggunakan sumber dari Babad Demak versi kerajaan Demak. Maka tak pelak Syaikh Siti Jenar nyaris menjadi mitos atau legenda yang digambarkan berasal dari cacing.

Untuk menulis cerita Syaikh Siti Jenar, Agus Sunyoto mengambil sumber dari Cirebon. Ia bertemu dengan sejarawan Cirebon almarhum PD Sujana yang memiliki pengetahuan bahasa Jawa Kuno dan menulis ulang berbagai naskah kuno termasuk cerita Syaikh Siti Jenar. Menurutnya, cerita yang berdasrkan catatan itu lebih masuk akal. Syaikh Diceritakan bahwa Siti Jenar merupakan anak ulama Malaka bernama Syaikh Datuk Soleh.

Sementara tokoh Raden  Patah, meski bukan bagian dari Wali Songo namun berkontribusi dalam perkembangan Islam di Jawa melalui pengaruh kekuasaannya di Kerajaan Demak. Raden Patah hidup sejaman dengan Wali Songo. dan Sunan Kalijaga mengembangkan dakwah melalui wayang.

Sedangkan Syeikh Maulana Malik Ibrahim menurut Agus Sunyoto tak hidup dalam masa Wali Songo. Karena di makamnya tertulis wafat pada 1419, jauh sebelum Wali Songo terbentuk. Ulama Islam ini diakui Agus sebagai penyebar agama Islam sehingga dimasukkan dalam penyebar Islam pra Wali Songo.

Pasalnya, masyarakat rancu antara Maulana Malik Ibarahim dengan Ibrahim Samarkondi bapaknya Sunan Ampel.

Agama Islam menyebar dengan pendekatan kultural. Gerakan dakwah Wali Songo melalui pendekatan kultural terbukti efektif. Menurut catatan Tome Pires seorang Portugis yang datang ke pantai selatan Jawa pada 1515 menyebutkan pesisir selatan Jawa dipimpin Adipati Muslim.

Demikian geniusnya para wali songo dalam ajaran dan dakwahnya melalui jalan kultural, pasalnya, dalam lintasan sejarah dan waktu diceritakan bahwa selama 800 tahun sulit mengislamkan penduduk pribumi, tapi Wali Songo selama 85 tahun berhasil menyebarkan Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

15 + 2 =

Back to top button