Seni Budaya

Diskusi Sastra, Bincang Buku “Baju Baju Yang Tertinggal”

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kroya menggelar diskusi sastra, bincang buku “Baju Baju Yang Tertinggal” karya Fahrur Rozi, Dian Sophya JR, dan Bryna Fakhrina Rachmaniyya dan buka bersama.

Bertempat di Aula Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya pada Jumat, 7 Mei 2020 lalu. Diskusi sastra ini sebagai sarana menumbuhkan kembali minat membaca dan menulis pelajar Kroya dan pengisi kegiatan di bulan Ramadhan selain acara keagamaan.

Fahrur Rozi dan Bryna Fakhrina Rachmaniyya sebagai penulis dan juga Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap, Badrudin Emce hadir sebagai narasumber dalam bincang buku kali ini.

Dipandu oleh moderator, Shevilla Dewi Pramudita yang juga Ketua PAC IPPNU Kroya. Peserta pada diskusi ini merupakan anggota IPNU IPPNU Kroya serta santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya.

Buku tersebut berawal dari kumpulan puisi yang ada di media sosial facebook milik Fahrur Rozi sejak tahun 2016 sampai 2020, serta sajak-sajak milik kedua putrinya, Dian dan Bryna yang kemudian dibukukan dan diterbitkan.

Beragam lokasi penulisan puisinya, dari lokal hingga interlokal, dari Kroya hingga di Benua Eropa. Tujuannya menulis sebagai penyampaian Islam rahmatan lil ‘alamin.

Baju Baju Yang Tertinggal
Pengurus dan Anggota Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kroya mngikuti diskusi sastra, bincang buku “Baju Baju Yang Tertinggal” karya Fahrur Rozi, Dian Sophya JR, dan Bryna Fakhrina Rachmaniyya

“Baju-Baju Yang Tertinggal” diambil dari salah satu judul yang ada di dalam buku tersebut, menggambarkan proses perjalanan manusia di sepanjang hidupnya. Menjadi bagian penting yang mewakili tulisan tentang penghambaan dan perjalanan hidup yang entah kemana akan berpijak.

Pengalaman bapak anak ini selama kurang lebih dua pekan mengunjungi kota-kota di Benua Eropa, seperti Bruxelles di Belgia, Berlin dan Potsdam di Jerman, Granada dan Cordoba di Spanyol, dan kembali ke Prancis melalui Marseile tertuang dalam puisi-puisi dalam buku ini.

Baca Juga : Renungan Puisi dan Daya Kreativitas Hadapi Pandemi

Sebagian baju putrinya yang tertinggal di Prancis, yang mungkin disengaja dengan doa suatu saat bisa datang lagi. Menjadi lebih dalam maknanya ketika pulang, datang dan pergi memiliki satu makna, semuanya bermuara pada Ilahi. Gabungan dari persoalan teologis dan ungkapan kecintaan.

Sementara itu sajak-sajak Dian dan Bryna ditulis saat keduanya nyantri dan bersekolah di Pesantren An Nur Ngrukem Bantul Yogyakarta. Tentu puisi mereka masih kental dengan romantisme remaja yang polos dan lugu.

Badrudin Emce menceritakan tumbuh kembangnya sastra di Kroya sejak tahun 80-an. Pada masa itu sudah mulai menggeliat dengan banyaknya lomba baca puisi.

“Ansor Basuki, penggerak di bidang literasi di Kroya yang kemudian mengundang penulis dari luar Cilacap. Berkahnya, tumbuh semangat mengembangkan tulis menulis di Kroya. Karena sejatinya melanggengkan sesuatu butuh komitmen dan kerja keras.” tuturnya.

Kemudian menjadi penting diketahui oleh generasi muda, bagaimana sejarah masa lalu yang ada di Kroya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada penulis, bapak anak ini yang mampu menerbitkan buku kumpulan puisi, khususnya kepada Dian dan Bryna yang dalam usia muda sudah mampu menulis puisi sebaik ini.

Menulis menjadi kebebasan dalam mengungkapkan pesan, setiap penulis tentunya memiliki gaya khas menulisnya masing-masing. Menulis juga mengandung fungsi jurnalisme, namun tidak lengkap.

Badrudin menilai puisi karya Rozi ini erat dengan latar belakangnya sebagai santri, sebagaimana tertuang dalam puisinya. Apabila penyair eropa menggambarkan salju dengan cara yang romantis, maka Rozi menceritakan salju dengan gaya khas santrinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

14 + 14 =

Back to top button