BeritaSeni Budaya

Salahkah Dengan Hujan Di Bulan Juni? (Puisi Penanda Peristiwa)

Puisi Hujan Bulan Juni menjadi salah satu karya terbaik yang digubah oleh Sapardi Djoko Damono (SDD). Puisi karya SDD banyak mengambil simbol alam, menggambarkan alam sebagai sesuatu yang hidup dan memiliki perasaan layaknya manusia.

Beberapa tajuk antologi buku puisi karya Sapardi Djoko Damono (SDD) di antaranya adalah Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), dan lain-lain.

Sang maestro Sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono (SDD) memang telah pergi di usia 80 tahun pada Ahad, 19 Juli 2020  tahun lalu, hingga kini puisi maupun sajak-sajaknya termasuk Hujan Bulan Juni masih tetap hidup.

Puisi atau sajak-sajaknya tetap manis dan syahdu dibaca, dinyanyikan hingga diperdengarkan. Apalagi di pertengahan tahun 2021 ini, sajaknya ini menemukan momentumnya kembali.

Sajaknya benar-benar seperti mengulang di masa tahun 1989 ketika anomali cuaca bermula terjadi dan menginspirasi SDD menulis sajaknya ini.  Yah, kini di Bulan yang harusnya kemarau, justru frekuensi hujan yang tinggi termasuk di Cilacap, Banyumas Raya bahkan Jawa Negeri tropis ini.

Puisi Hujan Bulan Juni

Berikut adalah Puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono:

Puisi Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

— Sapardi Djoko Damono

Orang boleh menafsir dengan berbagai sudut pandang, secara tekstual, kontekstual, metafor hingga lainnya terhadap sajak Sapardi. Namun demikian dari kata atau diksi sederhana yang dianggit tak sederhana, sajak ini menemukan romantisme tersendiri. Apalagi sajak ini sangat pas disantap sebagai camilan bagi mereka yang dimabuk asmara.

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni.
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Dalam hujan bulan Juni, kalau boleh menafsir ada rindu yang malu-malu diungkapkan lelaki kepada perempuan. Sebagaimana Majnun yang rela meratap pada tembok rumah Layla, demi menyalurkan rasa rindunya. Demi mengurangi rasa keinginannya untuk bertemu.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejek-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Selanjutnya dalam paragraf ini, Sapardi bicara soal jejak yang dihapuskan hujan. Hujan rela menyiram jalan di Bulan Masehi ke-6  yang lebih akrab sebagai Bulan Musim Kemarau mulai datang. Ia rela menghapus debu hingga meruakkan bau tanah basah. Namun setelah itu ia pergi begitu saja.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Hujan sebagai rahmat Tuhan, memang turun dengan sederhana. Ia hanya datang pamit lewat mendung awan, meski berawan tak berarti hujan. Namun awan telah menjadi penanda kedatangan hujan pada umumnya. Hujan dengan setia membagikan basah kepada setiap makhluk dan alam semesta. Ia dengan setiap melesak rela masuk ke dalam akar pohon yang berbunga ataupun tak.

Ia tak pilih kasih, ia hanya ditugaskan untuk turun ke bumi atau laut. Ke bumi bagaimanapun kondisinya. Melesak pada tanah yang berpohon atau yang berongga tanpa penyangga. Lalu kemudian hujan mau tak mau selalu dituduh menjad pemicu musibah. Namun salahkah hujan apalagi Hujan di Bulan Juni?

Puisi Penanda Peristiwa

Hujan Bulan Juni puisi legendaris karya sastrawan terkemuka Indonesia, almarhum Sapardi Djoko Damono (SDD) sebagimana tersebut di atas, puisi memiliki nilai penting, puisi sebagai bagian ilmu pengetahuan masa lalu, puisi sebagai data, penanda peristiwa sejarah yang langka. Barangkali maksud sang penyair SDD menulis puisi itu.

Puisi yang dianggit SDD pada tahun 1989, hujan bulan juni menemukan momentumnya kembali di tahun 2021.

Hujan Bulan Juni Guyur Banyumas Raya. Di wilayah Barlingcakebmas Hujan nyaris saban hari mengguyur dalam bulan Juni ini. Barlingcakebmas adalah wilayah Banyumas Raya (dikenal sebagai Sub. Kultur Bangsa Penginyongan). Barlingcakebmas merupakan singkatan dari nama Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Kebumen dan Banyumas.

Lantas, mengapa hujan masih mengguyur di bulan Juni ini? Badan Meteorologi Dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan atas fenomena alam berupa turunnya air dari langit di bulan yang identik dengan musim kemarau itu.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Rendi Krisnawan mengatakan, hal itu merupakan akibat dari fenomena dinamika atmosfer – laut yang cukup signifikan.

Ia mengatakan, wilayah Barlingcakebmas umum sudah mulai masuk musim kemarau sejak dasarian atau sepuluh hari ketiga bulan April 2021. Namun pihaknya mengamati, ada peningkatan curah hujan di pekan ini.

Siklus Gelombang Atmosfer

“Hujan masih mengguyur dalam bulan Juni ini karena dipicu oleh berasosiasinya beberapa fenomena dinamika atmosfer – laut yang cukup signifikan,” kata Rendi Krisnawan, Sabtu (26/6/2021).

Rendi mengatakan, hal itu memicu peningkatan curah hujan di wilayah itu. Ia merinci, faktor pemicu itu ditandai dengan menghangatnya suhu muka laut lokal di selatan Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Hal itu berkontribusi terhadap peningkatan uap air di atmosfer.

“Kemudian siklus gelombang atmosfer, yaitu gelombang Ekuatorial Rossby menunjukkan adanya aliran massa udara pemicu hujan di wilayah kita,” jelasnya.

Selanjutnya, menghangatnya suhu muka laut di wilayah Perairan Barat Sumatera, yakni Indek Dipole Mode Negatif dan memicu munculnya pusat tekanan rendah di perairan dekat Sumatera – Jawa. Hal itu mengakibatkan terjadinya pemusatan aktivitas awan konvektif.

Namun, pihaknya memperkirakan pada pertengahan bulan Juli 2021 nanti kondisi curah hujan akan kembali berkurang. Sebagaimana dilansir suarabanyumas.com, menurutnya hal tersebut seiring meluruhnya gelombang Ekuatorial Rossby.

“Akan tetapi masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan dan skala lokal di wilayah Barlingcakebmas,” kata dia.

Ia menambahkan, pihaknya akan memperbaharui informasi lagi jika anomali musim kemarau akan berpotensi terjadi dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Kontributor Susanto Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

ten − four =

Back to top button