Feature & Figur

Islam Aboge Banyumas Raya, Rayakan Idul Fitri Jumat Kliwon

Masyarakat Islam Aboge di Wilayah Banyumas Raya merayakan badha Idul Fitri, Jumat Kliwon (14/5), berdasarkan kalender Alif Rabu Wage (Aboge). Tradisi Lebaran berbeda dengan perhitungan yang ditetapkan pemerintah.

Perayaan Idulfitri ditandai dengan takbiran bersama anggota kasepuhan dan jamaah, pada Kamis (13/5) malam. Islam kejawen Kasepuhan Kalitanjung maupun trah Banakeling di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas Desa Kalikudi, Desa Adiraja, dan desa lainnya di Cilacap maupun Banyumas, Jawa Tengah

Nada gema takbir dikumandangkan menggunakan cengkok Jawa langgam Banyumasan. Meski dibatasi, dalam suasana pagebluk, masyarakat adat tetap menggelar tradisi Lebaran dengan prokes yang ada.

Adat dimulai dengan takbiran, lalu dilanjutkan halal bihalal yang berisi sungkeman, kepungan dan doa bersama.

Gema takbir yang diiringi, dipersaksikan keris dan tombak pusaka. Setelah itu halal bihalal, sungkeman, lalu selamatan memohon kepada gusti Allah Swt untuk keselamatan semua dimasa pagebluk dunia dan berdoa untuk para leluhur hingga Adam alaihissalam.

Artikel Terkait

Bagaimana Islam Aboge menetapkan Idul Fitri?

Perhitungan kalender Aboge, badha Idul Fitri yang jatuh pada Jumat Kliwon (14/5). Berbeda dengan perhitungan pemerintah, komunitas Islam kejawen di seluruh Banyumas Raya menggunakan kalender Aboge dalam menentukan waktu pelaksanaan tradisi Lebaran atau badha.

“Hitungannya itu menghindari hari Rabu Manis. Karena ada pantangan atau pamali. Dalam perhitungan tahun Hijriah yang menggunakan patokan Selasa Manis, suatu saat akan ditemukan hari Lebaran yang jatuh pada Rabu Manis. Sedangkan dengan perhitungan Rabu Wage, maka tidak akan ditemukan hari raya yang jatuh pada Rabu Manis,” tutur Ki Sumitro, Kiai Ageng Trah Banakeling Pekuncen.

Dalam kalender Aboge tahun 2021 ini merupakan tahun Jemakhir atau Jim Akhir. Maka perhitungan kalender Aboge dalam menentukan riyaya badha/lebaran/idul fitri sudah pasti karena merupakan siklus satu windu atau delapan tahun sekali. Maka dalam rumus metode penghitungan Aboge, tidak perlu lagi melihat hilal (bulan).

“Jadi 1 Syawal atau lebaran Idul Fitri tahun ini ditentukan dengan rumus Waljiro atau Syawal siji loro, yang artinya1 Syawal Aboge tiba pada hari kesatu pasaran kedua, setelah jatuhnya hari 1 Syura.” tambahnya

Seperti diketahui bahwa 1 Syura tahun Jim Akhir tiba pada Jumat Wage. Maka 1 Syawal tahun Jim Akhir ditetapkan Jumat Kliwon, atau secara nasional Jumat, 14 Mei 2021, selang sehari setelah ketetapan pemerintah.

“Kalau tahunnya ini berarti tahun Jim Akhir, kemarin itu Jumat Wage. Adapun riyaya badha berarti, Waljiro, satunya Jumat, duanya Wage, Kliwon. Jadi idulfitri tahun ini jatuh pada Jumat Kliwon,” pungkas Ki Sumitro.

Sungkeman atau Halal Bi Halal

Tradisi sungkeman (halal bi halal) saling memaafkan secara bergiliran, dimulai dari kyai paling muda kepada kyai tua. Tradisi ini tak hanya dilakukan antar sesama anggota kasepuhan. Tokoh masyarakat, kepala desa, beserta warga lainnya juga ikut serta.

Dilanjutkan pencucian pusaka di rumah adat. Khusus untuk pencucian pusaka ini, hanya petugas penjamas serta Kyai Kunci yang boleh memasuki ruang penyimpanan pusaka.

Ketua adat kasepuhan kalitanjung, Rawalo, Banyumas, Muharto menafsirkan seperti dilansir gatra.com adapun pusaka pusaka tersebut merupakan peninggalan leluhur.

“Tombak pusaka Kalitanjung merupalan peninggalam masa kerajaan Mataram kiranya tahun 1476 Masehi. Dimana disaat itu, Jawa terjadi pergolakan. Raja Mataram sedang diburu oleh Belanda dan menitipkan pusakanya di Kalitanjung Tambaknegara yang kala itu disebut Kadipaten Bonjok.” terangnya.

Baca Artikel Terkait:

Kepala Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Sulam mengatakan, desa yang konon desa tertua di wilayah Kabupaten Banyumas. Desa yang tak hanya menawarkan adat istiadat, kerifan lokal tapi segudang ilmu tentang seni budaya.

“Sesepuh adat yang tergabung dalam Kasepuhan Adat Kalitanjung, beranggotakan warga setempat yang usianya rata-rata 76 tahun. Kalau paling tua ada yang lebih dari 100 tahun. Tradisi seperti ini (lebaran) sudah ada sejak saya masih kecil,” kata dia.

Wakil ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi NU) Cilacap, Insan Indah Pribadi mengatakan, tradisi masyarakat Islam Aboge di Banyumas Raya sudah berlangsung lama disamping menjaga ajaran leluhur mereka mengetengahkan adat istiadat sebagai diplomasi budaya dalam tantangan global.

“Tidak hanya terkait nilai spritual kepercayaan, tapi juga kekayaan dan kedalam nilai seni, kebudayaan tradisionalnya. Laku lampah masyarakat adat di Banyumas Raya ini pertanda sejarah adiluhung jawa masa kuna. Uniknya tak mudah untuk menjadi Kyai, atau Nyai atau Eyang Guru bahkan bedogol. Mereka harus benar-benar teruji secara keilmuan maupun peribadatannya. Keunikan lainnya, dimasa pandemi segalanya dibatasi, pun saat Lebaran atau badha, melalui virtual, badha mereka rayakan, tidak hanya gema takbir, sungkeman, halal bihalal, jamasan pusaka tapi ada nilai budaya adiluhung yang mereka maksudkan yakni bermunajat kepada Allah Swt, disamping mengumpulkan balung pisah yang mambrah diantara anak putu mereka,” tuturnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twenty − twenty =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button