Feature & Figur

KH Saifuddin Zuhri, Sosok Di Balik Nama UIN SAIZU Purwokerto

KH Saifudin ZuhriKH Saifuddin Zuhri,  sosok di balik Nama UIN SAIZU Purwokerto, merupakan seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dia juga pernah menjadi Menteri Agama RI pada orde lama dan orde baru, jabatan tersebut pernah juga diduduki dilanjutkan oleh putranya, Lukman Hakim Saifuddin.

Pada periode kepemimpinannya sebagai Menteri Agama inilah, dunia pendidikan tinggi Islam berkembang pesat. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berkembang di sembilan provinsi, masing-masing memili¬ki cabang di kota kabupaten.

Untuk mengenang kiprah dan jasanya atas nama Pemerintah Indonesia, Presiden Joko Widodo, mengabadikan dan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 41 tahun 2021 tentang pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan nama Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri ( UIN SAIZU ) berlokasi di Purwokerto, Banyumas Jawa Tengah.

Sosok Prof. KH Saifuddin Zuhri – Sokaraja, Banyumas.

Adalah Saifuddin Zuhri lahir dari keluarga sederhana di Sokaraja, Banyumas, pada 1 Oktober 1919. Sang ayah, Haji Muhammad Zuhri berprofesi sebagai petani, sedangkan ibunya, Siti Saudatun adalah seorang pengrajin batik.

Diceritakan Saifuddin kecil menghabiskan masa tumbuh dewasa di daerah kelahirannya. Mengawali pendidikan dasar di sebuah madrasah. Ia juga rutin mengaji Alquran pada malam hari, membuat bekal ilmu agamanya kian kuat.

Pada usia kanak-kanak, Saifuddin disebut telah fasih membaca Alquran dan mengkhatamkan beberapa kitab. Ketika berusia 13 tahun, dia sudah mengkhatamkan kitab Safinah, Qathrul Ghaits, Jurumiyah, dan kitab kuning lainnya.

Jelang remaja, Saifuddin mengembara ke Kota Solo, Jawa Tengah. Disana ia menimba ilmu sembari mencari penghidupan sebagai pelayan di sebuah toko. Bakat menulis yang ia miliki, menolongnya masuk sebagai staf koresponden pada sebuah surat kabar Pemandangan.

Selain berprofesi sebagai wartawan surat kabar, ia juga menjadi guru madrasah demi menyambung hidup dan membiayai pendidikannya.

Saifuddin kemudian memutuskan untuk bergabung dalam organisasi kepemudaan, saat kondisi sosial politik saat itu mulai bergolak.

Pemuda gigih ini melewati di mana kondisi negeri mengahadapi masa masa keprihatinan yang menuntut dirinya tidak diam, turut andil, maka memasuki pergerakan pemuda dalam tempaan zaman pergolakan bersenjata dan pergerakan politik.

Baca Artikel Terkait:

Pada usia 19 tahun ia dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan, dan Konsul Nahdlatul ‘Ulama Daerah Kedu merangkap Guru Madrasah. Berbarengan dengan itu ia aktif dalam dunia kewartawanan, menjadi koresponden kantor berita Antara (kini Lembaga Kantor Berita Nasional Antara) dan beberapa harian dan majalah.

Saat gerakan revolusi bersenjata bergejolak, ia diangkat sebagai Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah.

Dia pun memimpin laskar Hizbullah bersama-sama pasukan TKR di bawah pimpinan pahlawan nasional Jenderal Soedirman, yang kala itu masih berpangkat kolonel. Bersama berbagai pasukan kelasykaran rakyat lainnya ikut pertempuran Ambarawa (yang terkenal dengan peristiwa Palagan Ambarawa) itu dan berhasil mengusir penjajah.

Kelak setelah bertahun-tahun menyicip kemerdekaan, jasa perjuangan yang dilakukan Saifuddin diganjar bintang jasa Tanda Kehormatan Bintang Gerilya, sesuai dengan SK Presiden Republik Indonesia No. 2/Btk/1965 tanggal 4 Januari 1965.

*

Pada usia 35 tahun K.H. Saifuddin Zuhri menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merangkap Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara.

Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun, lalu mengangkatnya menjadi Menteri Agama ketika berusia 43 tahun.

Kisah pengangkatannya sebagai Menteri Agama, pada tanggal 17 Februari 1962, tepat pada hari Jum’at, ia diminta menghadap ke Istana Merdeka. Banyak teka-teki memenuhi benaknya ketika dia memenuhi panggilan Bung Karno. Apakah karena urusan DPR atau DPA? Apa urusan NU? Atau surat kabar Duta Masyarakat? Ternyata dalam pertemuan itu Bung Karno minta KH Saifuddin Zuhri agar menjadi Menteri Agama, menggantikan KH Wahib Wahab yang merupakan putra dari KH Wahab Hasbulloh.

KH Saifuddin Zuhri merupakan seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Berdasarkan data ensikloped NU, KH Saifuddin Zuhri, dalam sejarah aktivitasnya turut menginisasi cikal bakal Lembaga Dakwah NU telah dimulai pada akhir masa penjajahan Belanda atau antara tahun 1930 hingga 1940-an

Dia juga pernah menjadi Menteri Agama RI pada orde lama dan orde baru, jabatan tersebut pernah juga diduduki dilanjutkan oleh putranya, Lukman Hakim Saifuddin.

Untuk mengenang kiprah dan jasanya, atasnama Pemerintah Indonesia, Presiden Joko Widodo, mengabadikan, dan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 41 tahun 2021 tentang pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan nama Universitas Islam Negeri  (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) — UIN SAIZU Purwokerto– berlokasi di Purwokerto, Banyumas Jawa Tengah.

Pewarta : Imam Hamidi Antasalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fifteen − 7 =

Back to top button