Pendidikan Agama Islam Membangun Karakter Sejak Dini

Bagaimana peran pendidikan Agama Islam dalam membangun karakter (character building) manusia sejak dini? Artikel Pendidikan Agama Islam Membangun Karakter Sejak Dini berikut ini, menguraikannya secara lengkap.

Di dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai perilaku-perilaku yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang menjurus pada perilaku yang bertentangan dengan nilai, tatanan dan norma yang berlaku dalam masyarakat bahkan bertentangan dengan ajaran agama.

Anak didik berani menunjukan sikap menentang kepada guru, sudah menjadi hal yang lumrah. Padahal Pendidikan Agama sudah diberikan dari sejak dini kepada anak-anak mulai dari sejak TK, SD, SMP, SMA sampai di tingkat Perguruan Tinggi.

Melihat kenyataan ini tentunya kita bertanya-tanya, kenapa hal itu terjadi? Apakah Pendidikan Agama di sekolah-sekolah sudah tidak bisa lagi menjadi penjaga akhlak murid-muridnya?

Sudah saatnya seorang guru atau pendidik, khususnya guru PAI di sekolah, dengan tugas pokok dan fungsinya menanamkan akhlak anak didiknya melalui pembelajaran PAI yang berorientasi kepada pembangunan karakter yang kuat untuk membekalinya menjadi orang yang bermartabat dan terhormat nantinya.

Para Guru Pendidikan Agama Islam perlu dan penting untuk memperhatikan proses Membangun Karakter Sejak Dini, sejak dari keluarganya masing-masing.

Pengertian Character Building

Character Building berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata, yaitu character dan Building. Character  berarti sifat, watak, karakter. Sedangkan building mempunyai makna membangun, mendirikan.

Kata Karakter juga berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “to mark”yang mempunyai makna  menandai dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai dan kebaikan dalam bentuk tindakan dan tingkah laku.  Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berkarakter jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.

Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang, di mana seseorang bisa dikatakan orang yang berkarakter  jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Dengan demikian,

yang dimaksud dengan Character Building adalah membangun watak, karakter, tabiat, sifat atau akhlak dan budi pekerti yang membedakan antara satu individu dengan individu yang lain dalam pergaulan di masyarakat, yang dilakukan oleh seorang pendidik kepada anak didik melalui proses pembelajaran.

Proses pembelajaran kepada anak didik akan lebih baik jika dimulai bersamaan dengan ikhtiar membentuk karakter sejak dini, sejak usia dini, sejak sebelum masuk jenjang pendidikan formal.

Tujuan pendidikan Islam

Membangun Karakter melalui pendidikan Islam memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar – salah. Tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan ( habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak didik mempunyai kesadaran dan pemahaman yang tinggi serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan dari pendidikan Islam adalah tercapainya beberapa kompetensi dan beberapa kemampuan yang tertanam dalam diri anak didik. Diantaranya adalah tercapainya kecakapan jasmaniyah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani dan rohani dan lain-lain yang mengarah kepada pembentukan karakter dan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

Melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang panjang ( long life education ), tujuan pendidikan Islam mengerucut terhadap terbentuknya kepribadian dan karakter yang semua aspek tersebut direalisasikan dan diwujudkan dengan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

Aspek-aspek karakter dan kepribadian tersebut antara lain,

pertama aspek-aspek jasmaniyah yang meliputi perilaku dan sikap luar yang mudah dilihat dari luar seperti, cara bicara, cara berbuat dll. Kedua adalah aspek kejiwaan yang meliputi cara berpikir, sikap,  dan minat.

Ketiga aspek-aspek kerohanian yang luhur yang meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak, yaitu filsafat hidup dan keyakinan. Ini mencakup sistem nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kepribadian individu yang berorientasi tidak saja pada kehidupan di dunia tetapi juga terhadap kehidupan di akhirat.

Aspek-aspek inilah yang mempengaruhi kualitas kepribadian individu secara keseluruhan, yang akan membentuk insan kamil, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang tercermin di semua lini kehidupan.

Menanamkan aspek-aspek tersebut sejak dini, dapat digolongkan sebagai ikhtiar membentuk karakter sejak dini. Mengapa harus sejak dini? Karena membangun karakter merupakan tanggungjawab bersama. Dalam Keluarga Muslim, ia menjadi tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya.

Character Building, tanggung jawab bersama

Era globalisasi, yang sekarang sedang dirasakan oleh bangsa Indonesia sangat berpengaruh terhadap pembentukan watak, tabiat, akhlak dan karakter anak didik.

Globalisasi dapat diartikan sebagai proses saling berhubungan yang mendunia antar individu, bangsa dan Negara serta berbagai organisasi kemasyarakatan terutama perusahaan. Proses ini dibantu dengan berbagai alat komunikasi dan transportasi yang berteknologi tinggi, canggih dan dibarengi dengan kekuatan politik dan ekonomi serta kekuatan nilai-nilai sosial budaya yang saling mempengaruhi.

Arus globalisasi paling tidak mempunyai dua dampak terhadap kehidupan bermasyarakat di Indonesia, yaitu dampak positif dan dampak negatif.

Dampak positif dari arus globalisasi diantaranya adalah dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir cosmopolitan dan pola tindak kompetitif, suka bekerja keras, mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja.

Baca Juga : Pendidikan Karakter Untuk Meredam Radikalisme Pelajar

Sedangkan dampak negatife dari arus globalisasi diantaranya adalah munculnya perilaku konsumtif, maraknya konflik sosial, adanya tindakan-tindakan kriminal, perilaku yang eksklusif dan primordial.

Paradigma baru pendidikan yang integral

Untuk mengantisipasi lebih meluasnya dampak negatif dari arus globalisasi inilah kiranya perlu adanya rumusan dan konsep serta paradigma baru pendidikan yang integral dan mampu menjawab tantangan-tantangan yang dibutuhkan oleh masyarakat luas yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan pendidikan di Indonesia.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan berprinsip kepada, pertama, partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan, kedua demokratisasi proses pendidikan, ketiga sumber daya pendidikan yang profesional, keempat sumber daya penunjang yang memadai, dan yang kelima membangun pendidikan yang berorientasi kepada kualitas individu berbasis karakter.

Paradigma baru Pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan  tidak lagi dibebankan kepada sekolah tetapi merupakan tanggung jawab bersama dengan melibatkan masyarakat, dalam arti sekolah dan masyarakat bekerja sama untuk bersama-sema meningkatkan mutu pendidikan.

Dalam paradigma baru pendidikan ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap terhadap pendidikan ditantang untuk menjadi penanggung jawab pendidikan.

Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang operasional sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat di tantang dan dilibatkan untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan karena banyak kendala yang mempengaruhinya, antara lain pertama bagi masyarakat ini adalah hal yang baru sehingga perlu proses sosialisasi, kedua bagi masyarakat yang tinggal di kota besar yang tingkat pendidikan dan ekonominya relatif lebih baik tidaklah sulit menyeleksi orang-orang yang duduk dalam tanggung jawab ini, ketiga bagi masyarakat desa akan menemui kesulitan karena tingkat pendidikan dan ekonominya relatif rendah.

Penguat pendidikan: sekolah, rumah dan masyarakat

Ada tiga tempat sebagai basis kekuatan pendidikan, yaitu sekolah, rumah dan masyarakat. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah sebagai tempat tinggal seseorang, yang meliputi ayah, ibu dan anak yang merupakan tempat atau madrasah pertama bagi anak dalam membentuk karakter, kepribadian dan mendapatkan ilmu sebelum sang anak mendapatkanya di luar.

Lembaga pendidikan sekolah adalah sekolah dengan berbagai macam tingkat dan jenis yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta yang bertujuan untuk menyalurkan bakat minat dan keterampilan serta membantu mengarahkan dan membentuk karakter anak didik agar menjadi anak yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang luhur.

Adapun lembaga pendidikan yang berlaku di masyarakat adalah di lembaga-lembaga masyarakat, seperti koperasi, penjara, kepolisian, pengadilan, organisasi politik, berbagai lembaga swadaya masyarakat dan lingkungan masyarakat yang berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter bangsa.

Keluarga Muslim, Penentu Keberhasilan Pendidikan Karakter 

Keluarga Muslim yang berkarakter adalah pilar yang pertama dan utama yang dapat membangun pendidikan dan pembelajaran, sebelum lembaga pendidikan formal dan non formal ( sekolah dan masyarakat ). Bahkan mungkin lebih sangat berperan dalam pembentukan akhlak, mental dan karakter seorang anak, hingga karakter keluarga muslim itu sendiri terbentuk menyeluruh.

Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila tumbuh dalam lingkungan keluarga muslim yang berkarakter Islami, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal.

Bagi seorang anak, keluarga muslim,– di mana nilai-nilai keislaman sebagai pilar kehidupannya– merupakan tempat yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya, keluarga berfungsi sebagai sarana mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan dan potensi seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera.

Kegagalan dalam keluarga dalam mendidik dan membina anak, akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalannya.

Keberhasilan keluarga Muslim dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan ( karakter ) sangat bergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua pada anaknya. Pola interaksi antara anak dan orang tua meliputi pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, minum dll, dan kebutuhan psikologis seperti rasa aman, kasih sayang, serta sosialisasi  norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.

Krisis karakter di berbagai bidang

Pada proses interaksi inilah waktu yang sangat tepat sekali untuk menanamkan pendidikan agama Islam dalam keluarga, memperkenalkan nilai-nilai agama Islam, memperkenalkan nama-nama Allah SWT, utusan-utusan-Nya, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan ketentuan-ketentuan agama Islam yang lain serta menanamkan karakter dan kepribadian melalui keteladanan-keteladanan yang dilakukan oleh orang tua yang berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Islam.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dijadikan landasan. Pertama adanya krisis kepercayaan dan keteladanan yang semakin parah di masyarakat. Ini ditandai dengan adanya tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar serta pejabat Negara yang melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma, nilai, aturan dan hukum, yang seharusnya para tokoh dan pejabat itu menjadi suri tauladan dan keteladanan bagi masyarakat luas.

Yang kedua masyarakat semakin jauh meninggalkan budaya bangsa yang adiluhung karena sudah terkontaminasi dengan teknologi, informasi dan komunikasi yang semakin sangat canggih dan tidak dapat dibendung arus derasnya. Dunia yang sudah mengglobal menyebabkan kehidupan semakin individualis, egois dan skeptic yang menyebabkan kehidupan dalam masyarakat menjadi semakin tercerabut dari akar budayanya.

Yang ketiga rusaknya sistem dan pola serta politik pendidikan, kerusakan ini diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan orang tua, luputnya tanggung jawab institusi, tidak pedulinya lingkungan masyarakat, impotensi di kalangan tokoh dan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis dan profesi guru dilecehkan.

Baca Juga : Pendidikan Karakter Dalam Pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim

Keempat adalah menjauhnya masyarakat dari nilai-nilai dan ajaran-ajaran agama Islam. Agama sekarang hanya sekedar menjadi legalitas kepentingan pribadi dan golongan.  Masyarakat semakin bangga ketika melakukan kejahatan dan kesalahan ajaran agama hanya sekedar menjadi penjaga akhlak di pojok-pojok masjid dan lorong-lorong mushalla.

Pendidikan Agama Islam sebagai solusi

Melihat fenomena dan persoalan di atas perlu adanya langkah-langkah strategis agar tujuan dapat tercapai. Pendidikan Agama Islam sebagai solusi krisis karakter. Pendidikan Islam agar menjadi landasan dan pijakan dalam membentuk karakter dan kepribadian dalam masyarakat, diantaranya adalah :

Pertama, Kita semuanya hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak didik dan bagi masyarakat luas. Mengawali dari diri kita sendiri untuk berbuat yang bermanfaat bagi orang lain dengan memberikan nasihat dan teladan, walaupun ini sulit dilaksanakan,

Kedua, Mengaktualisasi kembali nilai-nilai dan norma yang bersumber dari budaya bangsa yang adiluhung, dengan mengadakan penyadaran-penyadaran terhadap masyarakat, menyaring setiap budaya asing yang masuk agar tidak menjadi trend dan rujukan dalam bersikap terutama bagi para remaja,

Ketiga, Merumuskan ulang konsep global pendidikan bangsa serta kerja sama antar pihak terkait untuk mewujudkankannya agar tidak lagi terjadi ketidak pedulian dan saling lempar tanggung jawab dan politisasi pendidikan.

Dan keempat, Kembali kepada konsep pendidikan dan ajaran agama Islam, karena hanya dengan beginilah kita semuanya akan merasa aman dan nyaman tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Wallahu ‘A’lam bi Showwab.**

Demikian artikel Pendidikan Agama Islam Membangun Karakter Sejak Dini kiranya bisa menginspirasi untuk proses Membangun Karakter Sejak Dini di lingkungan keluarga kita.

Artikel Pendidikan Agama Islam Membangun Karakter Sejak Dini, ditulis oleh : Ahmad Marzuki, S.Ag, M.Pd, Wakil Sekretaris PCNU Cilacap. (Admin)

 

About admin

Admin Utama Situs Islam Aswaja: menghadirkan aktivitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap --juga Organisasi di tingkat bawahnya, termasuk Lembaga dan Badan Otonom NU-- secara Online. Salam Perjuangan untuk Pengkhidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya. Dan silahkan datang kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eight − one =