Seorang santri juga bisa jadi seniman, bisa menjalankan peran sebagai seniman. Tidak hanya nguri-uri budaya, tetapi juga mengembangkan karya seni di dalam lingkungan yang lebih luas. Harapan itu diungkapkan oleh budayawan Banyumas Ahmad Tohari dalam Sarasehan Budaya ”Nguri-uri Kesenian Santri: Pesantren, Seni dan Dinamisasi Masyarakat” yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Cabang Cilacap di Pesantren El-Firdaus, Desa Sidamulya, Kecamatan Sidareja, Cilacap, akhir pekan lalu.

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini mengungkapkan, pada era 1960-an para santri pernah menghasilkan karya-karya besar di bidang perfilman, sastra dan lain-lain. Dia berharap, dinamika di pesantren dan NU, dapat mampu menjadi rumah bagi para seniman santri. ”Selanjutnya, NU tidak hanya nguri-uri , tetapi juga mengembangkan kesenian santri yang pernah tumbuh sesuai dengan perkembangan jaman,” ucapnya dalam sarasehan yang dihadiri oleh Achmad Munjid (sastrawan, dosen UGM) dan Abdul Azis (pegiat NU Cilacap) ini.

Kegigihan Senada dengan Tohari, Achmad Munjid menandaskan, jika santri ingin berkarya dengan baik, para santri jangan gampang patah semangat. Baginya, kegigihan adalah karakter santri. ”Saat menghadapi masalah, seorang santri harus mampu menyiapkan strategi yang tepat dengan disiplin yang kuat,” tegasnya.

Achmad Munjid menyampaikan setelah sarasehan ini akan diagendakan peluncuran kumpulan cerita pendek karyanya yang berjudul Negeri di Balik Bulan . Buku ini diterbitkan oleh Lesbumi NU Cilacap yang bekerja sama dengan penerbit Era Baru Pressindo pada 2015. Selain sarasehan juga digelar pembacaan puisi dan cerpen oleh Abdulloh Amir, Muawanah, Nasruddin Mudaff, Jamaluddin Al-Bab, dan beberapa santri. Selain itu, pentas semalam suntuk grup seni Janenan Tanbihul Ghofilin dari Desa Sidasari, Kecamatan Cipari.

Follow, Share and Like:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
Google+
https://pcnucilacap.com/ahmad-tohari-santri-juga-bisa-jadi-seniman/