Sejarah Perayaan Idul Fitri. Inilah Makna, Dalil, dan Kisah Hikmah Hari Raya

NUCOM — Idulfitri atau lebaran merupakan hari raya terbesar umat Islam Indonesia bahkan dunia. Berikut ini Sejarah Perayaan Idul Fitri. Berdasarkan tinjauan historis, riwayat, makna, dalil, dan kisah hikmahnya Hari Raya.
Maka agar dapat merayakannya dengan lebih bermakna dan bijaksana, setiap muslim penting mengenali riwayatnya, asal usulnya. Inilah Kilasan Sejarah Perayaan Idul Fitri. Sejak Masa Hijrah Nabi Muhammad SAW, Sebelum, dan Hingga Kini.
Perayaan Lebaran merupakan hari raya yang sarat nilai dan penuh makna, karenanya kerap sebagai simbol Hari Kemenangan. Sebutan yang merujuk pada keberhasilan dari prosesi beribadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh.
Perang Badar
Dalam lintasan sejarah dan waktu, hari raya Idulfitri pertama kali dihelat pada tahun ke-2 Hijriah, yakni bertepatan dengan perayaan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar.
Selesainya perang badar bertepatan dengan tuntasnya pula puasa Ramadhan selama satu bulan penuh saat itu. Maka tak heran, usai perang yang sengit itu umat Islam merayakan kemenangan dengan penuh syukur dan suka cita.
Selain menang, para pejuang muslim, muhajirin maupun ansor juga berhasil beridabah puasa selama sebulan penuh.
Sejarah besar itulah kemudian menjadi tradisi perayaan kemenangan umat Islam seluruh dunia dalam perayaan Idulfitri hingga sampai saat ini.
17 Ramadhan Tahun Ke-2 Hijriyah
Perang Badar sendiri merupakan perang antara kaum muslimin melawan kaum kafir Quraisy.
Perang Badar terjadi pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriah. Waktu tersebut bertepatan dengan perayaan Idulfitri yang pertama kali.
Perang Badar sendiri dimulai pada 17 Ramadhan dan pasukan Rasulullah SAW berjumlah jauh lebih sedikit dibandingkan musuh.
Namun berkat perlindungan dan bantuan Allah SWT, Perang Badar bisa dimenangkan oleh Rasulullah SAW dan para pasukannya.
Menurut para ahli sejarah, tentara pasukan kaum muslimin dalam Perang Badar berjumlah 313 orang. Terdiri dari 77 orang Muhajirin dan 236 orang Ansor.
Ali bin Abi Thalib memegang Bendera dalam pasukan Muhajirin. Adapun Bendera pasukan Ansor dipegang oleh Sa’ad bin ‘Ubadah.
Sementara itu, jumlah tentara kaum musyrikin sebanyak 950-1000 orang, dipimpin oleh ‘Utbah bin Rabi’ah, dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan dan Abu Jahal.
Dalam pasukan mereka terdapat seratus ekor kuda, 700 ekor unta, dan sejumlah senjata yang tidak terbilang banyaknya.
Al Qur’an Surat Muhammad Ayat 7
Meskipun jumlah pasukan kaum muslimin tidak sebanyak kaum musyrikin, namun dengan pertolongan Allah mereka menang dalam perang itu. Sebagaimana Firman Allah yang terdapat dalam surat Muhammad ayat 7, yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ٧
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)”
Atas keyakinan tentang pertolongan Allah inilah kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan. Hal ini karena dalam penglihatan kaum musyrikin ketika perang berkecamuk jumlah kaum muslimin menjadi berlipat ganda, sehingga menimbulkan rasa takut musuh. Akhirnya mereka lari dari medan pertempuran. Demikian Allah menurunkan pertolongan kepada kaum muslimin.
Narmuz dan Mahrajan, Dua Hari Raya Orang Jahiliyah
Sejarah hari raya Idulfitri ini juga berkaitan dengan hari raya masyarakat Jahiliyah. Sebelum agama Islam datang, kaum Arab Jahiliyah merayakan dua hari raya yang sangat meriah.
Yakni Nairuz (Narmuz) dan Mahrajan. Dua hari raya atau hari besar yang dirayakan oleh masyarakat Arab Jahiliyah sebelum datangnya Islam.
Kedua perayaan ini diadopsi dari tradisi Persia dan sering kali dirayakan dengan pesta pora, kelalaian, dan hura-hura.
Sebuah hadis menyebutkan, Idulfitri yang dirayakan setiap tahun, tak lepas dari sejarah tradisi masyarakat Jahiliyah yang memiliki ‘kebiasaan khusus bermain’ dalam dua hari sebagaimana tersebut di atas.
Kemudian, setelah Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk menyebarkan Islam dan jalan kebenaran yang berasal dari Allah SWT, lalu tradisi tersebut berubah.
Idulfitri dan Idul Adha, Dua Hari Raya Islam
Dalam hal ini, Rasulullah SAW mengganti hari raya masyarakat jahiliyah menjadi perayaan yang lebih baik, yaitu dua hari raya Islam yakni Idulfitri dan Idul Adha.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud & an-Nasa’i)
Dan setelah turun kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah SAW mengganti perayaan tersebut menjadi Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang diperingati setiap tahun, hingga saat ini.
Kisah Hikmah Hari Raya
Kisah hikmah hari raya mengajarkan bahwa Idulfitri adalah momen kemenangan dari peperangan, yakni seperti perang badar, melawan hawa nafsu, menguatkan empati sosial yakni asah, asih, asuh, dan menyucikan diri melalui berbagi kasih dan cinta, bukan sekadar pakaian baru.
Kisah Rasulullah SAW yang merangkul hingga mengangkat anak yatim di hari raya menjadi teladan utama untuk peduli pada sesama.
Demikian pula kisah orang-orang saleh yang selalu bersabar, saling tolong menolong dalam takwa dan selalu bertawakal pada Allah SWT atas ujian yang menghampirinya, di antaranya seperti ujian kesempitan ekonomi menjelang perayaan hari raya, sehingga semua itu mencerminkan puncak keimanan.
Mereka meyakini bahwa rezeki diatur oleh Allah, dan hari raya bukanlah tentang kemewahan, melainkan ketakwaan. (IHA)
Baca juga: Kisah Haru Rasulullah SAW Mengangkat Anak Yatim Saat Hari Raya Idulfitri





